LANGIT7.ID-Jakarta; Sebuah desertasi menarik yang ditulis Fitriyani dalam desertasi doktornya menegaskan bahwa inovasi dalam pendidikan karakter siswa sekolah dasar melalui model pembelajaran Pendidikan Pancasila berbasis kognitif moral yang dipadukan dengan media Papan Garudaku ternyata sangat efektif.
"Model ini terbukti efektif karena bisa meningkatkan sikap toleransi sosial siswa kelas V SD, terutama di lingkungan sekolah sub-urban seperti Cikarang," demikian presentasi Fitriyani dalam mempertahankan desertasi doktornya yang berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Pancasila Berbasis Kognitif Moral Untuk Meningkatkan Sikap Toleransi Sosial Siswa Kelas V Sekolah Dasar" di Kampus Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta(UNJ), Rabu (30/7/2025).
Desertasi Fitriyani diuji oleh para tim penguji dari UNJ seperti Prof Dr Dedi Purwana ES,M.Bus, Prof Dr Yurniwati, M.Pd, Prof Dr Asep Supena M.Psi, Dr Nina Nurhasanah M.Pd, serta Prof Dr Sri Marmoah M.Pd dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
Dalam desertasi Fitriyani, model pembelajaran berbasis kognitif ini dirancang dengan menggabungkan tiga pendekatan pengembangan: Borgh and Gall, Dick & Carey, dan Rowntree. Tujuannya adalah mengembangkan sintaks pembelajaran yang terstruktur dalam lima tahap: identify moral issue, perspective exploration, cognitive analysis, moral decision making, dan reflection and evaluation. Untuk mendukung pembelajaran, disediakan pula buku panduan guru, bahan ajar, serta media interaktif Papan Garudaku.
![Model Pembelajaran Pancasila Berbasis Kognitif Berhasil Tingkatkan Toleransi Sosial Siswa SD]()
Evaluasi terhadap kelayakan model ini melibatkan berbagai ahli dan uji coba pengguna. Hasil validasi menunjukkan nilai sangat tinggi: 95% dari ahli desain instruksional, 86,5% dari ahli materi, 97,5% dari ahli media dan bahasa, serta 83,13%–87% dari ahli psikometri untuk aspek kognitif, moral, dan toleransi sosial.
Uji coba perorangan menghasilkan skor rata-rata 92%, uji kelompok kecil 90,44%, dan uji lapangan 86%. Penggunaan uji-t menunjukkan perbedaan signifikan antara nilai pre-test dan post-test (t = 17,163 > t-tabel 1,701) dengan nilai signifikansi < 0,05 dan N-Gain sebesar 0,81 (81%). Nilai ini menandakan peningkatan sikap toleransi sosial yang signifikan.
Dijelaskan Fitriyani, hasil penilaian juga menunjukkan tingkat penerimaan sangat baik terhadap pembelajaran ini. Skor aspek afektif dan sosial mencapai angka sempurna (5,0), mencerminkan kesiapan siswa menerima perbedaan dan menjalin interaksi sosial yang sehat. Aspek kognitif meraih nilai 4,3, sedangkan moral-etis berada di angka 3,7.
![Model Pembelajaran Pancasila Berbasis Kognitif Berhasil Tingkatkan Toleransi Sosial Siswa SD]()
Penelitian ini memberi implikasi luas bagi dunia pendidikan. Bagi siswa, model ini memperkuat keterampilan analisis dilema sosial dan menumbuhkan sikap empati. Bagi guru, pendekatan ini mendorong pembelajaran yang lebih interaktif dibanding metode ceramah konvensional. Sementara itu, orang tua terdorong untuk lebih aktif dalam pendidikan karakter anak melalui diskusi di rumah dan kolaborasi dengan sekolah.
Di tingkat sekolah, model ini, jelas Fitriyani, mendorong terciptanya lingkungan belajar inklusif dan menanamkan nilai toleransi dalam kegiatan harian. Penelitian ini juga menyarankan agar model ini dikembangkan lebih lanjut ke jenjang SMP dan SMA serta dikombinasikan dengan teknologi digital seperti game online atau augmented reality, agar siswa bisa mengakses pembelajaran secara fleksibel, termasuk dari rumah.
Model ini terbukti memiliki transferability tinggi. Pengalaman keberhasilannya di Cikarang membuka potensi penerapan di berbagai wilayah dengan dinamika serupa, seperti kawasan industri atau urban fringe. Dengan menyesuaikan konten dilema moral sesuai konteks lokal, model ini bisa diadaptasi di berbagai daerah di Indonesia(*/bil)
(lam)