LANGIT7.ID, Jakarta - Kehadiran teknologi digital membawa dampak pada pola pendidikan pesantren serta pola relasi antara pesantren dan masyarakat. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Informasi dan Teknologi (IT) Pondok Pesantren Al Haromain Muara Enim, Sumatera Selatan, Yasser Azka Ulil Albab.
Menurutnya, teknologi informasi bisa membuat santri efisien dalam belajar dan mengakses informasi yang lebih luas. Selain itu, dunia digital menjadi sarana baru dalam memperoleh dan menyampaikan ide gagasan serta pendapat keagamaan.
“Tapi, tidak sedikit juga yang mengantisipasi hadirnya media di pesantren, karena media digital juga memiliki dampak negatif,” kata Yasser dalam webinar bertajuk Aktualisasi Santri dalam Menyongsong Literasi Digital di TVNU, Senin (18/7/2022).
Di antara dampak negatif media digital di pondok pesantren adalah mempengaruhi pola interaksi dan belajar para santri. Itu berdampak pada hilangnya sopan santun murid kepada guru.
Baca Juga: Pesantren Kreatif iHAQi, Ajari Santri Hadapi Tantangan ZamanPengaruh lain, media digital bisa menghilangkan tradisi
muwajahah (tatap muka) dalam belajar, tradisi istimbat (mencari referensi) lewat kitab-kitab
turots akan digantikan dengan tradisi googling dan
face to screen (tradisi tatap layar).
Dampak negatif itu bisa diimbangi dengan menggalakkan literasi digital kepada santri. Ini menjadi tugas para pengasuh, mengingat perkembangan zaman terus berputar hanya dalam hitungan detik.
“Dampak negatif ini bisa diminimalisir dengan adanya kemampuan literasi digital,” ucap Yasser.
Dia menjelaskan, peran penting literasi digital adalah untuk memudahkan masyarakat meluruskan kesalahpahaman dalam mengakses berbagai informasi melalui platform media sosial.
“Di dunia digital beragam informasi bercampur dan tersebar ke publik, sehingga diperlukan keterampilan dan kejelian untuk bisa memilah dan memilihnya secara tepat dan efektif. Karenanya literasi digital masyarakat menjadi penting di era digitalisasi ini,” tutur Yasser.
Pada era digitalisasi berbagai informasi sangat mudah diproduksi dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Terlepas dari latar Belakang agama, sosial, ekonomi, politik, dan berbagai aspek lain.
Di sisi lain, fenomena banyak masyarakat terpapar informasi palsu (hoaks) pada era digital ini tentu memerlukan kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Salah satu hal terpenting dalam menghadapi peredaran hoaks di era
post-truth adalah meningkatkan literasi digital.
Baca Juga: Yenny Wahid Dirikan Pesantren Programmer di Sleman, Yogyakarta
“Nah, literasi digital harapannya adalah kita (masyarakat) membuka diri dan memahami setiap pendapat yang berbeda dengan pikiran yang jernih,” katanya.
Bahkan, pembahasan tentang pentingnya literasi digital yang marak di dunia digitalisasi saat ini banyak ditemukan dalam perspektif ajaran Islam. Dalam menerima informasi, umat Islam dianjurkan agar tidak serta-merta menelan mentah-mentah informasi tersebut, tanpa
tabayyun (klarifikasi) terhadap informasi terkait.
“Klarifikasi itu untuk mengontrol pola pikir kita agar tidak terjebak oleh informasi-informasi yang berseliweran di media digital,” pungkas Yasser.
(jqf)