LANGIT7.ID - Mantan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pesantren Maslakul Huda (PMH) Kajen Pati, Almarhum KH. MA Sahal Mahfudh, dalam satu kesempatan berpesan agar para santri tidak melupakan para guru atau ustadznya. Ini menjadi salah satu ciri khas pesantren dibanding lembaga formal. Para santri dididik agar menjadi manusia bermoral yang berkualitas tinggi.
Pendidikan dalam pesantren mengedepankan pembentukan karakter akhlak mulia sebagaimana tujuan Rasulullah SAW diutus. Jiwa dan raga para santri dilatih agar memiliki karakter serta keilmuan tertaut dalam bingkai ihsan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam pendidikan, menghormati guru adalah salah satu adab yang sangat ditekankan. Mengingat jasa keilmuan yang telah mereka ajarkan penuh dengan pengorbanan dan keikhlasan, sehingga melahirkan keberkahan. Maka menghormati guru adalah hal yang tak boleh tidak, wajib dilakukan oleh setiap santri.
"Santri jangan sampai lupa dengan guru-gurunya, setiap selesai shalat hendaknya mendoakan gurunya, minimal membacakan fatihah untuk beliau-beliau,” kata Kiai Sahal, dikutip dari Sanad Media, Senin (9/8/2021).
Kiai Sahal selalu mewanti-wanti para santri agar selalu mengingat guru, minimal mendoakan mereka usai shalat. Ini karena seorang guru sudah pasti mendoakan murid, maka demikian pula para santri, mendoakan guru adalah hal yang tak boleh terlupakan sampai kapanpun.
Pesan Kiai Sahal ini sejalan dengan KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang mencatat dua belas akhlak santri terhadap guru. Di antaranya seorang santri harus mengetahui kewajibannya terhadap guru dengan segala hormat, tidak melupakan jasa-jasanya dan mendoakan beliau-beliau baik ketika beliau masih hidup atau yang sudah wafat. Selain itu berziarah ke makam gurunya yang telah wafat untuk memintakan ampunan dan sedekah kepada beliau. Serta tetap menaruh hormat kepada keturunan, keluarga, dan orang-orang yang beliau sayangi.
Selain itu, seorang santri harus memperlihatkan etika yang baik, memberi arahan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan, melestarikan adat, tradisi dan kebiasaan yang dicontohkan oleh gurunya dalam hal agama atau keilmuan, serta loyal, tunduk, dan patuh kepada guru dalam keadaan apapun dan di manapun ia berada.
Pesantren menjadi lembaga pendidikan untuk mencetak generasi beradab dan berahlak. Di pesantren, perilaku menyakiti hati guru saja merupakan tindakan yang sangat memalukan. Apalagi jika membentak dengan suara keras, menghina atau memukul, itu merupakan keburukan akhlak.
Satu hal yang sangat menarik dalam pendidikan adab di pesantren adalah penanaman rasa malu dalam diri. Tidak ada santri yang berani terang-terangan melanggar atau bermaksiat. Penanaman rasa malu ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk hukuman saat melakukan pelanggaran.
Di Pesantren Maslakul Huda (PMH) Kajen Pati misalnya, Kiai Sahal memiliki kebiasaan pada pagi hari. Ia duduk di kursi depan kediamannya ditemani seorang santri khadim sembari memandangi area pesantren. Ia menyaksikan saat santri berbondong-bondong berangkat ke Mathole’ (Madrasah Perguruan Islam Mathaliul Falah atau disingkat menjadi PIM).
Pada satu sisi, para santri merasa bangga bisa bertatap muka dengan kiainya barang sejenak dengan sekali pandang lalu kembali menundukkan kepala sambil lanjut berjalan. Namun di sisi lain, perasaan tersebut dapat sirna lalu berubah menjadi keresahan hati dan malu besar apabila ada santri yang berangkat ke madrasah dalam keadaan terlambat dan jalan setengah lari. Begitulah pelajaran kedisiplinan yang diajarkan Kiai Sahal dalam tindakan.
Pola seperti ini marak ditemukan di pesantren-pesantren. Para santri akan menundukkan kepala saat bertemu, berpapasan, atau ada kiai yang lewat. Ini merupakan pemandangan yang sangat syahdu.
(jqf)