LANGIT7.ID - , Jakarta - Fenomena
Citayam Fashion Week (CFW) kian menjalar ke penjuru Tanah Air. Sejumlah kegiatan serupa pun muncul di berbagai daerah. Sebut saja Braga Fashion Week di Bandung, CFW Goes to Purwokerto, dan lainnya.
Menanggapi hal ini, pengamat sosial The Indonesian Institute (TII) Nisaaul Muthiah mengatakan kegiatan seperti CFW yang dilakukan beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang publik tidak hanya di Jakarta tetapi juga daerah-daerah lainnya.
Baca juga: Fenomena Citayam Fashion Week Bisa Jadi Target Pasar"Mereka ikut (tren), sebab Jakarta masih jadi trend center. Ini menunjukkan kebutuhan akan
ruang publik tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah. Kemarin pemerintah Depok juga berencana untuk melebarkan trotoar sebagai upaya akan akomodasi kebutuhan ruang publik. Ini merupakan langkah yang sangat bagus," ujar Nisaaul kepada Langit7, Senin (25/7/2022).
Selain menunjukkan kebutuhan ruang publik, CFW juga memperlihatkan bahwa fesyen tak hanya milik kelas ekonomi menengah ke atas saja, melainkan ke semua lapisan.
"Semua orang juga bisa berfesyen ria. Justru itu menjadi ajang untuk kreativitas," katanya.
Namun kembali lagi, hadirnya CFW ini membuktikan bahwa masyarakat membutuhkan ruang publik.
Baca juga: Marak Citayam Fasion Week, Ini Tanggapan Presiden Jokowi"Di Jogja pada mulai, di Nol Kilometer Jogja buat
fashion week pakai kebaya. Menurut saya malah bagus daripada anak-anak di Jogja terlibat di hal-hal yang tidak baik," tuturnya.
"Akan lebih baik kalau kreativitasnya disalurkan buat kreativitas semacam Citayam Fashion Week versi daerah mereka masing-masing, tidak apa-apa terpenting tidak terbuat kriminal," lanjut Nisaaul.
Meskipun begitu, Nisaaul menekankan, pemerintah harus lebih dalam pengaturannya agar kreatifitas muda-mudi tersebut tidak mengganggu lalu-lintas.
(est)