LANGIT7.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika mempercepat program analog switch off (ASO) guna mendukung transformasi siaran digital.
Direktur Penyiaran Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo, Geryantika Kurnia menjelaskan, Presiden RO Joko Widodo telah mencanangkan mempercepat transformasi digital yang bisa terjadi apabila migrasi selesai.
"Pelaksanaan program ASO akan memungkinkan digital dividend dengan adanya penghematan penggunaan spektrum frekuensi radio memungkinkan pemanfaatan untuk layanan internet broadband," katanya dalam keterangan persnya dikutip Jum''at (29/7/2022).
Menurutnya, internet kecepatan tinggi, seperti jaringan 5G yang telah diujicoba di beberapa kota, termasuk pada saat MotoGP Mandalika pada Maret 2022 lalu.
Baca juga: Jelang ASO Tahap II, Ini Daftar Wilayah Kebagian Siaran Digital"Sebab, setiap satu frekuensi kanal siaran analog bisa dipergunakan untuk 6-12 siaran digital, tergantung ukuran kanalnya. Jumlah frekuensi yang digunakan untuk TV analog saat ini hampir 378.
Geryantika menuturkan, akibat efisiensi dari satu frekuensi bisa digunakan enam sampai 12, jumlah TV sekarang 697 karena (migrasi) tv analog bisa dimasukkan dalam frekuensi hanya 172.
"Digital dividend juga bisa dipergunakan untuk menambah cakupan jaringan internet ke berbagai wilayah yang belum terjangkau siaran TV analog, terutama daerah di daerat terdepan, terluar dan tertinggal (3T)," ujarnya.
Lebih lanjut, Geryantika menjelaskan tersedianya tambahan jaringan dan kecepatan internet, sebagai dampak positif program ASO, akan menimbulkan efek berganda
(multiplayer effect).Baca Juga: 60 Persen Masyarakat Indonesia Siap Beralih ke Teknologi Televisi Digital"Misalnya menyediakan lapangan pekerjaan sebagai pembuat konten (content creator) memasak hingga berjualan di media sosial tanpa harus mengeluarkan biaya untuk menyewa tempat," ujarnya.
Menurutnya, lapangan pekerjaan itu dinilai bisa dilakukan oleh siapa saja, mulai dari anak sekolah hingga ibu rumah tangga yang ingin memasarkan kue atau produk masakannya.
“Kalau internetnya sudah merata, potensi ekonominya bisa jadi seluruh Indonesia. Jadi bukan sekedar hanya migrasi analog ke digital,” tegas Geryantika.
(sof)