LANGIT7.ID, Jakarta - Bulan Muharram selalu diidentikan dengan hijrah. Awal tahun dalam kalender Hijriah ini memang berkaitan dengan perpindahan Rasullah dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Momen ini menjadi tonggak penting sejarah Islam.
Selama menjalani dakwah Islam di Mekkah, Rasul bersama kaum Muslimin selalu diliputi kecemasan, karena sulitnya masyarakat di sana pada waktu itu menerima agama Allah, sehingga atas perintah Allah, ummat Islam hijrah ke Madinah demi mengembangkan ajaran-ajaran Tauhid.
Momen bersejarah itu pun akhirnya diputuskan sebagai awal mula penanggalan tahun yang kita kenal dengan nama Hijriah. Sebab pada masa itu, orang-orang tidak menggunakan penetapan baku untuk hitungan tahun.
Misal saja, Nabi Muhammad lahir pada tahun Gajah. Masyarakat kala itu masih menggunakan momentum-momentum untuk penamaan kalender. Berawal dari sini, para sahabat Rasulullah SAW pun berkumpul untuk menentukan kalender Islam. Salah satunya yang hadir adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Thalhan bin Ubaidillah.
Tim ini sempat mengusulkan kalender Islam berdasarkan hari kelahiran Nabi Muhammad, ada yang mengusulkan sejak Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul. Namun, usul yang diterima dari Ali Bin Abi Thalib, dia mencetuskan ide agar awal tahun dimulai saat awal hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah dan terciptalah tahun baru Islam.
Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shalallohu alaihi wassalam bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah.
Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada yang menjadi tujuan. Pengertian hijrah pada masa kini bukan lagi dianggap sebagai momen berpindah 'tempat', tapi juga perubahan perilaku, dari hal buruk ke arah yang lebih baik.
(bal)