LANGIT7.ID - Ada dua momentum untuk maju dan bangkit di tengah pandemi saat ini. Pertama, 1 Muharram 1443 Hijriah yang jatuh pada hari ini, Selasa, 10 Agustus 2021. Kedua, peringatan HUT ke-76 Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2021.
Dari momentum Muharram, ummat Islam dapat menapaktilasi spirit hijrah Nabi Muhammad SAW untuk bangkit bersama. Pada HUT RI, bangsa Indonesia kembali mengobarkan semangat kemerdekaan, merajut persatuan, dan menjadi bangsa yang maju. Spirit ini juga yang terpatri dalam tubuh Indonesia Raya, "Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya."
Dua memontem ini menjadi refleksi untuk bangkit bersama dari ancaman keterpurukan akibat pandemi Covid-19 yang melumpuhkan sendi-sendi sosial, kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Dengan tekad kuat, bersama kita bisa. Bersama kita maju, dan bersama kita tumbuh.
Dengan semangat tersebut,
LANGIT7.ID sebagai portal muslim modern dan independen, menurunkan tulisan hasil wawacara khusus dengan para tokoh untuk menyingkap hikmah di balik peristiwa. Pada serial perdana Wawancara Khusus ini,
LANGIT7.ID mewawancarai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika,
Al Busyra Basnur, Senin (9/10).
Al Busyra lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, tahun 1960. Dia adalah pejabat karir Kementerian Luar Negeri RI yang pernah menjabat Sekretaris Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik, Direktur Diplomasi Publik, Konjen RI di Houston, Amerika Serikat, serta sederet jabatan penting lainnya. Dia juga penulis buku “
Catatan Duta Besar Republik Indonesia, Ethiopia" dan “
Diplomasi Publik, Catatan, Inspirasi dan Harapan”, serta editor buku "
Untukmu Indonesia”.
Dari negeri hijrah pertama para sahabat Nabi SAW di Ethiopia (dulu dikenal Habasyah), Al Busyra menceritakan tentang Islam dan hubungan antara Indonesia dan Ethiopia. Negeri ini juga menjadi tuan rumah Masjid Al-Nejashi, masjid pertama di Afrika yang terletak di Wuqro, Negara Bagian Tigray. Sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW dimakamkan di sana. Berikut petikan wawancaranya dengan
LANGIT7.ID:
Pak, bisa diceritakan bagaimana peran diplomatik Indonesia untuk negara-negara Uni Afrika?Saat ini Indonesia memiliki 17 Perwakilan RI di benua Afrika, 16 Kedutaan Besar RI dan 1 Konsulat Jenderal RI. Kerja sama yang baik antara Indonesia dengan negara-negara di Afrika perlu dijaga. Terdapat sejumlah alasan yang melatarbelakangi hubungan baik Indonesia dengan negara-negara di Afrika sehingga terus terjalin dengan baik.
Pertama, Konferensi Asia Afrika (KAA) sebagai tonggak sejarah kesamaan tujuan antara Indonesia dengan negara-negara Afrika melawan imperialisme dan rasialisme. Konferensi Asia Afrika diselenggarakan pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat. Konferensi ini bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan bersama, terutama kedaulatan negara-negara Asia Afrika. KAA tersebut dihadiri enam negara Afrika, termasuk Ethiopia. Padahal pada waktu itu, Indonesia dan Ethiopia belum memiliki hubungan diplomatik. Hubungan diplomatik Indonesia-Ethiopia dimulai tahun 1961.
Kedua, Afrika merupakan benua terbesar kedua (setelah Asia). Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 miliar pada tahun 2021, membuat Afrika sebagai wilayah yang memiliki potensi besar dalam sektor perdagangan barang dan jasa.
Ketiga, bagi Indonesia, Afrika sangat penting. Antara lain, dapat dilihat pada inisiatif Indonesia menyelenggarakan Indonesia Afrika Forum (IAF) tahun 2018 dan Indonesia Africa Infrastructure Dialogue (IAID) tahun 2019 serta dalam kerangka Kerjasama Selatan-Selatan.
Keempat, Indonesia memiliki kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya, serta perlingdungan WNI yang besar di Afrika. Selain itu, peningkatan hubungan bilateral, regional, dan internasional.
Nah, Ethiopia yang dahulu dikenal sebagai Habasyah, yaitu tempat para sahabat Nabi SAW pertama kali berhijrah. Bagaimana kehidupan muslim di sana saat ini?Pertama, Ethiopia memiliki tempat khusus dalam sejarah Islam, sebagai penguasa abad ketujuh. Penguasa Abyssinia pada saat itu, Amra Najashi, memberi perlindungan kepada ummat Islam, para sahabat Nabi Muhammad SAW yang mencari perlindungan dari kaum Quraisy di Arab Saudi. Ethiopia menjadi tempat hijrah pertama sahabat Nabi Muhammad SAW.
Ethiopia juga menjadi tuan rumah Masjid Al-Nejashi, masjid pertama di Afrika yang terletak di Wuqro, Negara Bagian Tigray. Sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW dimakamkan di sana.
Kedua, Ethiopia menempati posisi kelima terbesar dalam hal jumlah penduduk muslim di Afrika, yaitu sekitar 37 juta. Negeria 108 juta, Mesir 93 juta, Aljazair 42 juta, dan Sudan 41 juta.
Ketiga, Ethiopia mempunyai toleransi yang tinggi antar umat beragama. Berbagai suku dan agama saling menghormati dalam menjalankan kebebasan menjalankan keyakinan masing-masing. Semua pemeluk agama hidup berdampingan dengan damai, toleransi beragama sangat tinggi. Islam adalah agama terbesar kedua di Ethiopia setelah Kristen Orthodox.
Keempat, muslim Ethiopia beraliran
ahlussunnah wal jamaah (sunni) dan mayoritas bermazhab Syafi’i. Hal itu berdasarkan sumber dari The Ethiopian Islamic Affarais Supreme Council, 2019. Walaupun Kristen Orthodox menjadi agama paling banyak dianut, tetapi mereka saling menghormati dengan pemeluk agama lainnya. Muslim di Ethiopia memiliki kebebasan dalam menjalankan ajaran agama dan peribadatan sesuai ajaran Islam.
Betul. Afrika juga dikenal dengan benua multisuku dan multiagama. Bisa diceritakan bagaimana mereka menjaga kebhinekaan dan toleransi antarummat beragama?Orang-orang Afrika mengekspresikan toleransi tinggi terhadap orang-orang dari kelompok etnis yang berbeda, orang dari agama yang berbeda serta terhadap para imigran. Toleransi di Afrika bervariasi menurut negara atau wilayahnya.
Faktor yang menentukan tingkat toleransi di Afrika dipengaruhi tingkat pendidikan, media, dan populasi yang beragam sebagai pendorong utama peningkatan toleransi di masing-masing negara di benua Afrika.
Pak Dubes, ini yang terakhir. Adakah sisi lain dari negara-negara Afrika yang tak banyak diketahui publik? Bisa dijelaskan? Sisi lain Afrika, khususnya Ethiopia, yang berkaitan dengan Indonesia. Pertama, produk makanan Indonesia dikenal luas di Afrika. Saat ini terdapat sekitar 30 perusahaan Indonesia yang berinvestasi di benua Afrika, lima di antaranya ada di Ethiopia. Ini menempatkan Ethiopia sebagai negara nomor dua terbesar di Afrika yang menjadi tuan rumah investasi Indonesia.
Kedua, orang Indonesia masih banyak yang belum mengetahui perkembangan terkini Afrika, termasuk Ethiopia. Potensi benua ini sangat besar, terutama Ethiopia. Banyak orang Indonesia mengenal Ethiopia seperti Ethiopia pada tahun 1984-1986 yang saat itu dilanda kelaparan sehingga 1,2 juta penduduk meninggal dunia.
Kemajuan ekonomi Ethiopia sekarang luar biasa, bahkan tertinggi di kawasan. Ethiopia mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 10 % tahun 2007-2017. Kota Addis Ababa, ibu kota Ethiopia penuh dengan gedung-gedung pencakar langit. Jalan tol di mana-mana dan ribuan perusahaan asing menanamkan modal di Ethiopia, yaitu dari China, India, Turi, Jepang, Korea dan negara-negara Eropa.
(jak)