LANGIT7.ID - Ulama asal Pasuruan Jawa Timur Habib Abubakar Assegaf menceritakan latar belakang momen hijrah dipilih sebagai awal penanggalan dalam Islam.
Pada awalnya, tutur Habib Abubakar, umat Islam masih menggunakan penanggalan masehi. Bahkan penanggalan dalam surat menyurat hingga masa Khalifah Umar bin Khattab masih pula menggunakan patokan tanggal dalam tahun masehi.
Maka Khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat Nabi yang masih hidup ketika itu, untuk bermusyawarah menentukan penanggalan sendiri milik Islam.
"Ada sahabat yang mengusulkan awal tahun penanggalan Islam dimulai dari lahirnya Nabi, ada yang mengusulkan dari bi'tsah atau dilantiknya Nabi menjadi Rasul, ada juga yang usul dari wafatnya Nabi," ungkap Habib Abubakar Assegaf melalui keterangan tertulis, Senin (9/8/2021).
Akhirnya, Sayyidina Umar bin Khattab memutuskan penanggalan milik umat Islam dimulai dari momen hijrahnya Nabi SAW.
"Yang menarik adalah alasan beliau, karena hijrahnya Nabi adalah momentum pemisah antara perkara yang Haq dengan yang Bathil," terang Habib Abubakar.
Maka sejak saat itu umat Islam memiliki penanggalan atau kalender sendiri yang disebut Hijriyah dinisbatkan pada peristiwa hijrah yang diawali pada bulan Muharram.
"Adapun penetapan kalender Hijriyah ini adalah 'min awwaliyati umar', termasuk dari gagasan pertama Sayyidina Umar RA," pungkas Habib Abubakar.
Adapun misi besar utama Nabi Muhammad SAW dalam hijrah, tambah Habib Abubakar, ada tiga, yakni pertama pembangunan
Islamic Centre, hal ini ditandai dengan pembangunan Masjid. Dan masjid pertama yg dibangun adalah Masjid Quba, lalu Masjid Nabawi sekaligus membangun kediaman Rasulullah SAW.
Misi kedua adalah
iykho atau mempersaudarakan menyatukan antara kaum Muhajirin yang ikut hijrah dengan kaum Anshar yang menyambut Nabi SAW dan para sahabat di Madinah. Hingga kemudian terjalin persaudaraan yang Kuat antara muslimin dari Muhajirin dan Anshar.
Setelah dua misi itu terlaksana, kata Habib Abubakar, barulah beliau jalankan misi terakhir yaitu membangun dan menata pemerintahan yang berasaskan keadilan & kesejahteraan, kesetaraan dan seterusnya.
"Tentunya sesuai
way of life yang bersumber dan wahyu Ilahi," pungkas Habib Abubakar.
(jqf)