LANGIT7.ID, Jakarta - 10 Muharam 1383 dalam penanggalan hijriah menjadi hari duka bagi keluarga utama Rasulullah. Cucu tercinta Nabi Muhammad
Husein bin Ali syahid dalam tragedi politik di tanah Karbala, Irak.
Imam Husein adalah putra kedua pasangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah. Imam Husein wafat dalam pertempuran melawan rezim Yazid bin Muawiyah di tepi sungai Eufrat Iraq.
Wafatnya Imam Husein bin Ali adalah tragedi yang mengenaskan dalam sejarah politik umat Islam. Peristiwa bermula dari rentetan konflik perebutan jabatan khalifah pasca wafatnya Rasulullah, memanas dengan syahidnya Khalifah Utsman bin Affan, lalu memuncak pasca terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Baca juga: Amalan 10 Muharram untuk Para Suami Bukan Cuma Puasa AsyuraSayyidina Husein dinilai lebih berhak memegang tampuk pimpinan kekhalifahan setelah saudaranya, Sayyidina Hasan menolak agresi militer yang lebih besar dan menyerahkan jabatan Khalifah pada Muawiyah. Konflik politik tak mereda dengan wafatnya Muawiyah dan Sayyidina Hasan.
Naiknya Yazid sebagai penguasa baru yang berkedudukan di Damaskus, Syam, segera mengintai keselamatan Husein yang tinggal di Madinah. Personel intelijen berkeliaran mengawasi pergerakan cucu Rasulullah.
Masyarakat Kufah yang menjadi pusat pemerintahan kekhalifahan sejak masa Ali bin Abi Thalib mendorong Sayyidina Husein melakukan revolusi. Namun, kelak, mereka pulalah yang melakukan penghianatan sebagaimana juga menimpa Hasan.
Singkat cerita, Sayyidina Husein berangkat ke Kufah menegakkan hak politiknya. Sekitar 100.000 penduduk Kufah berjanji setia kepada Sayyidina Husein dan mendukung langkah politiknya, tapi jumlah ini tak ada batang hidungnya ketika pertempuran meletus.
Baca Juga: 10 Muharram Jatuh Besok, Yuk Borong 7 Amalan di Hari AsyuraPasukan pemerintahan Yazid yang dipimpin Al-Hurr bin Yazid at-Tamimy yang berjumlah 1.000 berupaya mencegah Husein dan memerintahkannya kembali ke Madinah dengan hormat. Namun pasukan Husein sudah sampai di Karbala pada 2 Muharam.
Rombongan Husein tiba di Karbala di bawah pengawasan ketat pasukan berkuda utusan Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr bin Yazid At-Tamimiy. Sementara Ubaidillah bin Ziyad sang kepala daerah Kufah kemudian menyiapkan pasukan tempur berkekuatan 4.000 orang dengan persenjataan lengkap yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash.
Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, sebanyak 4.000 pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash menyerbu rombongan Husein yang hanya berkekuatan 72 orang; 32 orang prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, selebihnya terdiri dari anak-anak dan perempuan.
Pasukan Husein bertempur menghadapi hujan panah, lembing, tombak, dan ayunan pedang pasukan musuh. Namun, mereka akhirnya tumpas, dibabat habis, kepala Sayyidina Husein pun berpisah dari tubuhnya.
(sof)