LANGIT7.ID, Jakarta - Orangtua boleh memukul anaknya ketika mengajarkan atau
mendidik mereka untuk shalat. Namun pukulan ini bukan berarti membuat mereka trauma, apalagi kesakitan.
Dalam sebuah hadist, Nabi SAW bersabda: "Suruhlah anak
shalat jika dia telah berumur tujuh tahun, dan kalau sudah berumur sepuluh tahun, pukul dia jika meninggalkan shalat." (HR Abu Dawud).
Pendakwah,
Quraish Shihab mengingatkan, agar umat tidak keliru dalam memaknai kata pukul dalam hadits tersebut. Sebab, kata "pukul" dalam artian sesungguhnya justru bisa menjauhkan anak untuk melaksanakan kewajiban shalat.
Baca Juga: Agar Anak Suka Baca Buku, Aisah Dahlah: Mulai dari Orang Tua"Kita harus bijak memaknai kata "pukul" itu. Bukan berarti memukul secara fisik, sebab Rasulullah juga mengajarkan kasih sayang kepada anak tanpa memukul mereka," kata dia di kanal YouTubenya, Rabu (10/8/2022).
Salat adalah bentuk rasa syukur dan hubungan seorang hamba dengan Penciptanya. Sehingga, memaksa anak untuk salat dengan cara dipukul tidak dibenarkan.
Belum lagi, lanjut dia, anak-anak sekarang sudah lebih pandai karena dunia yang semakin berkembang. Sehingga pemahaman mereka akan pentingnya mendirikan salat tidak perlu harus dengan cara dipukul.
"Merasakan kebutuhan dan menumbuhkan kecintaan anak untuk salat dilakukan sedini mungkin. Bahkan sebelum mereka sampai di umur 10 tahun."
"Sehingga jangan sampai memukul mereka untuk salat. Sebab dikhawatirkan justru akan menjauhkan mereka dengan ibadah," tambahnya.
Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW sejak kecil pernah berkata :
“Aku melayani Rasulullah SAW sepuluh tahun. Demi Allah, Nabi tidak pernah menegurku sama sekali. Bahkan, Rasulullah tidak pernah mempertanyakan apa yang telah aku perbuat dengan ucapan, 'mengapa kamu melakukan itu?' Atau pada hal yang tidak aku perbuat dengan ucapan, 'mengapa kamu tidak melakukan itu?' (HR Muslim).
(bal)