LANGIT7.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum PP Persis, Dr. KH. Jeje Zaenuddin, mengungkapkan, seorang muslim wajib menjaga lingkungan. Itu menjadi satu implementasi dari dua dimensi konsep berislam.
Dua dimensi itu yakni Islam sunnatullah dan islam sebagai agama atau syariat. Hakikat berislam adalah tunduk dan patuh kepada Allah. Alam semesta tunduk kepada-Nya merupakan sunnatullah. Lalu, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi dan Rasul untuk didakwahkan kepada umat manusia.
Dua dimensi ini tidak bisa dipisahkan. Alam semesta berjalan dengan baik karena mengikuti sunnatullah. Manusia juga tidak akan mendapatkan Kebahagiaan hakiki jika tidak mengikuti syariat Islam.
Baca Juga: Menyatukan Kenegaraan dan Keagamaan, Kunci Persatuan Indonesia
“Bagaimana lingkungan itu tidak dirusak dari sunnatullah-nya, sehingga kehidupan manusia beragama dengan kelestarian alam semesta berjalan dengan baik,” kata Ustadz Jeje kepada LANGIT7.ID, Kamis (11/8/2022).
Artinya, seorang muslim harus mewujudkan keshalihan pribadi dan keshalihan sosial. Menjalankan syariat, berarti juga menjaga lingkungan agar tercipta integrasi antarsesama makhluk hidup.
“Orang rajin shalat dan puasa, tapi tidak peduli hutan digunduli, ketika banjir, tidak peduli. Meski rajin shalat, rajin puasa, tetap terseret banjir. Karena islamnya syariat saja. Tidak Islam sunnatullah,” kata Ustadz Jeje.
Dalam konteks yang lebih sempit, Ustadz Jeje mencontohkan kehidupan bernegara. Beragama dan bernegara harus jalan bersamaan. Itu sebagai wujud integrasi antara Islam sunnatullah Islam Syariat. Seorang muslim harus memahami dan menjalankan tata cara bernegara yang baik.
“Kita umat Islam, tapi kita tidak memahami cara berbangsa, zalim dalam memimpin, korupsi. Hancur pasti (negaranya),” ucap Ustadz Jeje.
Baca Juga: Wapres Terima Risalah Umat Islam untuk Indonesia Lestari
Demikian pula ditemukan sebuah negara berpenduduk non muslim. Namun, mereka menjalankan negara berdasarkan sunnatullah, seperti menerapkan keadilan dan melindungi hak-hak warga negara, sehingga tercipta bangsa yang damai, makmur, dan sejahtera.
“Ada negara makmur, tapi bobrok agamanya. Tapi sangat melindungi hak-hak warga negara, sangat menjaga hukum negara. Maju mereka dunianya, tapi agamanya nol. Tapi sebaliknya, ada negeri muslim, diperkuat agamanya, bobrok mengelola negara. Hancur,” ungkap Ustadz Jeje.
Ustadz Jeje mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah terkait hal itu. Ibnu Taimiyah pernah mengatakan, “Allah melindungi dan memajukan negara yang adil walaupun penduduknya kafir. Dan Allah akan membinasakan suatu negeri yang zalim walaupun penduduknya mukmin.”
(jqf)