LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Jami Tambora memiliki sejarah panjang sebagai salah satu Cagar Budaya di Ibu Kota Jakarta. Salah satu masjid tertua di Indonesia ini berusia lebih dari 300 tahun.
Sarana ibadah umat muslim ini didirikan oleh dua tokoh ulama dan pahlawan Indonesia asal Makassar, Sulawesi Selatan, KH Moestojib dan Ki Daeng. Masjid ini berlokasi di Jalan Blandongan Nomor 11, Tambora, Jakarta Barat.
Sebelum menetap di Jakarta yang kala itu bernama Batavia, kedua ulama ini lama tinggal di Pulau Sumbawa, tepatnya di lereng Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pada tahun 1756, keduanya dikirim ke Batavia oleh Belanda karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun.
Baca Juga: Waspadai Isu Radikalisme di Medsos, Ismail Fahmi: Sebarkan Narasi Islam yang Ramah"Setelah mereka bebas, kemudian mereka mendirikan masjid. Awalnya masjid hanya berbentuk petakan," kata Ketua DKM Masjid Jami Tambora, Ustaz Haryanto saat di wawancara
Langit7, Ahad (14/8/2022).
Pada awalnya, lanjut Ustaz Haryanto, masjid hanya ada ruangan salat saja sebelum rapih sempurna seperti sekarang. Seiring berjalannya waktu, pembangunan masjid dilakukan secara bertahap.
"Kemudian dibangun menara, konon menara tersebut digunakan untuk Kiai Moestojib dan Ki Daeng memantau VOC yang mau datang," jelasnya.
Baca Juga: Sejarah Munculnya Adzan dan Sebutan Bilal Sang Muadzin"Masjid dijadikan cagar budaya karena dulu selain tempat ibadah, juga dijadikan tempat mengatur strategi untuk perang," imbuhnya.
Singkat cerita, setelah kedua pendiri masjid tersebut meninggal. Perjuangan KH Moestojib dan Ki Daeng dilanjutkan Imam Saiddin. Setelah itu terjadi beberapa kali pergantian pimpinan, terakhir pada tahun 1950 pimpinan masjid dipegang oleh Madsupi dan kawan-kawan di Gang Tambora.
Kini masjid tersebut merupakan salah satu cagar budaya yang berdiri kokoh dengan melestarikan gaya arsitektur klasik. Hal tersebut diinisiasi agar nilai-nilai sejarah tetap terjaga dengan baik.
Baca Juga: Hati-hati Terpedaya Bisikan Setan, Ini Kata Hanan Attaki(zhd)