LANGIT7.ID - , Jakarta - Wakil Ketua Komisi Infokom MUI,
Ismail Fahmi menyebut narasi
radikalisme jauh lebih tinggi dibanding narasi moderasi beragama dan Islam wasathiyah.
“Jumlah narasi tentang radikalisme yang beredar di media sosial, jauh lebih tinggi angkanya jika dibandingkan dengan narasi-narasi tentang
moderasi beragama dan Islam wasathiyah. Karenanya, ini jadi tantangan bagi kita semua,” ujar Fahmi dalam Halaqah Mingguan Infokom MUI "Isu Aktual Tantangan MUI di Dunia Digital", Rabu (10/8/2022) lalu.
Baca juga: Jusuf Kalla: Komunitas Masjid Asean Bisa Jadi Wadah Atasi RadikalismeDari data yang dihimpunnya, jumlah narasi dan isu khilafah per hari mencapai 5.000 sampai 10.000 percakapan. Dibandingkan dengan narasi tentang MUI yang ada di media sosial, hanya mencapai kurang dari 5.000 percakapan per hari.
Lebih lanjut, Ketua Pokja Riset Digital dan Inovasi tersebut menilai, perlunya meningkatkan peran MUI dalam menyebarkan
dakwah di media sosial. Terlebih dengan tingginya aktivitas
akses internet saat ini, khususnya bagi generasi muda.
“Narasi tentang Islam yang ramah perlu diperluas lagi, agar para penerus bangsa tidak salah belajar. Apalagi jika mereka tidak bisa bertanya pada Kiai ataupun guru, maka mereka akan berselancar di internet untuk mencari jawaban,” jelas Fahmi, seperti dikutip dari laman MUI Digital, Sabtu (13/8/2022).
Isu radikalisme dan khilafah yang konsisten tersebar di internet, menurut dia harus diwaspadai dan diatasi. Ragam platform
media sosial sudah seharusnya dapat digunakan semaksimal mungkin oleh MUI untuk menyebarkan narasi Islam yang ramah.
Baca juga: Benarkah Materi Peperangan dalam Sejarah Islam Ajarkan Radikalisme?(est)