LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu episode penting dalam sejarah Islam kerap berkaitan dengan peperangan. Namun sayangnya, perang dianggap identik dengan radikalisme dan tidak mengedepankan kedamaian. Bahkan materi seputar peperangan dalam
sejarah Islam dan sejarah kehidupan Rasulullah, sempat ditarik dari buku pelajaran di madrasah pada tahun 2018 oleh Kementerian Agama melalui SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.
Padahal sejatinya, peperangan dalam
sejarah Islam tidak ada kaitannya dengan radikalisme. Pakar sejarah peradaban Islam,
Ustadz Asep Sobari, menegaskan, materi peperangan dalam sejarah Islam tidak hanya sekadar adu fisik atau baku hantam. Ada banyak aspek esensial yang justru memberikan pelajaran penting.
“Peperangan dalam literatur Islam tidak terbatas pada pertempuran. Tema peperangan dalam
sirah nabawiyah bukan sekadar baku hantam. Coba definisi para ulama, peperangan itu semua peristiwa yang terkait dari pra dan setelah peperangan,” kata Asep Sobari di Sirah TV, dikutip Rabu (13/7/2022).
Baca Juga: Akhlak Rasulullah Terhadap Musuh, Tidak Membenci dan Menguburkan Jasadnya Saat Perang
Ustadz Asep menjelaskan, semasa Rasulullah hanya ada 27 peperangan yang dipimpin langsung oleh beliau. Selebihnya dipimpin oleh sahabat. Dari jumlah tersebut, hanya 9 peperangan yang terjadi pertempuran atau baku hantam.
Artinya, ada materi-materi lain yang bisa dipelajari, seperti ilmu leadership Rasulullah, manajemen, ilmu komunikasi massa, strategi, hingga mengedepankan kemanusiaan meski berada di area konflik.
“Di sana ada strategi,
leadership Rasulullah, bagaimana Rasulullah mengomunikasikan sebuah isu,” kata
Ustadz Asep.
Dia mencontohkan Perang Khandaq yang terjadi pada 5 Hijriyah. Peperangan itu berlangsung sampai sebulan. Tapi mayoritas peristiwa terjadi bukan pertempuran. Hanya ada dua peristiwa adu fisik yang tercatat dalam sejarah. Selebihnya, lebih kepada pelajaran tentang manajemen,
leadership, hingga strategi.
Baca Juga: Saat Rasulullah Nonton Tari Perang Habasyah di Hari Idul Fitri
Kafir Quraisy datang bersama sekutu sebanyak 10.000 tentara. Kekuatan Madinah hanya 2000-3000 orang. Itu sangat tidak berbanding. Rasulullah sangat realistis dengan keadaan itu. Maka, strategi utama adalah memecah sekutu kafir Quraisy.
Tersebutlah Suku Ghatafan yang menjadi sekutu kafir Quraisy. Mereka datang bukan karena motif memerangi Islam, tapi semata-mata faktor ekonomi. Suku ini bahkan mengirim delegasi ke Rasulullah untuk bernegosiasi.
“Ghatafan itu cuma motif ekonomi. Kan ada delegasi datang, ngomong, kalau kalian mau menyerahkan kurma Madinah, kami tidak akan ikut perang. Pragmatislah,” kata Ustadz Asep.
Rasulullah tidak mengumpulkan semua sahabat dalam menanggapi delegasi itu. Dia hanya mengajak satu tokoh Anshar dan satu tokoh Muhajiri yakni Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah. Rasulullah mengajarkan ilmu komunikasi dan strategi di sini.
Baca Juga: Kisah: Tunadaksa Berjuang Bersama Rasulullah pada Perang Uhud
Pada akhirnya dua sahabat itu memegang prinsip kuat. Mereka tidak akan menyerahkan satu butir kurma pun kepada Ghatafan. Saat masih jahiliyah, mereka memberikan satu butir kurma saat membeli atau datang sebagai tamu.
“Sekarang setelah dimuliakan Islam, kemudian memberikan kurma, satu kurma pun tidak akan kami berikan,” kata Ustadz Asep menirukan respon dua sahabat tersebut.
Ini adalah pelajaran tentang prinsip. Rasulullah mengajarkan musyawarah dalam mengambil keputusan, dan sahabat menunjukkan iman akan sangat menentukan jati diri seseorang.
Belum lagi strategi Parit yang diusulkan Salman Al-Farisi. Kata Ustadz Asep hal itu berkaitan dengan strategi, inovasi dan manajemen yang kuat. Parit sejauh 6 km harus digali dalam tempo 10 hari. Sebab, jika dicicil dari jauh-jauh hari, maka musuh akan mengetahui dan menyiapkan strategi balasan.
Baca Juga: Akhlak Rasulullah kepada Tawanan Perang, Memberikan Makan yang Enak
“Jadi, materi peperangan bukan hanya soal baku hantam, tapi semua yang terkait dengan peristiwa inti. Kita harus pahami ini. Itu pun kalau kita sebut sebagai peperangan, bukan hanya baku hantam, tapi ada pelajaran terkait, ada banyak sekali,” pungkas Ustadz Asep.
(jqf)