LANGIT7.ID, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri adalah hari kegembiraan. Rasulullah dan para sahabat merayakan hari itu dengan berbagai macam ekspresi kegembiraan.
Pernah suatu ketika ada pemuda Habasyah yang melakukan pertunjukan seni tari di masjid. Pertunjukan itu digelar pada Hari Raya Idul Fitri.
Rasulullah tidak melarang hal tersebut. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, beliau bahkan mengajak ibunda Aisyah menyaksikan pertunjukan tersebut.
Kepala Aisyah diletakkan di pundak Nabi Muhammad Saw, sehingga ummul mukminin dapat menyaksikan pertunjukan tersebut. Bahkan, menurut riwayat itu, Aisyah radiallahu anhamenyediakan jamuan makan dan minum di sela-sela pertunjukan.
Baca Juga: Nilai Spiritual dari Kisah Mudik Rasulullah ke MekkahPada masa Rasulullah, penduduk Madinah merayakan Hari Raya dengan suka cita. Mereka menyebut Hari Raya dengan seuta al-Ied, yang secara harfiah bermakna kebahagiaan yang terulang setiap tahun.
Ada banyak ekspresi kegembiraan pada Rasulullah. Di antaranya kegembiraan yang tercipta di rumah baginda Nabi Muhammad. Hal itu diceritakan oleh Aisyah dalam Shahih Bukhari.
Rasulullah masuk ke dalam rumah menjumpai Aisyah. Di dekat Ummul Mukminin ada dua orang gadis yang sedang bernyanyi dengan nyanyian perang Bu’ats.
Rasulullah pun duduk di atas alas duduk dan memalingkan wajah beliau. Abu Bakar lalu masuk dan menghardik Aisyah dengan mengatakan, “suara setan di depan nabi!”.
Rasulullah lalu menghampiri Abu Bakar dan bersabda, “Biarkan kedua Gadis itu”. Setelah baginda Nabi tidak memperhatikan lagi, maka aku memberi isyarat kepada kedua gadis itu, dan mereka pun keluar.
Baca Juga: Masjid Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah, DKM Emban Amanah MuliaDalam riwayat lain, Nabi Muhammad bersabda kepada Abu BAkar, “Biarkan mereka berdua wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan Hari Raya kita adalah hari ini”.
“Suara setan” yang dimaksud oleh Abu BAkar adalah suara ad-duf (rebana) dan suara nyanyian.
Pada momen lain, seperti yang diceritakan Ahmad Syihabuddin al-Qulyubi dalam an-Nawadir, suatu hari Rasulullah akan melaksanakan Hari Raya, sementara anak-anak sedang bermain. Di antara mereka ada yang duduk di tepi jalan sambil menangis, dan hanya mengenakan pakaian lusuh.
Nabi lalu bertanya, “Wahai anak kecil! Apa yang membuatmu menangis, dan tidak bermain bersama anak-anak yang lain?”
Anak itu menjawab, dia tidak tahu bahwa yang bertanya adalah Rasulullah Saw, “Tinggalkan aku sendiri. Sesungguhnya ayahku telah meninggal dalam sebuah peperangan bersama Nabi SAW. Sedangkan ibuku telah menikah dengan laki-laki lain, dan laki-laki itu memakan hartaku serta mengusirku dari rumah.
Aku tidak lagi memiliki makanan, minuman, pakaian, dan rumah tempat tinggal. Ketika aku melihat anak-anak yang masih memiliki ayah, mereka bermain memakai baju baru, maka aku teringat dengan kesedeihan dan musibahku, karena itulah aku menangis.”
Rasulullah lalu memegang tangan anak itu dan berkata, “Apakah Engkau tidak rela, jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Fatimah menjadi saudarimu, Ali menjadi pamanmu, serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?”
Anak Kecil itu menjawab, “Bagaimana aku tidak rela wahai Rasulullah?”
Rasul lalu membawa anak itu ke rumah, lalu diberi pakaian terbaik, didandani, diberi makan, dan hatinya dibuat senang. Anak kecil itu lalu keluar dari rumah Rasulullah dengan tersenyum gembira, lari menemui teman-temannya.
Baca Juga: Jokowi Bagikan Sembako untuk Warga YogyakartaKetika teman-temannya melihat, mereka bertanya, “bukankah baru saja engkau menangis, kenapa sekarang engkau terlihat senang?”
Anak itu menjawab, “Semula aku lapar, sekarang aku kenyang. Semula aku telanjang, sekarang aku memakai pakaian. Semula aku yatim, sekarang Rasulullah Saw menjadi ayahku, Aisyah menjadi ibuku, Fatimah menjadi saudariku, dan Ali menjadi pamanku.”
Teman-teman anak itu lalu mengatakan, “Seandainya ayah-ayah kami semua meninggal dalam peperangan tersebut”.
Anak kecil itu lalu hidup bersama Rasulullah, sampai beliau meninggal dunia. Pada saat itu, dia keluar rumah sambil menangis dan menaburkan debu di atas kepala sambil mengatakan:
“Sekarang aku menjadi Yatim, dan sekarang aku sendiri”. Anak itu selanjutnya diasuh oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Kisah ini mengajarkan, Hari Raya selain membahagiakan diri sendiri, kita juga harus membahagiakan orang-orang di sekitar kita yang kurang beruntung. Dengan berbagi kebahagiaan, maka hari kemenangan Idul Fitri akan semakin sempurna.
Baca Juga: Makna di Balik 7 Tradisi Lebaran di Hari Kemenangan(zhd)