LANGIT7.ID, Jakarta -
Pengusaha sekaligus ulama, Ustadz Yusuf Martak, mendukung pertumbuhan industri halal Indonesia yang mengedepankan prinsip syariah dalam
bermuamalah.
"Masyarakat tidak perlu takut atau alergi dengan
indsutri halal atau syariah. Apalagi sudah banyak hal syariah yang diterapkan di Indonesia, seperti bank syariah," kata dia saat ditemui Langit7, Jumat (19/8/2022).
Menurut Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) ini, industri halal, khususnya dalam sektor makanan akan mengedepankan prinsip kebaikan. Di antaranya seperti menyajikan menu makanan higienis, halal, dan lebih mengedepankan nilai kemanusiaan.
Hal itu pula yang dia upayakan untuk diterapkan pada restorannya, Larazeta Restaurant and Gallery. Bahkan, sampai-sampai dia juga menenkankan kepada karyawannya untuk tetap mengedepankan ibadah.
Baca Juga: Larazeta, Restoran Timur Tengah yang Cocok dengan Lidah Lokal"Kultur di sini sudah terbentuk dan ibadah karyawan sudah otomatis. Bahkan, sudah kita titikberatkan karyawan yang tidak salat kita tegur," katanya.
Dia menjelaskan, bahwa berbisnis bukan hanya memikirkan soal keuntungan semata. Namun, juga perlu memikirkan nilai manfaat yang bisa didapatkan orang banyak.
"Pertama kita niatkan membuka lapangan pekerjaan dulu. Kemudian sabar untuk menjalani proses perkembangannya," kata dia.
Seperti di Larazeta yang menggunakan chef dari berbagai negara untuk menularkan ilmunya kepada orang-orang lokal. Sehingga bisa memberdayakan mereka untuk naik kelas dan punya kemampuan memasak yang dibutuhkan.
"Mereka kita kontrak dalam dua tahun agar mentransformasikan teknologinya. Dalam dua tahun itu pula, orang lokal kita targetkan untuk bisa menguasainya. Jadi kita tidak menggunakan asing selamanya dan lebih mengedepankan orang-orang lokal," ungkapnya.
Adapun Larazeta menghadirkan menu andalan nasi mandhi, mixed grill, yaitu campuran ayam, kambing, dan lamb chop. Dengan spesialisasi chef tersendiri dalam setiap menunya.
"Kita punya spesialisasi, kalau nasi itu (chef) dari Yaman, Salad dari Lebanon, dan Kebab atau Shawarma itu dulu kita datangkan dari Palestina," ungkapnya.
(bal)