LANGIT7.ID, Jakarta - Umat Islam memiliki dua pedoman utama dalam mengamalkan ajaran agama, yakni
Al-Qur'an dan hadits. Tiada perbedaan di kalangan ulama bahwa Al-Quran dan hadits merupakan sumber ajaran dan hukum Islam.
Allah SWT menjamin validitas Al-Qur'an terjaga sejak ia diturunkan kepada Nabi Muhammad hingga akhir zaman. Dalam Al-Qur'an, Surat Al-Hijr ayat 9, Allah SWT berfirman:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَArtinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.
Baca Juga: 5 Keutamaan Membaca dan Memahami Al-QuranNamun, bagaimana dengan
hadits? Apakah Allah SWT juga memelihara keasliannya?
Cendekiawan muslim dan ahli tafsir Indonesia,
Muhammad Quraish Shihab menjelaskan hadits adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Rasulullah SAW. Segala sesuatu itu meliputi perbuatan, ucapan, maupun sikap Rasulullah terhadap suatu hal.
Quraish Shihab dalam bukunya, Fatwa-Fatwa Seputar Al-Qur'an dan Hadits (Mizan: 1999) mengungkapkan, cara penyampaian hadits dari sumbernya sehingga sampai kepada umat Islam saat ini sangat bervariasi. Ada yang demikian akurat karena disampaikan banyak orang dan adapula yang diragukan kebenarannya.
Para ulama dalam memvalidasi hadits melihat beragam faktor, di antaranya akhlak sesorang yang menyampaikan, kekuatan hafalan, dan tidak janggal. Karenanya, para ulama menyatakan bahwa tidak semua hadits terjaga keasliannya dan merupakan dugaan kuat.
Baca Juga: Ingin Dapat Kebahagiaan? Yuk Pahami Isi Al-QuranNamun demikian, sejumlah hadits yang masuk kategori dugaan kuat bisa menjadi rujukan hukum Islam. Misalnya yang hadits berpredikat mutawattir (diriwayatkan banyak orang sehingga mustahil berdusta) dan masuk kategori hadits sahih.
Quraish Shihab menyatakan, harus diakui bahwa ada ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak bisa diamalkan tanpa melihat penjelasan hadits Rasulullah seperti ibadah shalat yang meliputi kadar waktu shalat, tata cara, rakaatnya. Hal semacam ini, lanjtunya, termasuk yang dijanjikan Allah untuk dipelihara karena berkaitan langsung dengan pengamalan Al-Qur'an.
Para ulama hadits memiliki metode akdemik bagaiamana menyeleksi hadits-hadits lalu dikelompokkan sesuai level kasahihannya. Secara garis besar, terdapat dua jenis hadits berdasar kekuatan periwayatan, yakni yang diterima (maqbul) dan hadits yang tertolak (mardud).
Baca Juga:
4 Syafaat Bagi yang Senantiasa Membaca Al-Aquran
3 Keutamaan Wudu yang Jarang Diketahui, Dapat Melunturkan Dosa(asf)