LANGIT7.ID, Jakarta - Etos kerja adalah hal mendasar yang mesti dimiliki setiap muslim dalam beraktivitas. Islam memaknai etos kerja sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan mendalam bahwa bekerja bukan saja untuk memuliakan diri dan menampakkan kemanusiaan, tapi juga sebagai manifestasi dari amal shalih.
Bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tapi sekaligus meninggikan martabat diri sebagai hamba Allah. Itu untuk menjadikan diri sebagai sosok yang dapat dipercaya dan menampilkan diri sebagai manusia yang amanah.
Anggota Dewan Syariah Nasional MUI, Ustadz Dr. Adiwarman Karim, menguraikan tiga hadits yang harus menjadi landasan etos kerja seorang muslim. Hadits tersebut menurunkan tiga etos kerja seorang muslim, di antaranya:
1. Iman dan IstiqamahMenurut Ustadz Adiwarman, beriman kepada Allah merupakan landasan utama etos kerja seorang muslim. Tidak cukup hanya beriman saja, tapi harus istiqamah di atas jalan iman. Hal tersebut sesuai hadits Nabi Muhammad SAW:
Dari Abu ‘Amr-ada yang menyebut pula Abu Amrah- Sufyan bin Abdullah, dia berkata, “Aku berkata: wahai Rasulullah katakanlah kepadaku perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.”
Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR Muslim).
Baca Juga: 4 Prinsip Etos Kerja yang Diajarkan Rasulullah SAW
“Ini pegangan kita nomor satu. Orang yang bekerja sepintar apapun namun tidak ada iman, tidak ada gunanya. Dengan keimanan, Allah akan selalu memberikan pertolongan di setiap aktivitas,” kata Ustadz Adiwarman, dikutip kanal YouTube Rohis Lintasarta, dikutip Rabu (7/9/2022).
Jika seseorang berpegang pada hadits itu, maka akan muncul keyakinan Allah selalu bersama hamba-Nya di setiap aktivitas mereka. Keyakinan itu pula yang akan membuat jiwa seseorang damai dan tenang, karena merasa selalu dekat dengan Allah.
“Apapun yang kita hadapi di dunia ini, Allah selalu bersama kita. Kalau ada kesulitan, Allah akan kasih jalan keluar. Jadi, tidak usah takut kalau ada kesulitan. Karena kita tahu bahwa Allah ada bersama kita. Keyakinan ini yang mahal dan membuat hidup tenang,” kata Ustadz Adiwarman.
2. Selalu Menyebar ManfaatSetelah beriman kepada Allah lalu istiqamah, maka poin kedua yang harus diperhatikan adalah hubungan kepada sesama manusia. Manusia terbaik di dunia bukan yang paling ibadah ritualnya, tapi seimbang antara keimanan dan kebaikan kepada manusia.
Baca Juga: Kisah Rasulullah Memuji Pemuda Bekerja di Pagi Buta
“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 129, Ath-Thabaraaniy Al-Ausath no.5787).
“Beriman kepada Allah merupakan kondisi yang harus ada di setiap muslim. Tapi itu belum cukup, harus bermanfaat kepada sesama manusia,” kata Ustadz Adiwarman.
Beriman kepada Allah tidak boleh bersikap cuek kepada sesama manusia. Keimanan tidak berguna jika ada tetangga kesulitan tapi tidak ditolong, ada orang sakit tidak dijenguk, ada orang meninggal tidak diurus, ada kelaparan tidak dibantu, dan lain sebagainya.
“Kalau Beriman, tapi cuek kepada manusia, tetangga, keluarga, sebaik-baik manusia itu yang paling banyak manfaatnya. Tidak khusus kepada muslim, tapi kepada semua manusia, tidak usah lihat agamanya apa,” katanya.
Salah satu tindakan muliah dari poin kedua ini adalah terbiasa memaafkan orang lain. Saat dipukul, maka reflek ingin Memukul kembali. Namun, manusia terbaik tidak begitu, dia sabar lalu memaafkan orang yang memukulnya itu.
“Orang salah sedikit, maafin ajalah. Memaafkan orang lain itu sebuah kebaikan besar dalam diri kita, bahkan lebih besar daripada kita sedekah,” ucap Ustadz Adiwarman.
3. Membiasakan Berterima KasihSeseorang yang tidak tahu terima kasih kepada manusia yang telah berbuat baik kepadanya, maka dia juga Amat sulit bersyukur kepada Allah. Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:
“Tidaklah dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ustadz Adiwarman menjelaskan, Allah menolong hamba-Nya dengan menggerakkan orang lain memberikan bantuan. Maka itu, orang yang berterimakasih kepada orang lain sama saja bersyukur kepada Allah.
“Memang begitu aturannya. Allah itu menolong kita dengan cara menggerakkan makhluk-Nya untuk menolong kita. Ada saja cara Allah. Allah punya cara-Nya sendiri, oleh karena itu kita harus bersyukur kepada ALlah, dan berterimakasih kepada manusia, karena telah menyediakan dirinya untuk digerakkan oleh Allah memberikan pertolongan kepada kita,” ucapnya.
(jqf)