Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

MUHARRAM BANGKIT BERSAMA (4) | Gubernur Sumbar: Baca Sejarah! Kita Merdeka karena Kompak dan Bersatu

ahmad jilul qurani farid Jum'at, 13 Agustus 2021 - 07:51 WIB
MUHARRAM BANGKIT BERSAMA (4) | Gubernur Sumbar: Baca Sejarah! Kita Merdeka karena Kompak dan Bersatu
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah. Foto: Dok Pemprov Sumber
LANGIT7.ID - Muharram adalah memotivasi dan menyemangati, sekaligus momentum melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Momentum ini adalah hijrah dari kejahilan menuju ilmu pengetahuan, dari keingkaran kepada keimanan, dan dari yang suka bertengkar kepada yang suka persatuan.

Di mana Covid-19 masih mewabah sampai saat ini, begitu banyak permasalahan yang dihadapi. Maka solusinya adalah hijrah. Baca sejarah, kita merdeka karena kompak, bersatu, dan bersinergi. Jangan saling mencurigai, tetapi saling meyakini dan menerima. Dari yang suka merendahkan kepada saling membanggakan. Media juga hijrah, dari senang memberitakan perselisihan, menjadi suka berita kebersamaan. Ucapan dan berita saling merendahkan, sudahilah itu!

Demikian makna Muharram bagi Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah. Bukan sekadar momen pergantian tahun tetapi menjadi momentum bangkit bersama. Berikut petikan wawancara Buya Mahyeldi kepada wartawan LANGIT7.ID Ahmad Jilul Qur’ani Farid, Selasa (10/8/2021), bertepatan dengan 1 Muharram 1443 H:

Buya, apa makna di balik 1 Muharram, khususnya bagi masyarakat Sumatera Barat?

Awal tahun baru hijriah dan peringatan Kemerdekaan RI adalah momentum kebangkitan. Terutama dalam membangkitkan Sumatera Barat sebagai pusat Ekonomi Syariah di Indonesia. Baru saja kita launching dengan Wakil Presiden untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai pusat Ekonomi Syariah dunia.

Seharusnya lebih awal karena kita punya falsafah: adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Masyarakat kita religius. Nilai-nilai religius itu menyatu dengan budaya Sumatera Barat.

Lalu apa makna hijrah bagi ummat di tengah pandemi Covid-19 ini?

Kita sedang merasakan efek dari wabah Covid-19. Dampak kesehatan, ekonomi, dan sosial. Sekarang, orang lebih mudah marah karena perut mereka kosong. Karena itu, kalau mau mengurangi Covid-19 ini, jangan sampai perut masyarakat kosong. Mengatasi dampak Covid-19 ini harus dengan semangat kebersamaan, persatuan, dan kekompakan.

Baca sejarah! Banyak fakta yang menjelaskan, ketika kita kompak, bersatu, dan bersinergi, maka akan hadir semangat dan kekuatan besar. Kita dijajah 350 tahun karena kita belum bersatu. Tapi ketika para pemuda bersumpah pada 28 Oktober, kurang dari 17 tahun, kemerdekaan bisa kita raih.

Awal kemerdekaan juga begitu. Belanda belum senang kita merdeka. Sekutu masih mengirim bala tentara yang disebut agresi Belanda I dan II, atau perlawanan sampai pada 1949. Dari 1945 sampai 1949, tidak kurang dari 11 peristiwa besar di Indonesia. Hampir dua kali setahun, ada peristiwa besar. Tetapi bisa kita atasi karena kompak, bersatu, dan bersinergi.

Baca Wawancara Lainnya: Rektor Perbanas Institute: Perbankan Syariah, Kenapa Masih Ragu?

Lalu pada 17 Agustus 1945. Yang berlaku pada waktu itu kan Piagam Jakarta. Saudara-saudara kita di Timur belum setuju. Mereka menyampaikan, kalau dipertahankan maka mereka akan keluar dari Indonesia. Dengan kebesaran jiwa, demi menjaga persatuan dan kekompakan, berkumpullah para pendiri bangsa ini. Di sana ada Bung Karno, Bung Hatta, dan banyak tokoh lain. Mereka menyikapi masukan saudara kita di Timur. Kesimpuannya adalah kembali kepada UUD 1945. Kenapa itu dilakukan? Karena mereka ingin merawat persatuan.

Di tengah pandemi Covid-19, begitu banyak permasalahan di negeri ini. Ayo kita hijrah. Dari yang suka merendahkan kepada saling membanggakan. Muharram menjadi momentum untuk menghadirkan kebaikan serta semangat persatuan dan kekompakan.

Sebagai provinsi dengan masyarakat religius, apa tantangan terbesar menata sosial dan menuju kebangkitan ekonomi?

Tantangan yang kita hadapi kan masalah pemahaman. Belum samanya pemahaman di antara kita. Paham dan ilmu itu berbeda. Banyak orang berilmu, tahu mereka tentang persatuan, tahu tentang kekompakan, tapi mereka belum paham. Kalau orang paham, kan diamalkan, dilaksanakan, dibuktikan, dan dicontohkan dalam perilaku.

Banyak orang bicara persatuan tapi dari tindakan-tindakannya terkesan memanas-manasi. Senang orang bertengkar terus. Kadang juga lebih senang kita menceritakan kejelekan teman daripada kebaikannya. Itu terbawa juga dalam perilaku kita dalam merespons Covid-19. Kalau kita membaca berita dan mendengar kabar dari teman yang kuliah di luar negeri, berita yang mereka sampaikan selalu baik. Orang yang sehat berapa, penyebabnya apa? Sekarang, tambah banyak orang sehatnya.

Tapi kita (di Indonesia) jarang memberitakan orang sehat. Yang diberitakan orang meninggal, yang menakut-nakuti. Makanya, orang masuk rumah sakit karena melihat berita buruk. Ketika di rumah sakit, stres. Karena stres itulah yang mempercepat penurunan imunitas atau kondisi kesehatan. Di Sumatera Barat, kita sampaikan. Tolong kepada pihak rumah sakit di samping melakukan pengobatan secara medis kepada pasien Covid-19, beri juga bimbingan psikologis dan spiritual.

Baca Wawancara Lainnya: Rektor UIN Jakarta: Indonesia Sangat Dinanti Ummat Islam Dunia

Selain itu, tantangan kita adalah keuangan. Ketika kita ingin melakukan sesuatu, untuk mencapai tujuan tertentu, daya dukung tidak ada yakni modal. Namun demikian, kita di 2021 ini, berusaha mencari Rp300 miliar untuk membayar utang, untuk mencukupi anggaran di daftar perencanaan kita. Maka tentu kita komunikasi ke sana kemari. Kita juga harus betul-betul melakukan penghematan anggaran di provinsi.

Kita berusaha mensinergikan segala potensi yang ada di Sumatera Barat, termasuk yang ada di perantauan. Masyarakat Sumatera Barat di perantauan pun ikut membantu kampung halaman. Konsep bagaimana menyatukan para perantau dengan masyarakat di kampung halaman adalah kekhasan Sumatera Barat. Makanya kita optimalkan konsep nagari. Konsep nagari itu seperti membuat Yayasan Wakaf Nagari oleh masyarakat. Begitu juga dengan kearifan lokalnya.

Ini kita dukung, kita fasilitasi, sehingga potensi yang ada di rantau dan di kampung halaman bersatu mencegah permasalahan. Masyarakat Minangkabau yang suka merantau, punya keterikatan dengan kampung halaman sangat kuat. Ini potensi yang harus kita fasilitasi untuk meringankan beban dari permasalahan kita.

Jika tadi Buya jelaskan peran perantau, bagaimana peran pesantren dan ulama untuk pembangunan Sumatera Barat?

Alhamdulillah, yang patut kita syukuri di Sumatera Barat ini, pemerintah sangat terbantu dengan pesantren-pesantren, sekolah, dan yayasan swasta. Kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap pendidikan cukup tinggi sehingga masyarakat mau mengeluarkan sejumlah uang kalau pendidikan anaknya baik.

Dari situ, kita dorong sekolah-sekolah swasta, yayasan, pesantren-pesantren untuk memiliki keunggulan. Sekolah yang unggul pasti akan dicari orang. Sekolah swasta dan pesantren, kita dorong untuk memiliki keunggulan dan menghadirkan kualitas terbaik sehingga menjadi pilihan bagi banyak orang.

Nah, ketika sekolah swasta, yayasan, dan pesantren berkualitas, jelas orang tua memasukkan anaknya ke sana. Biarlah pemerintah menangani mereka yang susah. Ada warga menangis, tidak punya uang, pemerintah yang menangani mereka. Masyarakat yang punya banyak uang, silakan masuk ke sekolah swasta.

Baca Wawancara Lainnya: Pesan Dubes Al Busyra dari Negeri Hijrah Pertama Para Sahabat

Memang pemerintah tidak bisa mengambil jumlah yang lebih. Nanti DPR tegur kita, setjen tegur kita. Tapi kalau swasta, tidak ada. Makanya kita dorong swasta untuk menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas dan punya keunggulan. Jadi orang susah, ditangani pemerintah. Akhirnya apa? Rata-rata pendidikan kita akan lebih baik.

Perlu juga diketahui, jika di suatu daerah banyak pesantren, maka ekonominya juga bergerak. Seperti, ada banyak pesantren di Kota Padang Panjang dan Kota Payakumbuh. Di sana ada pesantren seperti Insan Cendikia, Ar-Risalah, dan Pesantren HAMKA. Memang biayanya mahal, tapi banyak orang masuk, disamping ada kesempatan untuk anak yang tidak mampu. Jadi sekali lagi, yang kaya masuk ke sana (sekolah berbiaya mahal). Nah, yang susah-susah, biarlah pemerintah yang menangani.

Terkait ulama, sudah jelas adalah pilar utama masyarakat Sumatera Barat. Keberadaan ulama adalah personal yang memang menjadi tempat bertanya, menjadi tokoh untuk memberikan bimbingan dan fatwa kepada masyarakat. Di Sumatera Barat, tidak boleh mencederai ulama. Tidak boleh menyakiti perasaan ulama, karena beliau adalah orang khusus yang menjadi tempat bertanya masyarakat dan juga menjadi orang yang mendoakan masyarakat.

Alhamdulillah, perda-perda yang berkaitan dengan agama atau syariah, kita minta fatwa dan bimbingan para ulama. Termasuk dalam masalah penanganan Covid-19 ini.

Terakhir, terkait toleransi antarumat beragama. Hal ini sering disalahpahami oleh pihak di luar Sumbar. Bagaimana Buya melihat ini?

Alhamdulillah di Sumatera Barat ini, hubungan antarumat beragama tidak ada masalah. Itu terbukti. Kalau mau lihat di beberapa kota, sangat baik internalisasi dan komunikasi antara banyak etnis. Di Sumatera Barat total ada 23 etnis. Semuanya terbangun komunikasi yang sangat baik, saling menghormati.

Seperti di Kota Padang, masyarakat Tionghoa justru mereka sangat fasih berbahasa Minang. Kadang-kadang mereka sudah lupa dengan bahasa ibunya. Bahkan ada di antara mereka yang sudah merantau ke Hongkong, atau jauh ke mana, pulang kampung tetap ke Padang. Tidak ada permasalahan selama ini. Sikap saling memahami satu sama lain sudah terbangun. Masalah antaretnis tidak pernah terjadi.

Kalau ada yang terjadi, sebetulnya karena terlalu di-blow up. Misalnya, ada kejadian di Kota Padang sampai keluar SKB 3 menteri. Kan, sesungguhnya peristiwa dan kejadian itu biasa saja. Tidak menegangkan, tetapi didramatisir. Kemudian diberitakan oleh media-media kurang professional, karena ketika mendapat berita tidak diklarifikasi.

Waktu itu, saya wali kota Padang, juga disalahkan. Bahkan ada yang mengatakan ini karena kebijakan pemerintah. Tidak ada kebijakan pemerintah seperti itu. Kita punya perda yang tidak demikian. Ada yang mengatakan itu kebijakan kepala daerah sebelumnya. Padahal kita punya perda, dan dalam perda jelas dikatakan bahwa masalah pakaian sesuai dengan surat edaran Menteri Pendidikan, dan sesuai dengan surat edaran Kementerian Agama. Tidak ada pemaksaan.

Masalah itu, bukanlah masalah se-Padang atau bahkan se-Sumatera Barat. Sesungguhnya itu hanya kejadian antara wakil kepala sekolah dengan orang tua murid. Tetapi ketika ada yang salah, sesuatu itu dikatakan ‘inilah Padang, inilah Sumatera Barat’. Padahal masalah seorang wali murid dengan wakil kepala sekolah dengan guru yang tidak mengerti aturan. Tapi, banyak yang menceritakan sesuatu yang tidak benar.

Maka, untuk membangun persatuan bangsa, mari bangun komunikasi dan sinergi. Kalau berbeda-beda itu pasti. Makanya lambang negara kita jelas, “Bhinneka Tunggal Ika”. Kan kita Bhinneka, dan itulah kelebihan kita. Maka, pemimpin disebut gagal ketika mereka tidak mampu merawat persatuan, ke mana-mana pasti gagal. Tapi kalau mampu merawat, menjaga, maka ia berhasil. Kenapa? Coba hitung berapa suku bangsa kita, berapa belas ribu pulau, masing-masing pulau beda budayanya.

Artinya, potensi kita diadu domba sangat besar. Tapi ketika pemerintah mampu merawat persatuan dan kesatuan, maka di sanalah kesuksesan. Mudah-mudahan Pak Presiden Joko Widodo dan perangkat beliau bisa menjaga dan merawat perbedaan itu untuk dipahami, bukan untuk dipertentangkan.

(jak)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)