LANGIT7.ID - , Jakarta - Emosi sangat berpengaruh dengan tindakan yang diambil oleh seseorang. Maka itu, ketika emosinya negatif seperti marah, hal tersebut akan membawa ke perbuatan buruk.
Bagi remaja dengan kondisi kejiwaan emosi labil, jika tak mampu mengendalikannya bisa memunculkan dampak buruk. Karena itu, hendaknya seorang remaja diajarkan untuk
mengendalikan emosi negatif.Menurut
Psikolog Anak, Remaja & Keluarga, Jovita Maria Ferliana pengendalian emosi pada remaja membutuhkan peran orang tua maupun sekolah.
Baca juga: Manfaat Kontrol Emosi, Belajar dari Arogansi Pengemudi Pajero SportBeberapa cara di antaranya adalah melalui edukasi berbentuk program-program sekolah. Kemudian jika di rumah,
orang tua hendaknya memiliki waktu berinteraksi dengan anak.
"Orang tua juga melakukan perilaku-perilaku modeling kepada anak bahwa pengendalian diri adalah bagian yang menjadi tanggung jawab seseorang saat dia berinteraksi dengan lingkungannya," kata Jovi kepada Langit7, Rabu (7/9/2022).
Dia mencontohkan dengan
permintaan maaf saat orang tua melakukan kesalahan. Perilaku orang tua ini kemudian bisa menjadi contoh bagi anak untuk mengendalikan diri.
Selain itu, orang tua maupun sekolah juga harus mengajarkan anak tentang
mindfulness atau teknik di mana anak bisa menyadari kondisi dirinya pada saat itu.
Baca juga: Tak Ingin Berurusan dengan Hukum, Yuk Jaga Emosi Saat Berkendara"Artinya, pada saat remaja ini merasa bahwa ada hal-hal yang bisa meningkatkan kondisi emosinya, seperti diejek teman dan lainnya sehingga membuat dia ingin memukul temannya. Teknik
mindfulness ini dapat membantunya," tutur pendiri Little Shine Daycare & Preschool.
Jovi mengibaratkan teknik
mindfulness seperti
lampu merah, kuning dan hijau. Menurut dia, lampu merah pertanda bahwa Anda harus berhenti sejenak untuk menarik nafas ketika terdapat hal-hal yang memancing emosi.
Kemudian, lampu kuning pertanda berhenti sejenak untuk memikirkan langkah apa yang harus dilakukan.
"Lampu kuning waktu di mana dia berhenti sejenak untuk berpikir kalau dia melakukan itu konsekuensinya apa, dan kalau dia tidak melakukan itu apa konsekuensinya," tuturnya.
Lalu, lampu hijau pertanda keputusan yang telah diambil. "Ini hasil dari pemikirannya bahwa dia melakukan itu atau tidak," imbuhnya.
Baca juga: Terjebak Macet? Berikut Tips Kelola Emosi agar Tetap Santai"Kalau remaja diajarkan teknik simpel seperti ini melalui edukasi di sekolah dan di rumah oleh orang tua, maka akan sangat bagus. Karena ini adalah cara yang cukup mempan dipakai oleh seorang remaja agar dia bisa berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu," pungkas Jovi.
(est)