Kebanyakan milenial saat ini ogah bekerja di sektor pertanian dan peternakan, apalagi jika harus terjun langsung ke lapangan sebagai petani dan peternak. Sebab, profesi ini dianggap begitu kuno dan identik dengan pekerjaan orang tua pedesaan.
Padahal kedua sektor ini membutuhkan pemikiran dan inovasi. Terlebih, kaum milenial saat ini sangat melekat dengan yang namanya digital. Dibutuhkan terobosan dan keinginan untuk memajukan kedua sektor ini agar dapat memajukan hasil produk pangan dan ternak guna memenuhi pasok kebutuhan masyarakat dan kesejahteraan pekerjanya.
Menanggapi permasalahan ini, Tatag, muslim asal Tuban tergerak untuk memberikan kontribusinya di dunia peternakan. Tidak memikirkan kerugian, ia nekad membangun peternakan di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang.
“Sektor peternakan itu tidak bisa dipandang sebelah mata, mungkin banyak anak muda kerja di kantoran, yang bersih dan terstruktur. Tapi jangan salah, kalau diibaratkan, punya sapi 10 ekor sama dengan punya 10 unit motor, jadi seperti kita punya showroom,” ujarnya dikanal Youtube PecahTelur.
Baca juga:
Ternaknesia, dari Gagal Jual Kurban Jadi Platform Digital Produk Ternak HalalBaginya, soal struktur kerja dan kebersihan, semua itu kembali kepada penilaian diri masing-masing. Bahkan kedua hal itu juga bisa diterapkan di sektor peternakan, sehingga sedemikian mungkin menghadirkan peternakan yang rapi dan bersih, juga kerja yang terstruktur.
“Jangan memandang peternak itu orang kuno dan pendidikan rendah. Justru beternak itu selain memerlukan ilmu bisnis yang bagus dan mumpuni, perlu juga ilmu sosial dan alam, karena kita berbisnis dengan benda hidup. Saya ingin membawa inovasi digital ke dalam bisnis sapi potong ini,” jelasnya.
Kerap kali peternak merasa dirugikan dalam penjualan hewan ternak dan hasil turunannya saat panen. Hal inilah yang membuat Tatag bergagasan membawa inovasi digital ke bidang sapi potong.
Ia juga memiliki mimpi untuk membuat suatu bank ternak. Di mana harapannya dapat mengakomodir semua orang agar bisa menjadi peternak, dengan keuntungan yang layak.
“Saya rintis dari kandang ini, mau ada riset atau penelitian di sini saya senang sekali. Fokus saya memperbesar kandang dulu dan rencananya saya isi sapi betina dan jantan untuk penggemukan. Ke depan saya juga berencana untuk isi kambing boer, karena siklusnya lebih pendek untuk cashflow,” ujarnya.
Tatag merasa keuntungan dari peternakan sapi memang tidak terlalu besar. Namun, risiko yang ada masih dapat diatasi dengan penanganan dan pemahaman khusus.
Dari penjualan sapi potongya, Tatag mengaku mendapatkan hitungan bersih sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 juta. Semua kembali lagi kepada perawatan, pakan, dan beberapa faktor lain yang mempengaruhi harga, seperti kondisi pasar.
“Kita awal beli sapi Rp18 juta, biaya perawatan per hari Rp20 ribu, tiap hari bobot sapi naik satu kilogram. Kalau di pasaran sekilo daging Rp45 ribu, dikurangi Rp20 ribu, dan operasional Rp5 ribu, berarti per hari dapat Rp15 ribu. Hasil Rp15 ribu dikali 30 itu kan Rp450 ribu. Ini perhitungan kasar kami, akan naik lagi ketika pertumbuhan sapi lebih bagus,” jelasnya.
Gelar Double DegreeTatag bukanlah muslim milenial biasa, segudang prestasi di masa pendidikannya tidak bisa dianggap remeh. Tatag memperoleh gelar double degree, yaitu dua gelar sarjana di masa pendidikan Strata 1-nya.
Muslim yang sudah mendapatkan beasiswa sejak duduk dibangku SMP ini memiliki dua gelar dari Oregon State University, jurusan Bachelor of Science dan Sampoerna University dengan jurusan akuntansi.
Anak ke-2 dari tiga bersaudara ini juga mengaku beasiswa yang ia dapatkan membawa kesuksesan untuk meraih mimpinya saat ini. Selain itu, sejak SMP hingga mendapatkan gelar doubel degree-nya ia dapatkan dengan gratis melalui beasiswanya.
“Semua lulus dengan predikat magna cum laude (dengan kehormatan besar). Dulu ketika masih di perguruan tinggi saya punya impian, tahun pertama IPK 4, tahun kedua ingin jadi ketua organisasi dan menang lomba juara 1, bahkan menang mahasiswa berprestasi tingkat Jabodetabek, tahun ketiga magang, tahun keempat Alhamdulillah punya tabungan untuk beli tanah yang sekarang saya tempati untuk kandang ternak, semua Alhamdulillah tercapai,” tuturnya.
Baca juga:
Muslim Milenial Pilih Jadi Petani, Kini Sukses Bangun Pertanian ModernBaginya, untuk mendapatkan kesuksesan memang bukan hal mudah. Setiap pekerjaan perlu dilakukan dengan kecintaan agar tidak banyak mengeluh.
Bahkan, karena kecintaannya Tatag mengaku setiap melakukan pekerjaannya ibarat sedang melakukan permainan yang ia gemari. Sehingga dengan ketulusan itu, pekerjaannya dapat diselesaikan dengan mudah dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.
“Dulu saya kuliah itu tidur hanya tiga jam, jadi memang saya bagi waktu dari pukul 09.00-16.00 WIB itu fokus kuliah dan kerja, sisanya saya lanjut kerja, mengerjakan tugas dan main sebentar, lalu istirahat. Seperti itu terus sikulsnya setiap hari,” ujarnya.
Semasa kuliahnya dulu, Tatag memang sudah memegang beberapa proyek pekerjaan. Sehingga dari hasil tersebut ia sudah mampu membeli tanah seluas 2.500 meter persegi yang digunakan sebagai peternakan di kampung halamannya ini.
Merasa jauh dari keluarganya setelah sekian lama di perantauan, Tatag memutuskan untuk pulang ke Tuban, saat itu ia bekerja sebagai konsultan bisnis untuk proyek internasional. Ia merasa cukup mendapatkan berkah, karena selain bisa dekat dengan keluarganya, kini ia juga telah memiliki usaha sendiri, yakni peternakan sapi potong.
“Milenial sekarang sukanya kan yang instagramable, saya juga punya impian semoga tiga tahun lagi bisa membangun kawasan edukasi dan rekreasi di sini. Saya akan bangun cafe, ada peternakan sapi, kambing, dan petani yang ada sayurannya juga di sini. Buat saya, rugi di awal anggap itu biaya kita belajar. Maka rugilah di awal untuk pelajaran meraih sukses di kemudian hari,” imbuhnya.
(zul)