LANGIT7.ID, Jakarta - Melepas anak perempuan merantau ke luar negeri atau ke pelosok daerah, mungkin masih berat dilakukan sebagian orang tua. Tapi Siti Nurlaila Indriani atau akrab disapa Indri, berhasil menepis keraguan orang tuanya untuk bisa hidup mandiri di luar kota bahkan luar negeri.
Mulai saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Jogja, mengabdi di daerah pelosok Indonesia hingga menjalani S2 di luar negeri. Muslimah kelahiran Balikpapan, 24 Februari 1993 ini tidak hanya membuktikan pada orang tuanya tapi juga banyak orang yang sempat meragukan cita-citanya untuk bisa kuliah di UGM hingga jadi penerima beasiswa LPDP RI dan meraih gelar Master of Engineering (Sustainability Energy) di RMIT University, Melbourne, Australia.
Indri pernah melakukan pengabdian menggalakkan energi terbarukan di pelosok Kolaka Sulawesi Tenggara dalam program Patriot Energi di bawah Kementerian ESDM. Saat kuliah, ia juga aktif di belasan organisasi diantaranya adalah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia.
Tentu segala yang dilakukan Indri tidak hanya sekedar pembuktian, tapi juga tentang pengabdian dan tanggung jawab di bidang yang ia tekuni agar lebih bermanfaat untuk banyak orang. Ambisi diikuti aksi dan perjuangan nyata, membuatnya siap menghadapi segala kesempatan dan perubahan yang datang secara tiba-tiba.
Bagaimana cerita tentang semangat Indri menempuh pendidikan, meyakinkan orang tua hingga kini juga dikenal sebagai aktivis lingkungan? Simak cuplikan wawancara wartawan
Langit7.id Dwitisya Rizky Desindatika bersama Indri:
Bisa diceritakan bagaimana persiapan dan proses melanjutkan studi ke luar negeri?Saat kuliah aku merasa kalau S1 saja sudah cukup, dan bagaimana caranya biar cepat lulus. Tapi setelah lulus, kemudian bekerja, lalu terpikir tidak bisa jika hanya jenjang S1 saja, karena mumpung ada ilmu, mumpung ada umur, mumpung masih muda.
Waktu itu juga sempat ada dilema dengan pekerjaan sebagai
engineer itu
wow banget, seperti aku keterima di Pertamina dan beberapa perusahaan besar di bidang pengelolaan energi minyak dan gas bumi.
Akhirnya itu semua aku lepas. lalu aku berdiskusi dengan teman-teman dan keluarga, meyakinkan kalau pekerjaan dan uang Insya Allah bisa didapat lagi, tapi kalau kesempatan ilmu kapan lagi?. Kemudian aku fokus mengejar S2, aku belajar bahasa inggris di Pare persiapan program IELTS sambil mendaftar program S2 di luar negeri.
Sama seperti sekarang ketika aku memilih pekerjaan, aku memilih di mana kira-kira tempat aku bisa berkembang, belajar dan bisa meningkatkan ilmu. Karena manusia itu kan pasti terbatas, hanya saja kita tidak tahu batas kita sampai kapan kan?.
Saat mendapat pekerjaan juga yang membuat aku tertarik yaitu tentang research. Sesuatu yang sangat ingin aku tutup buku ketika S2, tapi ternyata menarik dengan kita tetap belajar dan mendapat hal baru ternyata dari pekerjaan ini bisa melanjutkan Ph.D (S3).
Hal itu yang membuat aku lagi-lagi menyadari kapan lagi ada kesempatan seperti ini, di saat masa pandemi Covid-19 orang-orang sudah dapat kerja bahkan kehilangan pekerjaan. Tapi aku Alhamdulillah dapat tempat untuk bisa belajar dan ada kesempatan untuk lanjut kuliah. Jadi saat dijalani memang kita selalu merasa cukup, tapi ketika sudah selesai, ada perasaan ingin
improve gitu.
Menurut Kak Indri, seberapa berpengaruh lingkungan dalam meningkatkan semangat? Lingkungan pasti sangat berpengaruh, karena tanpa lingkungan kita gak akan dapat yang namanya
enabling environment atau lingkungan yang bisa membantu kita tumbuh. Kalau dari pribadi aku,
enabling environment aku itu pastinya teman-teman seperti saat aku masuk sekolah unggulan.
Ternyata di sana tempat aku berpikir, aku gak mau hanya kuliah di Indonesia karena banyak yang ingin berkuliah di luar negeri. Ditambah kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni karena di sekolah juga jadi sesuatu yang wajib karena sekolah bertaraf internasional. Jadi itu sangat berpengaruh.
Selain itu juga, masuk dalam lingkungan orang-orang yang memiliki cita-cita. Lingkungan yang membuat kita merasa kita tidak jadi orang aneh ketika ingin melakukan hal tersebut. Karena kalau kita di lingkungan stagnan lalu melihat seseorang yang memiliki mimpi pasti kan sering, "wah mimpinya gak usah jauh-jauhlah."
Ada saja yang seperti itu bahkan dari keluarga sendiri. Jadi bagaimana kita bisa memilih seperti apa sih lingkungan yang menurut kita bisa menjadi enabling environment itu dan kita jaga. Kemudian menentukan kriteria lingkungan seperti apa sih yang aku mau, nah di situ yang aku cari di setiap tempat.
Saya lihat Kak Indri sangat aktif berorganisasi. Nah apakah itu menurut kakak sekadar hobi? Atau sesuatu yang harus dilakukan bagi mahasiswa di perkuliahan?Saat kuliah memang berubah ya orientasinya. Terutama momen saat aku Ospek di Teknik UGM, aku teringat dengan kata-kata ketua BEM yang mengatakan kalau tidak semua orang bisa berkesempatan kuliah, dan bagi yang mendapat kesempatan tersebut kini menopang harapan-harapan untuk membangun Indonesia. Mulai dari situ mulai tumbuh idealisme-idealisme yang berbeda dari saat di SD hingga SMA.
Jika saat sekolah, idealisme kita hanya belajar dan berprestasi, kini sebagai mahasiswa kita merasa harus berjuang dan menyuarakan kebenaran. Total selama kuliah ikut 12 organisasi, ikut serta di kepanitiaan beberapa acara kampus dan kegiatan volunteer.
Berorganisasi juga melatih banyak hal. Meskipun terpikir ngapain kita capek-capek di akhir pekan untuk rapat organisasi, padahal enak kalau hanya santai dan tidur-tiduran di kosan saat hari senggang. Selain penting, ikut dan menjalani kegiatan organisasi juga kembali lagi pada passion masing-masing.
Organisasi banyak membuat kita belajar hal-hal yang tidak terukur, dan tidak didapatkan di kelas. Saat di kelas aku belajar teori tentang hukum Fisika dan aku mendapat nilai A, tapi apakah selalu bisa diaplikasikan? Nah kalau di organisasi kita banyak belajar tentang kehidupan yang mendasar. Aku menjadi seperti sekarang juga karena berorganisasi.
Kakak sudah sering merantau nih, bagaimana kakak meyakinkan orang tua kalau kakak itu mampu merantau tinggal jauh dari orang tua?Hidup itu proses, seperti tadi aku bilang manusia itu multidimensi dan multi-time. Kita gak bisa menilai seseorang hanya di satu waktu dan satu tempat karena pasti akan berubah. Membangun kepercayaan itu prosesnya panjang, nah saat melakukan itu juga harus disesuaikan dengan karakter keluarga masing-masing.
Aku pernah ijin ke orangtua ikut pertukaran pelajar ke Amerika saat SMA, tapi gak diijinin biarpun sudah nangis-nangis. Ya karena pengalaman dari SD sampai SMA gak pernah jauh dari orang tua. Saat kuliah pun waktu itu pilihannya antara Bandung dan Jogja. Akhirnya diberi izin menempuh pendidikan di UGM karena ada beberapa keluarga di Jawa.
Ternyata selama di Jogja banyak hal yang aku lakukan, selain fokus belajar juga ikut kegiatan organisasi yang membuat aku harus memenuhi undangan ke beberapa kota bahkan hingga ke Riau, sehingga itu jadi pengkayaan diri. Setelah lulus kuliah juga mengabdi sebagai Patriot Energi di Kementerian ESDM dan kerjanya di Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Ketika semua ternyata bisa aku jalani, baru kemudian ke luar negeri. Jadi itu prosesnya, selama proses itu kita harus improve bahkan di setiap harinya sampai akhirnya kalian membuktikan kalau kalian bisa diberi kepercayaan dan bertanggung jawab.
Sebagai sosok yang juga dikenal sebagai aktivis lingkungan, bagaimana Kak Indri mulai menerapkan aksi ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari?Semua latar belakang studi dan pemikiran pasti setuju kalau isu lingkungan ini adalah permasalahan bersama. Tentu kita tidak mau bumi kita hancur, dan seiring waktu juga masyarakat semakin menyadari kalau bumi sedang tidak baik-baik saja.
Kalau dari aku bergerak di bidang lingkungan jadi salah satu cara untuk tahu kondisi lingkungan dan permasalahannya. Kemudian yang bisa semua orang lakukan adalah menjaga lingkungan untuk bertanggung jawab sebagai manusia yang diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk merawat bumi.
Tentang
zero waste lifestyle, kalau namanya sampah juga pasti ada hanya jumlahnya mungkin bisa dibatasi dengan menerapkan
sustainability. Kalau dari aku sederhana ya, kadang kita berpikir bagaimana cara
recycle. Padahal yang harus kita lakukan itu
reduce. Reduce is better than recycle and reuse.
Karena adanya sampah itu berasal dari perilaku konsumtif manusia. Sebenarnya kalau kita berhenti atau mengurangi beli sesuatu berarti kita berhenti menghasilkan sampah. Kalau aku sendiri ini jadi prestasi juga karena aku itu orangnya suka belanja, dan sudah sekitar 1 tahun aku benar-benar mengurangi belanja hal-hal yang bukan kebutuhan pokok.
Sebentar lagi momen kemerdekaan. Menurut Kak Indri, kontribusi apa yang bisa dilakukan anak muda sebagai anak bangsa yang relevan dengan zaman sekarang?Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Tapi poinnya apapun yang dilakukan kembali ke
passion kita. Kalau aku sendiri, bagaimana melakukannya lewat organisasi atau saat mengisi acara menyelipkan semangat-semangat patriotisme, membagikan hal-hal positif lewat media sosial juga bisa dilakukan.
Jadi menurutku dengan cara-cara itu kita bisa membangun generasi muda ini untuk memahami patriotisme, nasionalisme. Dua hal itu tidak terbatas pada agama, suku, dan ras, tapi jadi proses tiap orang untuk memikirkan diri sendiri dan juga orang lain.
(jqf)