LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 10 adab
berbisnis dalam Islam yang bisa menjadi acuan para pelaku usaha muslim. Tata cara ini disampaikan langsung oleh pakar muamalah Ustadz Oni Sahroni.
Ustadz Oni mengatakan, adab ini perlu diperhatikan guna terhindar dari pelanggaran syariat. Termasuk pada kerugian usaha maupun investasi yang dilakukan.
Berikut 10 adab bisnis dan investasi menurut orang Indonesia pertama peraih gelar doktor di bidang Fiqih Muqarin dari Universitas al-Azhar, Kairo ini:
Baca Juga: Berbisnis dengan Allah SWT, Ini Balasan Bila Suka Berinfak1. Totalitas, proporsional dan lillahTotalitas mengais maisyah agar berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan yang diridai Allah SWT, dan merawat komitmen dengan ibadah dan khidmat. Maisyah sendiri berarti mencari penghidupan bersumber dari yang halal sebagai kewajiban bagi seorang Muslim.
2. Bijak dalam bisnis dan berinvestasiBisnis dan investasi perlu dilakukan dengan bijak. Sehingga tidak mengganggu porsi keuangan untuk kebutuhan utama, seperti kecukupan dalam rumah tangga.
Baik dalam bisnis maupun berinvestasi, nominal dan jenis investasi harus sesuai dengan perencanaan keuangan pribadi atau keluarga.
3. Mitra amanah dan profesionalMemilih mitra, baik secara personal maupun lembaga harus yang amanah dan profesional. Di antaranya seperti memiliki reputasi yang baik dan berizin operasional.
4. Diawasi otoritasLegal, artinya berizin otoritas atau tidak bertentangan dengan regulasi yang ada. Sehingga terhindar dari transaksi terlarang, seperti kasus binomo yang sempat dialami sebagian masyarakat.
5. HalalAda 3 kategori halal yang dimaksud, antara lain:
Ada usaha riil atau barang yang diperjualbelikan;
Kontrak yang halal, transparan, dan disepakati;
Memilih yang toyyib dan prioritas.
6. Bukan transaksi terlarangUntun menghindari hal ini, maka masyarakat bisa mengacu pada poin ke-5 terkait kehalalan. Termasuk yang terlarang di antaranya adalah judi atau transaksi ilegal lainnya walaupun berlabel investasi.
7. Menguntungkan dan mitigasi risikoUntuk bisa mendapatkan keuntungan, maka Sahabat haruslah melakukan perhitungan matang terkait modal dan perputaran uangnya nanti.
Hal ini sebagai upaya mitigasi risiko dalam bisnis maupun investasi. Seperti para sahabat Rasulullah yang lebih memilih menyewakan lahan mereka daripada menggunakan kerja sama bagi hasil, karena sewa lahan lebih bisa diandalkan untuk mendapatkan fixed income.
8. Ihsan dan profesionalIni lebih kepada tanggung jawab tugas ketika bermuamalah, termasuk hubungannya dalam bisnis maupun berinvestasi. Jadi, Sahabat perlu patuh akan kesepakatan bersama dan memiliki etika bisnis maupun etika kerja, seperti tidak melalaikan tugas.
9. Sarat akan akhlakiyat dan adabPoin ini berkenaan dengan wara' dan muru'ah dalam ajaran Islam. Wara' adalah kehati-hatian terhadap sesuatu yang haram, di mana hal itu bertujuan untuk menjaga kehormatan diri maupun kehormatan orang lain (muru'ah).
10. Menunaikan zakat dan infakKonsep keberhasilan dalam bisnis dan investasi dalam ajaran Islam tidak lepas dari nilai berbagai (sedekah). Untuk itu, kaum muslimin juga harus memasukkan budget mereka untuk menunaikan zakat dan infaknya, dengan keyakinan mendapatkan kemudahan perkembangan bisnis dan investasi yang mereka jalankan.
(bal)