LANGIT7.ID, Jakarta - Snack bar anti-stunting menjadi salah satu terobosan mahasiswa
Universitas Gadjah Mada (UGM). Makanan ini menjadi solusi terhadap masalah anak kurang gizi.
Snack ini merupakan biskuit sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk mengatasi masalah stunting yang banyak diderita anak negeri. Terlebih, harga dari snack bar
anti-stunting yang terbilang murah.
"Alasan dipilihnya produk snack bar karena cemilan ini disukai anak-anak dan memiliki masa simpan yang cukup lama," kata Adiva Aphrodita, mahasiswa Fakultas Biologi, seperti dilansir laman resmi
UGM, Selasa (20/9/2022).
Adiva menjelaskan, bahan untuk membuat snack bar anti-stunting ini cukup mudah ditemui. Juga dapat memenuhi tiga zat gizi utama pencegah stunting, yaitu protein, zat besi, dan seng.
Baca Juga: Buku Spicestory Karya Mahasiswa UGM, Bikin Anak Minat BacaSprouted Snack Bar (SSB) ini terbuat dari bahan utama kacang merah berkecambah, beras merah berkecambah, kacang kedelai berkecambah, dan pisang.
Bahan itu dipilih karena kedelai, beras merah, dan kacang merah yang telah berkecambah mengandung protein tinggi, serta memiliki kadar zat besi dan seng yang meningkat.
“Inovasi SSB ini mampu menjadi alternatif jajanan bergizi untuk anak sekolah. Dengan adanya produk ini, diharapkan ada peningkatan kualitas makanan untuk anak-anak, sehingga dapat menekan angka stunting di Indonesia,” ujarnya. Adiva.
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4 persen.
Angka ini menurun 6,4 persen dari tahun 2018 yang sebesar 30,8 persen. Namun angka itu masih tergolong tinggi dan berada di atas standar yang ditoleransi WHO, yaitu di bawah 20 persen.
“Konsumsi pangan tinggi protein dapat meningkatkan sintesis albumin serum darah, sehingga memicu pembentukan sel saat pertumbuhan dan menjaga organ hati sehat. Sedangkan, zat besi membantu sintesis kolagen jaringan tulang, dan seng membantu peningkatan panjang dan berat tulang femur,” jelasnya.
Seperti diketahui, Adiva mengembangkan produk ini bersama empat mahasiswa UGM lainnya, yaitu Matilda Jesseline Gabriela Giovanni (Fakultas Biologi 2020), A. Najib Dhiaurahman (Fakultas Biologi 2020), Felisitas Mellania Ajeng Anggraeni (FK-KMK 2019), dan Nur Afni Oktri Fiana (FTP 2019), di bawah bimbingan Lisna Hidayati.
(bal)