LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Dewan Pers dan Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Prof. Dr. Azyumardi Azra, meninggal dunia saat menjalani perawatan di Selangor, Malaysia pada Ahad (18/9/2022). Jenazah lalu diterbangkan ke Tanah Air pada Senin (19/9/2022), lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (20/9/2022).
Azyumardi dalam kenangan Wakil Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Jamhari Makruf, merupakan sosok intelektual yang tidak bisa tidur dan inspiratif mengubah pendidikan Islam.
Azra lahir di Padang, Sumatera Barat, 1955. Ia menempuh pendidikan di Columbia University, New York, dan meraih gelar PhD pada 1992. Tesisnya berjudul “Transmisi Reformisme Islam ke Indonesia: Jaringan Ulama Indonesia Timur Tengah dan Melayu pada Abad Ketujuh Belas dan Delapan Belas”.
Buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia sebagai Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1994), dan dalam bahasa Inggris sebagai
The Origin of Islamic Reformism in Southeast Asia (2004).
Baca Juga: Alasan Kebangkitan Islam Tak Kunjung Terwujud Menurut Azyumardi Azra
"Karya tersebut terbukti mengilhami badan baru yang bekerja pada beasiswa sarjana Muslim Asia Tenggara dan hubungan mereka dengan tradisi Timur Tengah," kenang Jamhari, dikutip dari laman resmi Universitas Melbourne, Selasa (20/9/2022).
Namun, saat pertama kali kembali ke Institut Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1992, Azra menemukan Islam di Asia Tenggara kurang dipelajari. Oleh karena itu, dia menjadikan misinya untuk meningkatkan jurnal Studia Islamika unggulan universitas. Ini menjadi bagian penting dari tujuan yang lebih luas, untuk membantu orang Asia Tenggara lebih memahami dan mendukung Islam seperti yang dipraktikkan di wilayah mereka. Kajian Islam Asia Tenggara tersebut kini lebih dikenal dengan Islam Nusantara.
Di bawah kepemimpinan Azra yang tak kenal lelah, Studia Islamika berubah menjadi jurnal internasional yang terbit dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Segera menjadi jurnal terkemuka dan terindeks untuk studi Islam di Asia Tenggara. Jurnal Indonesia yang telah mengikuti jejaknya, tetapi Studia Islamika adalah yang pertama.
Tak hanya itu, Azra juga mempelopori transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Indonesia. Dari lembaga yang hanya mengajarkan mata pelajaran agama, mereka menjadi universitas (kini dikenal sebagai UIN), di mana ilmu-ilmu keislaman dan umum dikaji di satu kampus.
Baca Juga: Sejarah IAIN di Indonesia, hingga Bertransformasi Menjadi UIN
Azra memulai transformasi itu untuk pertama kalinya di IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah pada 2002. Sering bekerja, berdebat, dan membujuk hingga larut malam, dia memajukan visinya tentang pendidikan baru, modern, global bagi umat Islam Indonesia. Meski tak dipungkiri Azra mendapat banyak tantangan, baik di kampus dan pihak luar.
Azra bersikeras mendirikan fakultas kedokteran di universitas baru tersebut, serta fakultas baru lain seperti seperti psikologi, ekonomi dan bisnis, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ilmu sosial dan politik. Itu untuk menandai perubahan nyata ke arah transformasi tersebut.
Dia punya caranya sendiri, dan sekarang sebagian besar lembaga pendidikan tinggi Islam telah mulai mengajarkan disiplin ilmu ini juga. Bahkan, kesuksesan Azra di Jakarta segera dicontoh oleh IAIN lain di Indonesia. Itu memicu gelombang perubahan yang berarti bagi negeri ini. Kini, Indonesia memiliki 29 UIN, sebuah penghargaan luar biasa atas visi dan komitmen Azra.
Kontribusi Azra terhadap pendidikan Islam dan mobilisasi umat Islam di Indonesia sangat banyak. Dia berpendapat, misalnya, umat Islam harus mengembangkan sekolah luar biasa yang mempelajari masalah sekitar seperti lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan bukan hanya dari perspektif agama.
"Dia melihat ini sebagai hal yang penting jika umat Islam ingin mencapai hasil sosial, ekonomi dan politik yang lebih baik," tutur Jamhari.
Memperjuangkan Kualitas MusimSebagai seorang intelektual publik sejati, Azra juga menerbitkan dan berbicara secara luas, baik di Indonesia maupun di luar negeri, tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi. Dia terus-menerus menekankan perlunya berpikir tentang kualitas Muslim yang berpartisipasi dalam urusan global.
Baca Juga: Syarat Kebangkitan Peradaban Islam Menurut Azyumardi Azra
Dia beralasan, muslim di seluruh dunia harus memberikan stabilitas politik bagi semua orang di negara mereka melalui demokrasi. Dengan cara ini, Azra berpendapat, umat Islam benar-benar dapat menerapkan ajaran bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta (
rahmatan lil’alamin).
Mempromosikan Toleransi BeragamaAzra juga dikenal luas karena komitmennya untuk mempromosikan toleransi beragama. Dia mendukung ideologi negara, Pancasila, sebagai cara untuk menyatukan komunitas Indonesia yang beragam.
Secara terbuka Azra mengecam muslim yang bertindak ekstremis atas perlakuan mereka terhadap non-Muslim. Sebagai rektor Syarif Hidayatullah, dia secara kontroversial mendorong siswa non-Muslim untuk belajar di sana, dan mewajibkan pendidikan kewarganegaraan, untuk memastikan semua siswa terbiasa dengan konsep demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai-nilai kewarganegaraan.
"Ini adalah beberapa pesan yang Azra rencanakan untuk disampaikan pada pertemuan di Kuala Lumpur, seperti yang dia lakukan di banyak pertemuan lainnya, di banyak tempat berbeda di seluruh dunia, selama bertahun-tahun," ujar Jamhari.
(jqf)