Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Alasan Kebangkitan Islam Tak Kunjung Terwujud Menurut Azyumardi Azra

Muhajirin Senin, 19 September 2022 - 07:03 WIB
Alasan Kebangkitan Islam Tak Kunjung Terwujud Menurut Azyumardi Azra
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Azyumardi Azra (foto: aminef.or.id)
LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra, memiliki penjelasan tentang kebangkitan peradaban Islam yang tak kunjung terwujud di tengah gempuran peradaban Barat.

Pandangan tersebut semestinya disampaikan dalam Persidangan Antarbangsa Kosmopolitan Islam "Menghilham Kebangkitan, Meneroka Masa Depan" di Bangi Avenue Convention Centre, Kajang, Selangor, Malaysia, pada 17 September 2022. Namun takdir berkata lain, Prof Azra jatuh sakit dan harus dirawat intensif sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Malaysia.

Dalam pandangannya, Prof Azra menyebut ada pencapaian-pencapaian tertentu yang membuat kalangan muslim bisa optimis tentang ‘kebangkitan peradaban’. Namun, ada pula gejala-gejala dan kecenderungan yang membuat pandangan itu hanya sekadar retorika daripada kenyataan.

Baca Juga: Kabar Duka, Prof Azyumardi Azra Meninggal akibat Serangan Jantung

“Memang belum ada evaluasi dan asesmen yang komprehensif tentang kondisi peradaban muslim dewasa ini; tetapi setidak-tidak sejumlah observasi telah dilakukan banyak kalangan, khususnya para ahli peradaban muslim sendiri,” tulis Azra dalam makalahnya.

Secara demografis, jumlah umat Islam meningkat signifikan di tingkat internasional. Diperkirakan lebih dari 1,9 miliar jiwa pada 2022. Dengan jumlah yang terus meningkat itu, umat Islam sebenarnya memiliki potensi besar dalam membangun peradaban Islam dan peradaban dunia secara keseluruhan.

Akan tetapi, potensi itu belum bisa diwujudkan. Jumlah umat Islam yang besar belum bisa menjadi aset, tetapi sering lebih merupakan utang. Hal ini karena kebanyakan umat Islam tinggal di negara-negara berkembang; atau bahkan di negara-negara terbelakang.

“Yang secara ekonomi menghadapi berbagai kesulitan berat seperti kemiskinan dan pengangguran yang terus meningkat seiring meningkatnya krisis energi dan krisis pangan dunia,” tutur Azra.

Baca Juga: Anwar Abbas: Prof Azyumardi Azra, Tokoh Bangsa Yang Mendunia

Selain itu, umat Islam juga menghadapi masalah dalam kondisi ekonomi, sosial dan politik yang tidak menentu, serta pendidikan yang sering di bawah standar. Banyak pula anak muslim putus sekolah. Bagaimana bisa memajukan peradaban Islam Jika masa depan mereka sendiri masih tanda tanya.

Memang ada negara-negara muslim yang kaya berkat minyak yang mendatangkan 'durian runtuh' terus-menerus karena kenaikan BBM. Tapi, rezeki itu tidak mengalir ke negara-negara muslim yang miskin dalam bentuk hibah atau investasi. Jika ada, jumlahnya tidak signifikan, dan bisa dikatakan hanya berupa tetesan (tricle) belaka.

Maka itu, negara-negara muslim miskin dan tengah berkembang harus mengandalkan sumber lain, termasuk menambah hutang dari negara atau lembaga keuangan Barat seperti World Bank, IMF, dan sebagainya.

“Keadaan ini tidak bisa lain hanya menambah ketergantungan pada pihak Barat, yang pada gilirannya memiliki implikasi ekonomis, politis, dan bahkan psikologis di kalangan umat Muslimin,” kata Azra.

Baca Juga: Azyumardi Azra, Tokoh Muslim Bangsa yang Torehkan Prestasi Dunia

Salah satu dampak psikologis itu adalah menguatnya sikap mental konspiratif, para penguasa negara-negara muslim berkolaborasi dengan pihak Barat. Misal, untuk mengembangkan ekonomi pasar yang liberal di negara-negara muslim dengan mengorbankan potensi-potensi ekonomi dalam masyarakat muslim sendiri.

Dampak lebih lanjut dari psikologi konspiratif ini mengalir ke dalam kehidupan politik, dalam bentuk ketidakpercayaan pada rezim yang berkuasa. Itu bisa mendorong keberlangsungan instabilitas politik terus menerus di banyak negara muslim.

Dampak itu membuat kalangan muslim (terkhusus sebagian ulama, pemikir, dan aktivis muslim) terperangkap ke dalam sikap defensif, apologetik dan reaksioner. Mereka juga terpenjara ke dalam enclosed mind atau captive mind, mentalitas tertutup yang penuh kecurigaan dan syak wasangka.

Akibatnya kalangan Muslim seperti ini lebih asyik dalam masalah-masalah furu’iyyah atau cabang yang kurang pentinf, baik dalam bidang sosial, budaya, pemikiran dan keagamaan. Itu membuahkan keterjerambaban ke dalam tindakan dan aksi- aksi yang kurang produktif dalam upaya memajukan peradaban muslim.

Baca Juga: Prof Azyumardi Azra Intelektual Kebanggaan Dunia Islam

Maka itu, jika ingin berbicara tentang kemajuan peradaban muslim, sudah waktunya umat Islam membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan pikiran tertutup. Pada saat yang sama lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban muslim di masa silam.

“Tak kurang pentingnya, kaum Muslimin seyogyanya lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif,” kata Azra.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan