Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Syarat Kebangkitan Peradaban Islam Menurut Azyumardi Azra

Muhajirin Senin, 19 September 2022 - 13:10 WIB
Syarat Kebangkitan Peradaban Islam Menurut Azyumardi Azra
Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Jakarta - Guru Besar Sejarah Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra, menilai umat Islam memiliki potensi besar dalam membangun peradaban Islam, bahkan peradaban dunia secara keseluruhan. Itu bisa dilihat dari jumlah umat Islam yang diperkirakan mencapai 1,9 miliar pada 2022.

Indonesia dan Malaysia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim bisa menjadi tulang punggung kebangkitan peradaban Islam. Namun, potensi itu kadang tidak disadari oleh mayoritas umat Islam, sehingga lebih banyak terjebak dalam romantisme kejayaan Islam masa lalu, daripada melihat masa depan.

Berikut ini, enam prasyarat kebangkitan peradaban Islam menurut Prof Azyumardi Azra:

1. Stabilitas Politik

Prasyarat utama adalah stabilitas politik. Demokrasi Indonesia yang telah diadopsi dan dipraktekkan sejak 1999 masih perlu dikonsolidasikan dalam tiga hal yakni basis konstitusional-legal, kelembagaan (parpol, legislatif dan eksekutif), dan budaya politik.

Baca Juga: Alasan Kebangkitan Islam Tak Kunjung Terwujud Menurut Azyumardi Azra

“Hanya dengan konsolidasi lebih lanjut dapat ditegakkan good governance, penegakan hukum, dan kohesi sosial,” tulis Azra dalam makalah yang semestinya hendak disampaikan dalam Persidangan Antarbangsa Kosmopolitan Islam ‘Menghilham Kebangkitan, Meneroka Masa Depan’ di Bangi Avenue Convention Centre, Kajang, Selangor, Malaysia, pada 17 September 2022.

Di sisi lain, Indonesia dan Malaysia perlu konsolidasi kekuatan politik umat Islam yang tercerai berai dalam beberapa tahun terakhir. Keadaan ini jelas tidak menguntungkan untuk mempertahankan hegemoni politik dan kekuasaan Melayu, baik di eksekutif maupun legislatif.

“Juga tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi yang mutlak perlu bagi kemajuan puak Melayu khususnya,” tutur Azra.

Menurut Azra, konsolidasi demokrasi dan politik di kedua negara berpenduduk mayoritas muslim ini mutlak diperlukan untuk pembangunan peradaban utama.

Tetapi juga jelas, proses politik demokrasi di Malaysia dan Indonesia masih menyisakan banyak masalah, sejak dari fragmentasi politik, kepincangan politik, oligarki politik, korupsi, tidak fungsionalnya check and balances dan seterusnya.

2. Pendidikan

Menurut Azra, pendidikan merupakan prasyarat mutlak bagi kebangkitan peradaban Islam. Indonesia dan Malaysia bisa menjadi tulang punggung kebangkitan peradaban.

Namun, kedua negara tak hanya harus mencapai pemerataan (equity), tapi harus meningkatkan kualitas pendidikan sejak dari tingkat dasar, menengah, sampai pendidikan tinggi.

Baca Juga: Kritik Terakhir Prof Azyumardi Azra: Kualitas Demokrasi Menurun

“Hanya dengan pendidikan seperti itu, kaum muda negeri ini dapat bertransformasi bersama menuju kemajuan peradaban,” ujar Azra.

Dalam konteks itu, terkhusus pendidikan tinggi, harus dikembangkan tak sekadar menjadi teaching higher institution (universitas pengajaran), tapi sekaligus menjadi research institution. Proses pendidikan di perguruan tinggi sudah waktunya berbasiskan riset (research-based education).

3. Pemberdayaan Masyarakat

Salah satu agenda pokok yang harus dilakukan secara berkelanjutan adalah pemberdayaan kembali masyarakat madani. Hal tersebut selama ini bukan tidak mengalami disorientasi karena proses politik manipulatif dan divisif.

Masyarakat madani memiliki peran yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Masyarakat sipil hendaknya terus berdiri di depan dalam pemberdayaan masyarakat dalam upaya mewujudkan peradaban utama yang demokratis dan berkeadilan.

4. Peningkatan Keadaban Masyarakat

Azra menjelaskan, salah satu kunci pembentukan peradaban utama adalah pengembangan dan peningkatan keadaban masyarakat (public civility). Dalam disrupsi sosial-kultural sebagai dampak Revolusi 5.0, keadaban publik kian merosot dalam bentuk pelanggaran hukum, hingga rendahnya kedisiplinan masyarakat.

Banyak orang tidak malu melakukan hal bertentangan atau tidak sesuai dengan keadaban publik. Pemerintah dan masyarakat harus memberikan perhatian khusus pada penegakan kembali etika dan keadaban publik.

“Hanya dengan keadaban publik yang kuat, negara Indonesia dapat maju, berharkat, dan berperadaban,” ungkap Azra.

5. Meningkatkan Ekonomi Berkeadilan

Peradaban Islam tidak akan terbentuk bila negara-negara muslim tidak memiliki tingkat kemajuan ekonomi berkeadilan. Selama masih banyak umat Islam yang miskin, jelas sulit berbicara tentang peradaban utama.

Maka itu, pemerintah harus meningkatkan usaha pengembangan dan pemberdayaan ekonomi rakyat yang sering dianaktirikan sebagai sektor ‘informal’.

“Karena itu pemerintah perlu melakukan berbagai terobosan baru dan mengambil kebijakan afirmatif untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan; membantu pengembangan berbagai usaha kecil dan menengah yang melibatkan banyak warga Indonesia,” kata Azra.

6. Memanfaatkan Sumber Daya Alam


Kebangkitan peradaban juga memerlukan pemanfaatan sumber daya alam secara lebih bertanggungjawab. Sejauh ini, kekayaan alam di Indonesia dan Malaysia cenderung dieksploitasi secara semena-mena dan tidak bertanggung jawab.

“Akibatnya muncullah berbagai bencana sejak dari banjir bandang, banjir besar, kebakaran hutan, bencana asap dan seterusnya,” ungkap Azra.

Dalam konteks ini, umat Islam di Asia Tenggara perlu memberi contoh tentang penerapan Islamisitas atau nilai-nilai Islam secara aktual dalam penyelamatan alam lingkungan dan sumber daya alam.

“Di sini kaum Muslim harus memperkuat integritas diri pribadi dan komunitas, sehingga dapat mengaktualkan ‘Islam rahmatan lil ‘alamin’ dengan peradaban yang juga menjadi blessing bagi alam semesta,” tutur Azra.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan