LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak orang menganggap anak yang susah diatur,
agresif, suka berteriak adalah anak nakal. Benarkah demikian? Dan apakah ada anak nakal?
Menurut
Psikolog Founder Good Enough Parents, Pritta Tyas tidak ada anak nakal, yang ada hanya anak-anak yang sedang berlatih untuk mengontrol perilakunya ke orang lain.
Baca juga: Cara Terbaik Ajarkan Anak-Anak Belajar Ibadah Lewat Contoh"Tidak ada anak yang bermaksud nakal. Nakal ini adalah satu kata yang terlalu menggeneralisasi bahwa seolah-olah apa yang dilakukan anak salah semua. Kalau ditanya ada atau tidak anak nakal, menurut aku tidak ada," ujar Pritta dalam acara bertajuk Anak Berperilaku Menantang = Anak Nakal, Masa Sih? yang diikuti Langit7, Jumat (23/9/2022).
Namun, lanjut dia jika hal tersebut berkali-kali dilakukan, itu tetap termasuk perilaku menantang, bukan nakal. Lantas, kapan orang tua harus mengambil tindakan tegas agar perilaku tersebut tidak mengarah ke hal negatif?
Menurut Pritta, orang tua harus memberi tindakan tegas dan penerapannya secara bersamaan.
"Jadi bukan berarti kita memahami anak dengan cara mendiamkan perilaku yang dilakukan. Baik dan tegas secara bersamaan ini adalah pola pengasuhan dari positif disiplin," katanya.
Baca juga: Ini Alasan Pesepakbola Gandeng Anak-Anak saat Masuki LapanganPola didik yang baik adalah saat orang tua memahami apa yang anak-anak rasakan. Pritta mencontohkan saat anak
marah dan melempar barang, sebagai orang tua sebaiknya coba pahami akan hal itu.
Selain itu, orang tua juga dapat memberi cara alternatif agar anak bisa menenangkan diri sendiri.
Namun, saat hal itu berulang dilakukan anak-anak, orang tua dapat
memeluk anak untuk menenangkannya dan meminta mereka untuk berhenti melakukan itu.
"Pola didikan yang tegas bukan berarti kita harus lembut-lembut terus. Terpenting dari awal kita perlu menunjukkan bahwa kita paham apa yang mereka rasakan. Namun, kita sebagai orang tua tidak mengizinkan mereka melakukan tindakan yang merugikan," tuturnya.
Baca juga: Biasa Terjadi pada Anak-Anak, Bisakah Tantrum Berlanjut hingga Dewasa?"Intinya kita pahami dulu apa yang dirasakan anak, kemudian kita memberitahukan akibat dari apa yang mereka lakukan. Namun harus diingat tegas bukan berarti nada tinggi, itu dua hal yang berbeda," pungkas Pritta.
(est)