LANGIT7.ID, Jakarta - Ummat Islam harus mengetahui bahwa shalat memiliki manfaat bagi psikologis manusia. Sayangnya banyak yang menganggap prosesi berdiri hingga salam hanya ritual ibadah. Padahal bila dimaknai dengan baik, shalat akan menjauhkan seseorang dari sifat-sifat tercela.
Shalat merupakan bagian penting ibadah dalam Islam. Karena keutamaannya itu, seorang Muslim yang mengerjakan shalat tentu memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya yang lalai beribadah atau sekadar menjadikan agama sebagai formalitas.
Ibadah shalat memang memiliki keterkaitan dengan akhlak seseorang. Asalkan rangkaian mulai dari takbir sampai salam ini bukan dipadang sebagai rutinitas semata. Ada sejumlah hikmah dalam shalat yakni kedisplinan, kesabaran, keteraturan, ketaatan hingga kebersihan.
BACA JUGA: Perlukah Iqamah Saat Shalat Sendiri, Begini PenjelasannyaMaksud dari kedisiplinan yakni, kita tidak bisa sesuka hati kita memundurkan atau memajukan waktu shalat. Lalu kesabaran, bagaimana kita menjalankan ibadah dengan tuma'ninah. Sementara keteraturan dan ketaatan yakni patuh pada norma dan nilai-nilai.
Kebersihan sebelum shalat ini terkait kewajiban kita berwudhu atau bersuci, lalu mengenakan pakaian yang baik, rapih hingga tampil wangi. Dari sejumlah aspek inilah kita dilatih menjadi sosok yang bermartabat.
Belum lagi bila ditambah hikmah kebersamaan ketika kita sebagai ummat Islam mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Hal ini seolah menerangkan bahwa kita makhluk sosial, saling membutuhkan dan wajib berbuat baik satu sama lainnya.
Ketika sedang shalat, kita sebagai manusia disebut sedang berkomunikasi dengan Rabb-nya, Allah subhanahu wata ala. Ada wujud syukur, permohonan ampunan dan tempat berkeluh kesah. Shalat memang menjadi media menentramkan hati yang gelisah.
Dalam gerakan shalat, kita bisa menemukan isyarat dari simbol-simbol yang terkandung dalam shalat, yaitu filsafat gerak. Seorang pribadi muslim harus bergerak, harus dinamis, karena tidak selamanya hidup ini akan qiyam (berdiri diam) berada di masa baik dan mapan.
Suatu saat kita kita harus rukuk dan sujud. Kedua gerakan ini mengandung makna bahwa hidup manusia tak selamanya di atas, seperti halnya roda, kadang di tengah dan berada di bawah. Di dalam kondisi tersebut, kita tetap harus bertawaqal kepada Allah.
(bal)