LANGIT7.ID, Jakarta -
Pondok Modern Darussalam Gontor memiliki banyak alumni yang telah menunjukkan kiprahnya di skala nasional maupun internasional. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, MA, menyebut salah tujuan pendidikan di Gontor adalah membentuk jiwa pemimpin para santri.
Jiwa kepemimpinan itu dibentuk melalui ragam kegiatan ekstrakulikuler seperti kepramukaan dan organisasi. Organisasi santri ada banyak, mulai dari organisasi di kelas, secara keseluruhan, bidang olahraga, hingga organisasi alumni.
Jiwa kepemimpinan ini diimbangi dengan pendidikan yang menanamkan jiwa mandiri. Jiwa kemandirian itu dibangun melalui koperasi. Mulai dari koperasi dapur sampai koperasi untuk kebutuhan kelas. Itu semua mendidikan santri untuk mandiri.
Baca Juga: Alasan Trimurti Dirikan Gontor sebagai Pondok Modern
“Ini agar di masyarakat menjadi leader, menjadi tokoh, pemimpin di tengah masyarakat,” kata Kiai Amal dalam webinar yang digelar Akademi Hikmah Channel, Jumat (30/9/2022).
Dia mencontohkan beberapa santri yang kini menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Padahal, saat menjadi santri di Gontor, mereka hanya santri biasa yang tidak menjadi ketua organisasi apapun. Di antaranya Cendekiawan muslim, Nurcholis Madjid dan Hidayat Nur Wahid yang kini duduk di kursi wakil ketua MPR RI.
“Seperti Nurcholis Madjid, Hidayat Nurwahid, di Gontor bukan
leader. Tapi, kenyataannya di masyarakat bisa jadi ‘orang’. Itu apanya, insya Allah karena mental
leadership yang dibangun di Gontor,” ucap Kiai Amal.
Baca Juga: 7 Pejabat Publik Alumni Gontor, dari Eksekutif hingga Yudikatif
Menurut Kiai Amal, pola pendidikan di Gontor memang menekankan pada kepemimpinan. Dengan durasi yang mencapai enam tahun di KMI, para santri dididik untuk menjadi pemimpin di tengah masyarakat.
“Pendidikan yang memang diajarkan di Gontor ini adalah
leadership. Sekaligus di pondok, dengan waktu sekian lama,
leadership training hakikatnya, sehingga bisa ‘jadi’ di masyarakat,” ujar KH Amal.
Di sisi lain, Gontor juga mendidik para santri untuk memegang teguh filosofi yang telah dibangun oleh Trimurti. Dalam pandangan para pendiri Gontor, ‘orang besar’ itu bukan mereka yang berhasil menjadi pejabat, tapi yang bisa mengajarkan ilmu di tengah masyarakat.
“Besar menurut kami bukan besar kepalanya, besar badannya, tapi besar yang mau mengajarkan ilmunya di masyarakat walau di surau Kecil, desa terpencil. Itu surganya tidak kalah yang jadi menteri atau yagn jadi anggota DPR,” ujar KH Amal.
Baca Juga: Gontor Tak Terafiliasi Ormas Apapun, tapi Alumninya Pimpin NU dan Muhammadiyah
Memang, kata dia, pola pendidikan di Gontor menggabungkan antara pendidikan tradisional pesantren dan modern. Itu telah menjadi nomenklatur tersendiri.
Pola ini sempat tidak diakui Kementerian Agama RI selama bertahun-tahun. Sejak didirikan pada 1926, pemerintah Indonesia baru mengakui Gontor pada 1998. Padahal, Universitas Al-Azhar Sudah mengakui Gontor sejak 1958.
(jqf)