Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 03 Juni 2026
home global news detail berita

Malacak Dalang di Balik Pemberontakan G30S Menurut Lima Versi

Muhajirin Sabtu, 01 Oktober 2022 - 17:15 WIB
Malacak Dalang di Balik Pemberontakan G30S Menurut Lima Versi
Monumen Pancasila Sakti di Jakarta Timur untuk mengenang kematian para Jenderal dalam pemberontakan G30S (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Setiap akhir September, masyarakat Indonesia mengenang salah satu peristiwa paling tragis sepanjang sejarah Indonesia setelah merdeka yaitu Gerakan 30 September (G30S) dibunuhnya para jenderal. Sampai saat ini G30S masih menyimpan banyak misteri. Peristiwa itu menewaskan enam jenderal dan satu perwira pertama militer Indonesia.

Mayoritas masyarakat meyakini dalang utama G30S adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun, dari berbagai penelitian, setidaknya ada lima versi tentang pelaku G30S tersebut.

Jurnalis Total Politik, Budi Adiputro, lima versi sejarah G30S itu yang masih kontroversi itu mulai dari PKI, konflik internal Angkatan Darat, Soekarno, Soeharto, dan unsur asing terutama Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA).

1. PKI

PKI sebagai dalang G30S merupakan versi rezim Orde Baru. Literatur pertama dibuat sejarawan Nugroho Notosusanto dan Ismael berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia (1968).

“(Buku ini) yang menjadi pijakan penting film penghianatan G30S PKI garapan Arifin C. Noer,” kata Budi di kanal Total Politik, Sabtu (1/10/2022). Buku itu menyebut skenario PKI yang memang sudah lama ingin mengkomuniskan Indonesia.

Baca Juga: Jalan-Jalan ke Museum Lubang Buaya, Mengenal Sejarah G30S

Selain itu, rezim Orde Baru juga membuat Buku Putih yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara dan Sejarah Nasional Indonesia suntingan Nugroho Notosusanto yang diajarkan di sekolah-sekolah semenjak Soeharto berkuasa.

Versi Orde Baru ini mencantumkan “/PKI” di belakang G30S menjadi G30S/PKI. Para pelaku disebut menamai operasi dan menyebutkannya dalam pengumuman resmi sebagai ‘Gerakan 30 September” atau “G30S”.

2. Konflik Internal Angkatan Darat

Sejarawan Cornell University, Benedict ROG Anderson dan Ruth McVey dalam A Preliminary Analysis of the October 1 1965, Coup in Indonesia atau dikenal sebagai Cornell Paper (1971), mengemukakan, peristiwa G30S merupakan puncak konflik internal Angkatan Darat.

“Jadi G30S itu konflik internal di Angkatan Darat, enggak ada hubungannya dengan pihak luar,” kata Budi.

Dalam Army and Politics in Indonesia (1978), sejarawan Harold Crouch mengatakan, menjelang 1965, Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) pecah menjadi dua faksi. Kedua faksi ini sama-sama anti-PKI, tetapi berbeda sikap dalam menghadapi Presiden Soekarno.

Baca Juga: Belajar Sejarah sambil Wisata ke Museum Lubang Buaya Pondok Gede

Kelompok pertama, faksi tengah yang loyal terhadap Presiden Soekarno dipimpin Letjen TNI Ahmad Yani. Ahmad Yani hanya menentang kebijakan Bung Karno tentang persatuan nasional karena PKI termasuk di dalamnya.

Faksi kanan bersikap menentang kebijakan Ahmad Yani yang bernafaskan Sukarnoisme. Dalam faksi ini ada Jenderal TNI A.H. Nasution dan Mayjen TNI Soeharto.

Peristiwa G30S berdalih menyelamatkan Bung Karno dari kudeta Dewan Jenderal yang sebenarnya ditujukan bagi perwira-perwira faksi tengah untuk melapangkan jalan bagi perebutan kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan Angkatan Darat.

Selain mendukung versi itu, W.F. Wertheim menambahkan, Sjam Kamaruzaman dalam Buku Putih terbitan Sekretariat Negara disebut sebagai kepala Biro Chusus Central PKI adalah ‘agen rangkap’ yang bekerja untuk D.N Aidit dan Angkatan Darat.

3. Soekarno

Ada tiga buku yang mengklaim Bung Karno terlibat dalam peristiwa G30S. Buku itu di antaranya:

- Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965 (2004).

Baca Juga: Kilas Balik Masjid Jami' Al-Falah, Dibakar PKI hingga Jadi Maskot Duren Sawit

- Antonie C.A. Dake, The Sukarno File, 1965-67: Chronology of a Defeat (2006) yang sebelumnya terbit berjudul The Devions Dalang: Sukarno and So Called Untung Putsh: Eyewitness Report by Bambang S. Widjinarko (1974).

- Lambert Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno.

Saat buku Dake terbit di Indonesia dengan judul Sukarno File (2005), keluarga Bung Karno protes keras dan menyebutnya sebagai pembunuhan karakter. Yayasan Bung Karno lalu menerbitkan buku Bung Karno Difitnah pada 2006. cetakan kedua memuat bantahan dari kolonel CPM Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa.

4. CIA

Banyak yang menyebut G30S merupakan konsekuensi dari Perang Dingin 1960-an. Amerika Serikat dan negara-negara Barat seperti Australia, Inggris, dan Jepang yang berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis.

“Bung Karno disebut dekat ke kiri, Uni Soviet, Cina. Perilaku politik Bung Karno ini sangat berbahaya bagi pihak Barat, terutama Amerika Serikat. Jangan sampai Vietnam yang hampir jatuh ke tangan komunis, jika Indonesia jatuh ke tangan komunis membuat wilayah merah,” kata Budi.

Baca Juga: Kemunculan Neo-Komunisme Tak Bisa Dianggap Sepele, Tragedi 65 Jangan Terulang

Amerika Serikat menyiapkan beberapa opsi terkait situasi politik di Indonesia. Menurut David T. Johnson dalam Indonesia 1965: The Role of the US Embassy, opsinya membiarkan saja, membujuk Bung Karno beralih kebijakan, menyingkirkan Bung Karno, mendorong Angkatan Darat merebut pemerintahan, merusak kekuatan PKI dan merekayasa kehancuran PKI sekaligus menjatuhkan Bung Karno. Opsi terakhir yang dipilih.

Ada berbagai sumber yang mendukung versi ini. Di antaranya Peter Dale Scott, profesor dari University of California, menulis US and the Overthrow of Sukarno 1965-1967 yang diterbitkan dengan judul CIA dan Penggulingan Sukarno (2004).

Menurut Dale, CIA membangun relasi dengan para perwira Angkatan Darat dalam Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat). Salah satu perwiranya adalah Soeharto.

Sumber lain Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati (2001) karya wartawan Belanda Willem Oltmans. Juga buku Bung Karno Menggugat: Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ‘65 hingga G30S (2006) karya sejarawan Baskara T. Wardaya.

5. Soeharto

Komandan Brigade Infanteri I Jaya Sakti Komando Daerah Militer V, Kolonel Abdul Latief dalam Pledoi Kolonel A. Latief: Soeharto Terlibat G30S (1999) mengungkapkan, dia melaporkan akan adanya G30S kepada Soeharto di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Jakarta pada 28 September 1965, dua hari sebelum operasi dijalankan.

Baca Juga: Kisah Anak-Anak Eks PKI yang Kini Jadi Ustadz dan Imam Masjid

Bahkan, empat jam sebelum G30S, malam 30 September 1965, Latief kembali melaporkan kepada Soeharto, operasi menggagalkan rencana kudeta Dewan Jenderal akan dilakukan pada dini hari 1 Oktober 1965. Menurut Latief, Soeharto tidak melarang atau mencegah operasi tersebut.

Dalam Kesaksianku tentang G30S (2000) Soebandrio mengungkapkan, rangkaian peristiwa dari 1 Oktober 1965 sampai 11 Maret 1966 sebagai kudeta merangkak yang dilakukan melalui empat tahap: menyingkirkan para jenderal pesaing Soeharto melalui pembunuhan pada 1 Oktober 1965; membubarkan PKI, partai yang memiliki anggota jutaan dan pendukung Soekarno; menangkap 15 menteri yang loyal kepada Presiden Soekarno; dan mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 03 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)