LANGIT7.ID, Jakarta -
Gas air mata tengah menjadi perbincangan publik karena digunakan petugas keamanan menangani kerusuhan suporter
Aremania hingga memakan ratusan korban jiwa.
Senjata yang biasa dipakai untuk membubarkan amukan massa tersebut ternyata kumpulan bahan kimia yang menyebabkan iritasi kulit, pernapasan, dan mata.
Merujuk dari Healthline, meski dinamakan gas air mata, namun zat tersebut bukan lah gas, melainkan serbuk yang dapat menciptakan kabut.
Baca Juga: Bahaya Gas Air Mata, Bisa Akibatkan Gagal Pernafasan hingga KematianGas ini biasanya digunakan dari tabung, granat, atau semprotan bertekanan. Bentuk gas air mata yang paling umum digunakan adalah 2-chlorobenzalmalononitrile (CS)
Jenis gas air mata lainnya yakni oleoresin capsicum (semprot merica), dibenzoxazepine (gas CR), dan chloroacetophenone (gas CN).
Efek gas air mata bagi tubuh manusiaGas air mata menyebabkan iritasi pada sistem pernapasan, mata, dan kulit. Rasa sakit terjadi karena bahan kimia dalam gas air mata mengikat salah satu dari dua reseptor rasa sakit yang disebut TRPA1 (Transient Receptor Potential Ankyrin 1) dan TRPV1 (Transient Receptor Potential Vanilloid Type 1)
TRPA1 adalah reseptor rasa sakit yang sama dengan minyak dalam mustard, wasabi, dan lobak untuk memberi mereka rasa yang kuat. Gas CS dan CR lebih dari 10.000 kali lebih kuat daripada minyak yang ditemukan dalam sayuran ini.
Kemudian, tingkat keparahan gejala yang dialami setelah terpapar gas air mata dapat bergantung pada, ruangannya misal tertutup atau ruang terbuka, banyaknya gas air mata yang digunakan, jarak Anda ketika gas air mata dilepaskan, dan kondisi tubuh, jika tidak baik maka kemungkinan hal tersebut akan buruk.
Kebanyakan orang pulih dari paparan gas air mata tanpa gejala yang signifikan. Sebuah studi 10 tahun yang dilakukan di University of California San Francisco meneliti 4.544 kasus semprotan merica.
Para peneliti menemukan 1 dari 15 kemungkinan mengembangkan gejala parah setelah terpapar. Ada beberapa efek potensial dari paparan gas air mata, yakni:
1. Gejala mataSetelah terpapar gas air mata, Anda akan mengalami gejala mata seperti merobek penutupan kelopak mata yang tidak disengaja, gatal, pembakaran, kebutaan sementara, pandangan yang kabur, dan luka bakar kimia.
Kemudian, paparan jangka panjang atau paparan jarak dekat dapat menyebabkan kebutaan, pendarahan, kerusakan saraf, katarak dan erosi kornea.
2. Gejala pernapasan dan gastrointestinalMenghirup gas air mata dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Orang dengan kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala parah seperti gagal napas.
Adapun gejalanya yakni tersedak, terbakar dan gatal pada hidung serta tenggorokan, kesulitan bernapas, batuk, mengeluarkan air liur, sesak dada, mual, muntah, diare dan gagal napas.
Parahnya, paparan gas air mata konsentrasi tinggi atau paparan di ruang tertutup atau dalam waktu lama dapat menyebabkan kematian
3. Gejala kulitKetika gas air mata bersentuhan dengan kulit yang terbuka, dapat menyebabkan iritasi dan rasa sakit. Iritasi dapat berlangsung selama berhari-hari dalam kasus yang parah. Gejalanya seperti gatal, kemerahan, melepuh, dermatitis alergi dan luka bakar kimia.
4. Gejala gas air mata lainnyaMenurut Physicians for Human Rights, paparan gas air mata yang berkepanjangan atau berulang dapat menyebabkan gejala gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Selain itu, dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung atau tekanan darah. Pada orang dengan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya, ini dapat menyebabkan serangan jantung atau kematian.
(bal)