LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memaknai kemerdekaan merupakan rahmat Allah subhanahu wata ala dan perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Proklamasi pun bukan hanya pernyataan bebas dari penjajahan bangsa lain, namun mewujudkan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Namun dia menilai HUT ke-76 Kemerdekaan RI kali ini diwarnai dengan berbagai macam masalah, salah satunya wabah Covid-19. Maka itu, langkah yang tepat mengisi kemerdekaan adalah bersatu, agar bangsa ini berdaya mengatasi dan memberi solusi dari setiap masalah.
Semangat persatuan harus menjadi tonggak pertama dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa dan menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Patut disyukuri, secara umum seluruh rakyat Indonesia sudah bersatu dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.
BACA JUGA: Rayakan HUT RI di Tengah Pandemi, Hangatkan Hubungan Keluarga BesarMasyarakat harus mewaspadai benih perpecahan antarkomponen bangsa. Benih-benih itu sudah mulai bermunculan, terutama melalui kanal sosial media. Perbedaan orientasi politik dan benturan kepentingan merupakan dua alasan yang sangat potensial pemicu perpecahan.
“Maka 76 tahun merdeka harus kitajadikan sebagai suasana memberi makna terhadap semangat persatuan Indonesia. Kita harus belajar dari sejarah. Negara yang besar berubah menjadi terpecah-belah bahkan hilang namanya karena perpecahan,” kata Haedar, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Senin (16/8/2021).
Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya, terdiri dari banyak suku dan budaya, harus dirawat dengan baik agar tidak terhadi konflik dan perpecahan. Seluruh komponen bangsa harus mengeliminasi segala potensi yang dapat membuat perpecahan antarbangsa.
Menurut dia, masyarakat harus mengeliminasi setiap kebencian, intoleransi, dan segala macam virus yang membuat bangsa Indonesia terpecah. Perbedaan politik dan kontestasi politik cukup selesai saat berkontestasi. Ketegangan kontestasi politik tidak boleh berkepanjangan menjadi dendam politik yang hanya merusak semangat persatuan.
Haedar juga berpesan kepada seluruh elit bangsa agar menjadi negarawan sejati dan menjadi teladan dalam bertutur kata serta bersikap. Saat mengambil kebijakan penting yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, para elit harus memperhitungkan kearifan, untuk menghindari perpecahan di berbagai sektor.
76 tahun merdeka harus membuat seluruh elemen masyarakat dewasa sebagai bangsa dan elit bangsa. Dalam konteks itu, Haedar meminta semua pihak menghayati nilai-nilai pancasia, konstitusi, dan sejarah perjalanan bangsa yang membawa para pahlawan kokoh menghadapi penjajah.
Haedar berharap, Indonesia di usia ke-76 merdeka mampu menjadi negara berkemajuan yang tidak hanya memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya insani, tapi juga potensi keragaman dalam bingkai persatuan dan persaudaraan. Sebab, tidak ada negara yang maju di atas puing-puing perpecahan.
“Tidak ada satu pun bangsa yang maju di atas puing-puing perpecahan. Tidak ada bangsa yang maju di atas alam yang rusak. Tidak ada bangsa yang maju di atas sumber daya manusia yang lemah. Maka menjadi niscara, kita harus melangkah ke depan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” ucap Haedar.
(bal)