LANGIT7.ID, Jakarta - Kepolisian RI melalui Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo menyatakan
gas air mata bukan penyebab kematian 131 orang dalam Tragedi Kanjuruhan.
Dedi mengatakan penyebab kematian di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/20/2022) adalah kekurangan oksigen.
Dedi menjelaskan bahwa gas air mata atau chlorobenzalmalononitrile (CS) memang iritatif, terutama bila terkena mata, terhirup, dan memapar kulit. Namun, lanjutnya, sifat iritasinya sama halnya seperti terkena air sabun.
Baca juga: Kapolri Copot Irjen Nico Afinta dari Kapolda Jatim“Dokter spesialis mata menyebutkan bahwa ketika terkena gas air mata memang terjadi iritasi (mata) sama halnya ketika kita terkena air sabun,” kata Dedi dalam jumpa pers, Senin (10/10/2022).
Dia menegaskan bahwa efek gas air mata yang dilontarkan dalam jumlah banyak atau skala tinggi pun tidak akan mematikan.
Memang mereka yang terkena gas air mata akan mengalami iritasi, tapi dalam jangka waktu tertentu dapat sembuh serta tidak mengakibatkan kerusakan yang fatal.
Baca juga: Polri Menilai Gas Air Mata Kedaluwarsa Justru Berkurang Efektivitasnya“Sampai saat ini belum ada jurnal ilmiah menyebutkan bahwa ada fatalitas gas air mata yang menyebabkan orang meninggal dunia. Di dalam gas air mata tidak ada racun yang mengakibatkan matinya seseorang,” tutur Dedi.
Dedi menerangkan, regulasi penggunaan gas air mata mengacu Protokol Jenewa Nomor 22 Tahun 1993. Selama ini, terdapat tiga jenis gas air mata yang digunakan Brimob berdasar kategori warna pada selongsongnya.
Baca Juga: Personil Polresta Malang Sujud Massal, Minta Pengampunan Dosa Ketiganya yakni hijau, biru, dan merah. Warna hijau digunakan untuk mengendalikan kerumunan dengan skala rendah di mana saat ditembakkan hanya mengeluarkan suara dan asap.
Kedua, yang sifatnya sedang digunakan untuk cluster dalam jumlah kecil. Sementara selongsong warna merah ditembakkan untuk mengurai massa dalam jumlah yang cukup besar.
“Para spesialis tidak satupun menyebutkan penyebab kematian adalah
gas air mata, tapi kekurangan oksigen. Kenapa? karena terjadi desak-desakan, terinjak-injak, bertumpuk yang mengakibatkan kekurangan oksigen. Pada pintu 13, 11, 14 dan pintu 3, ini jatuh korbannya cukup banyak,” jelas Dedi.
(sof)