LANGIT7.ID, Jakarta - Takwa disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 115 kali. Di antara banyak makna takwa itu berkaitan erat dengan petunjuk Allah mengenai tujuan hidup manusia di muka bumi dan ke mana akan kembali.
Di antara ayat yang mengisyaratkan ayat ini adalah Surah Al Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang Beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Menurut
Ustadz Adi Hidayat (UAH), Allah Ta’ala menyebutkan ‘Wahai orang yang Beriman’ tanpa terkecuali. Panggilan Allah menggunakan huruf
nida’ (
ya’-). Ada 14 makna
nida’ dalam gramatikal bahasa Arab. Di antaranya, jika disebutkan hanya satu huruf
nida’ dengan fungsi fleksibel yakni memanggil yang dekat, menengah, dan jauh.
Baca Juga: Hidup di Dunia Fana, Hendaklah Setiap Muslim Seperti Musafir
Sementara, kata
Ayyuha disebutkan 150 kali dalam Al-Qur’an.
Ayyunna munada bermakna
tauqid yang menegaskan, huruf ha tanbih berarti mengingatkan. Alladzina disebutkan 1080 kali yang berarti memanggil memanggil seluruh kalangan tanpa terkecuali.
“Tanpa terkecuali, Aku (Allah) tekankan Aku ingatkan, ittakullaha, tingkatkan takwamu kepada Allah. Kita bertanya bagaimana caranya?” Kata UAH di akun YouTube-nya, dikutip Sabtu (15/10/2022).
Di antara cara meningkatkan takwa adalah mempersiapkan jalan hidup yakni melihat kurikulum tujuan manusia diciptakan di muka bumi. Tujuan hidup itu harus diperhatikan sampai kembali kepada Allah.
Tujuan Pokok Penciptaan ManusiaUAH menjelaskan, ada hal pokok dalam Al-Qur’an yang sangat ditekankan kepada manusia. Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56).
Baca Juga: Kandungan Surat Ali Imran Ayat 134: Sifat Hamba yang Bertakwa
UAH menegaskan, tujuan manusia diciptakan adalah untuk menghamba kepada Allah. Misi utama Allah mengutus nabi dan rasul di muka bumi untuk mengingatkan penghambaan manusia kepada Allah.
“Jangan sampai tidak sadar hingga detik ini bahwa kita itu hamba. Kita akan pulang, meninggal, dan mempertanggungjawabkan penghambaan kita di hadapan Allah. Karena itulah untuk membuktikan penghambaan kita kepada Allah, diperintahkan dengan turunan dari ibadah itu yang di antaranya disebut sebagai shalat,” ujar UAH.
UAH mengingatkan, sukses di dunia boleh saja. Tapi, tidak boleh sampai melupakan ibadah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Kesuksesan dunia tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak beribadah kepada-Nya.
Baca Juga: Syarah Hadis: Ketakwaan Membawa Seorang Mukmin ke SurgaDalam hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata, ‘celakalah aku’.
Di dalam riwayat Abu Kuraibin, setan berkata, ‘celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, namun aku enggan sehingga aku pantas menjadi penghuni neraka.”
“Jagalah shalat, karena status ini akan menentukan keadaan kita di hadapan Allah,” ujar UAH.
(jqf)