LANGIT7.ID, Pemalang - Nasi Grombyang khas Kabupaten Pemalang memiliki citarasa yang lezat dengan perpaduan daging kerbau atau daging sapi dan bumbu rempah.
Nasi Grombyang disajikan di mangkuk dengan kuah lebih banyak dari nasi sehingga nasinya menyembul di atas dan bergoyang-goyang ketika disajikan. Ini pula yang konon jadi awal penyebutan Nasi Grombyang atau bergoyang.
Nasi Grombyang terdiri dari nasi, irisan daging kerbau dan kuah, disajikan dalam mangkuk kecil dan dilengkapi sate kerbau dan irisan onclang dan bawang merah goreng.
Baca juga: 4 Resep Minuman Hangat, Cocok Dinikmati saat HujanSejak dulu, penjual Nasi Grombyang biasanya menggunakan kuali besar, dengan tempat nasi ditutupi dengan kain merah, disertai penerangan remang-remang lampu templok.
Salah satu penikmat Nasi Grombyang, Bu Upil mengaku senang sudah bisa merasakan kuliner legendaris tersebut. Hal itu diungkapkan di akun Twitter-nya, pada Minggu (16/10/2022) malam.
“Dan di Pemalang itu ada makanan yang namanya Grombyang, ini enak banget. Bahkan di Jkt aja belum pernah guel liat di jual,“ tulis pemilik akun @adawiyahriwan.
“Kalo bukan karena menikah sama suami yang bapaknya dinas di Pemalang, gue kayaknya ga bakalan tau deh ada kota bernama Pemalang yang lokasinya di Jawa Tengah,” tulisnya lagi.
Tidak diketahui dengan pasti kapan makanan khas ini muncul. Konon, Nasi Grombyang sudah ada sejak 1960-an. Pada waktu itu penjual nasi grombyang menjual dagangannya secara tidak menetap, tetapi berkeliling kampung.
Saat ini, Nasi Grombyang sudah dijual menetap. Jika Anda melintas di Pemalang, ada dua tempat rekomendasi penjual
Nasi Grombyang yang legendaris.
Pertama Nasi Grombyang Pak Toli di Jalan RE Martadinata dan nasi Grombyang Pak Waridin di Jalan Gatot Subroto no35 Kecamatan Pemalang. Nasi Grombyang saat ini sulit ditemukan di wilayah pinggiran, dan hanya bisa dijumpai di pusat kota.
Salah seorang pewaris Nasi Grombyang, Waridin menceritakan, dirinya sudah mulai membuka usaha jual nasi grombyang sejak 1978, yang sebelumnya ikut membantu pamannya, Warso dalam usaha yang sama.
“Saya buka sendiri sejak tahun 1978 sampai sekarang. Dulu dari harga 15 perak (Rp15), sampai sekarang sudah Rp16 ribu per porsi,” katanya, saat ditemui di warung miliknya Jalan Gatot Subroto nomor 35 Kecematan Pemalang, dikutip Senin (17/10/2022).
Baca juga: Kampung Kuliner Kali Cibarengkok Berpotensi Menjadi Sentra Ekonomi KreatifMenurut Waridin, membuat nasi grombyang lebih rumit ketimbang soto daging ataupun daging kuah lainnya. Mulai memasak daging, mengiris, ditambah menu kaldunya yang terbuat dari kluwak, serundeng serta lemak daging itu sendiri.
Kuahnya pun harus dibumbui rempah, seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, kemiri, dan lainnya. Kemudian sebelum disajikan ditaburi irisan onclang dan bawang merah.
“Kalau dulu pakai daging kerbau, tapi karena sekarang sulit akhirnya pakai daging sapi. Butuh dua sampai tiga jam untuk membuat nasi Grombyang,” jelasnya.
Waridin mengaku bangga usahanya melanjutkan warisan resep keluarga itu dinobatkan sebagai menjadi salah satu warisan budaya tak benda (WBTB), khususnya dalam pengolahannya yang masih tradisional.
“Saya senang dan bangga ini tercatat sebagai Warisan Budaya,” paparnya.
(sof)