LANGIT7.ID - Pemerintah Indonesia menetapkan 22 Oktober sebagai
Hari Santri Nasional sejak 2015 silam. Santri jamak dikenal sebagai seseorang yang menuntut ilmu agama Islam di pondok pesantren. Kendati demikian, ternyata kata santri bukan berasal dari bahasa Arab.
Ada beberapa versi mengenai sejarah dan asal-usul kata santri. Nurcholish Madjid dalam buku Bilik-Bilik Pesantren; Sebuah Potret Perjalanan, mengatakan, asal-usul kata santri dapat dilihat dari dua pendapat. Pertama, santri yang berasal dari perkataan sastri. Ini merupakan sebuah kata dari bahasa Sanskerta yang berarti melek huruf.
Pendapat ini didasarkan atas kaum santri bagi orang Jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab.
Baca Juga: Hari Santri 2022 jadi Momentum Mengembalikan Peran Pondok Pesantren
Kedua, perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata cantrik. Kata cantrik berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru ke mana guru itu pergi dan menetap.
Di sisi lain, Zamakhsyari Dhofier dalam buku Tradisi Pesantren berpendapat, kata santri dalam bahasa India yakni Shastri, berarti orang yang tahu buku, buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu.
"Atau secara umum dapat diartikan buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan," tulis Zamakhsyari dalam bukunya.
Pendapat ini juga disampaikan C.C Berg dalam buku Dari Pesantren Untuk Umat: Reinventing Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi karya Babun Suharto. Sementara, A. H. John menyebutkan, istilah santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.
Baca Juga: Memahami dan Merumuskan Ulang Sastra Pesantren
Teori tersebut disetujui pula oleh Intelektual Nahdlatul Ulama, Ahmad Baso. Dia menyebut kata santri berasal dari bahasa Tamil.
"Darimana asal usul kata santri? dari bahasa Tamil. Siapa yg bawa ke Nusantara? Syekh Jumadil Kubro dari pangkalan Koshih di Tamil-Malabar abad 14," kata Ahmad Baso.
Yasmadi dalam buku Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional menjelaskan, santri adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ulama.
Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik dan menjadi pengikut dan pelanjut perjuangan ulama yang setia.
Baca Juga: Kemenag: Tema Hari Santri 2022 Terinspirasi Pesan Historis Gus DurNamun, santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Ini makna umum yang dipahami masyarakat Indonesia saat ini.
Dalam perkembangannya, Zamakhsyari Dhofir membagi santri ke dalam dua kategori:
1. Santri MukimSantri mukim adalah para santri yang menetap di pondok. Biasanya diberikan tanggung jawab mengurusi kepentingan pondok pesantren.
Baca Juga: Etika Pergaulan Antara Santri dengan Ulama, Ini Kata Buya YahyaStatus santri akan bertambah dilihat dari berapa lama tinggal di pondok. Biasanya santri yang sudah bermukim lama akan diberi tugas mengajarkan kitab-kitab dasar kepada santri-santri junior.
2. Santri KalongSantri kalong merupakan santri yang selalu pulang setelah selesai belajar. Bisa juga saat malam berada di pondok dan siang pulang ke rumah.
(jqf)