LANGIT7.ID, Jakarta - Sastra Pesantren telah lama menjadi salah satu genre dalam sastra. Namun tak banyak santri yang memahami sastra pesantren. Menurut putra pengasuh Ponpes Darul’Ulum Karangpandan, Rejoso, Pasuruan, Gus Haidar Hafidz, sastra pesantren memang eksis, namun belum sistematis.
“Sastra pesantren itu benar-benar ada, meskipun tanpa rumusan yang sistematis sebagaimana sastra-sastra yang lain. Karena kita menerima sastra pesantren itu secara lisan,” kata Gus Haidar dalam Seminar Sastra Pesantren, di aula KH. Bisri Syansuri lt. 1 PWNU Surabaya, Jawa Timur, mengutip laman resmi Tebuireng, dikutip Rabu (19/10/2022).
Baca Juga: Ahmad Fuadi Angkat Sisi Cinta Tak Biasa Hamka di Novel Terbarunya
Dalam rangka menyambut satu abad Nahdlatul Ulama (NU) dan memeriahkan rangkaian Hari Santri Nasional (HSN), Pimpinan Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PW Lesbumi NU Jatim) menyelenggarakan seminar Sastra Pesantren dengan tema “Merumuskan Ulang Sastra Pesantren dalam Konteks Kekinian”.
Guru Besar Sastra Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Setya Yuwana menekankan, ada beberapa rumusan yang perlu disusun untuk menjawab pertanyaan tentang sastra pesantren.
Misalnya, Prof Setya mengajukan pertanyaan, apakah parameter sastra pesantren hanya berdasarkan penulisnya yang pernah mondok namun menulis meski tak memuat nilai-nilai pesantren?. Ataukah, bisakah disebut sastra pesantren ketika memuat nilai-nilai pesantren meskipun ditulis oleh nonmuslim?. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab oleh pemerhati sastra pesantren.
Baca Juga: Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil
Sementara Rektor Ma’had Aly Nurul Jadid, Gus Muhammad Al- Fayyadl menyampaikan bahwa sastra pesantren memiliki 2 ciri. Pertama, terkait ekspresi, filosofi, atau pandangan manusia tentang apa itu dunia. Kedua, sastra pesantren tidak lepas dari budaya ngaji, bahwa dalam dunia pesantren terdapat peralihan atau transfer keilmuan dari kiai ke santri yang biasa kita sebut dengan istilah sanad.
Selain itu, Gus Fayyadl juga menyampaikan bahwa terdapat dua kriteria sastrawan pesantren
, yaitu berupa
ta’abbudi (aspek ibadah)
dan tafaqquhi (aspek keilmuan). Keduanya membedakan sastrawan santri dengan yang lainnya adalah dalam segi ruhiyahnya.
(jqf)