LANGIT7.ID, Jakarta - Peredaran
obat sirop disetop, sehingga perlu cara alternatif menurunkan demam anak. Sebab Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol merupakan zat berbahaya.
Kebanyakan anak-anak di bawah usia 12 tahun belum bisa mengonsumsi
obat bertekstur keras, seperti tablet atau pil. Namun, ada alternatif lain mengobati anak jika mereka mulai menunjukkan gelaja sakit.
Wakil Ketua II PD Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Yogyakarta, Arifianti Piskana Susilowati menganjurkan masyarakat untuk menggunakan cara tradisional dan kompres saat mengatasi
gejala sakit pada anak.
"Kita mengedepankan terapi non-farmakologi pada anak. Ada yang menggunakan insan brambang parutan dari bawang merah dan lain sebagainya itu banyak. Itu bisa kita gunakan," ujar Arifianti, dalam webinar bertajuk 'Kupas Tuntas Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak' yang disiarkan YouTube Farmasi UGM, Ahad (23/10/2022).
Baca Juga: Imbauan Setop Obat Sirop, Guru Besar UGM: Keputusan DilematisSelain itu, Arifianti menegaskan pentingnya kebutuhan cairan anak yang harus dipenuhi. Namun jika anak terus mengalami demam maka dianjurkan segera diperiksakan ke fasilitas layanan kesehatan.
"Monitoring itu penting. Kalau anak demamnya tidak turun atau cenderung naik bawa ke sarana pelayanan kesehatan, seperti dokter atau rumah sakit. Namun saat ini tunda dulu memberikan obat dalam bentuk sirup, kita kedepankan non-farmakologi," kata Arifianti.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Sumber Daya Manusia dan Akademik RSA UGM, Ika Puspita Sari memberikan tips cara kompres yang benar untuk menurunkan demam anak. Menurutnya, kompres bukan hanya di kening, melainkan area tubuh lain dengan kulit yang tipis dan pembuluh darah banyak.
"Kompres untuk menurunkan demam itu bisa di leher, selangkangan, ketiak, dan harus basah. Jangan malah minimalis terus dibantu saja tidak tekan-tekan," ucap Ika.
Ika mengimbau orangtua untuk berpegang pada dugaan yang ada, yakni tidak menggunakan obat berbentuk cair atau sirop sementara waktu hingga penyebab dan obat dari kasus misterius ini terkuak.
"Kalaupun tidak terjadi apa-apa, apakah kita bisa menjamin bahwa besok juga tidak terjadi apa-apa? Maka dalam hal kondisi kewaspadaan seperti sekarang ini, kalau saran saya untuk tidak dilanjutkan (konsumsi obat sirop)," tutur Ika.
(bal)