LANGIT7.ID - Air cucuran atap jatuh ke pelimbahan juga. Tak jauh rebung dari rumpunnya. Biasanya, sifat anak menurut teladan orang tuanya. Tabiat anak juga tidak akan berbeda jauh dengan orang tuanya.
Dalam pepatah lama, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah dengan sosok muslimah, Wardah Nafisah, yang juga keturunan Kiai besar di Pasuruan ini. Wardah Nafisah baru saja lulus
Master Business of Administration (MBA) dari salah satu Universitas terbaik di Inggris yakni University of London dengan beasiswa. Perangainya menjadi bukti bahwa peran muslimah tak hanya terbatas pada peran domestik.
Ning Wardah, demikian ia akrab disapa, adalah cucu dari Almarhum KH Abdul Hamid Pasuruan dan putri dari KH Idris Hamid. Sejak sebelum melanjutkan studi hingga kini, alumni Universitas Indonesia ini telah mengelola banyak bisnis. Bisnis unggulannya yaitu klinik kecantikan Maxine Aesthetic Clinic yang tersebar di Surabaya, Jakarta, Jember, Banyuwangi dan Pasuruan.
Selain itu, Ning Wardah juga membuka bisnis kafe di Surabaya dan Banyuwangi. Ia juga tak melupakan tanggungjawabnya dalam mengelola pesantren yang dipimpin Ayahandanya.
“Ada dua bisnis yang aku pegang secara langsung yaitu klinik dan kafe. Selain itu, tentu kesibukan jadi seorang istri dan ibu. Kesibukan tambahannya di pesantren, karena mulai bantu-bantu sedikit di Yayasan,” ungkap Ning Wardah kepada LANGIT7.ID, Senin (5/7/2021).
Selain berbisnis dan mengelola pesantren, Ning Wardah juga menjalan perannya sebagai ibu dengan baik. Bahkan ia harus mengasuh dan merawat anaknya jauh dari keluarga, sembari berkuliah di University of London.
“Jadi awalnya saat berangkat ke London bayinya dibawa. Aku kesana diantar suami, tapi suami balik lagi ke Indonesia karena suami nggak mungkin ninggalin tugas di DPR,” kata istri dari Anggota DPR RI Mufti Anam ini.
![Wardah Nafisah: Anak Kiai Kuliah di Inggris, Belajar Sambil Mengasuh Anak]()
Bagi Ning Wardah, mengasuh anak sendiri di luar negeri sembari kuliah bukan hal yang mudah. Ia bersyukur mendapatkan banyak bantuan dalam mengasuh anak sehingga ia bisa menuntaskan studinya dengan baik.
“Alhamdulillah, di sana ada
free day care, jadi fasilitas khusus untuk mahasiswa. Lalu kalau aku lagi ujian manggil aku manggil
Nanny dan ada juga mahasiswa Indonesia yang mencari uang tambahan jadi bisa lebih murah. Di sana aku juga tidak tinggal sendiri, tapi di apartemen dengan tiga orang Indonesia. Jadi bisa saling bantu,” tutur putri KH Idris Hamid ini.
Dahulukan Urusan Akhirat Tanpa Abaikan Urusan DuniaSejak kecil, Ning Wardah dididik oleh orang tuanya untuk mendahulukan urusan akhirat tanpa mengabaikan urusan dunia. Misalkan Ning Wardah menceritakan pendidikan agama merupakan prioritas yang diajarkan padanya sejak dini.
“Kalau pola pendidikan itu yang pasti adab dan ilmu. Kalau Abah saya bilang, Abah ini Kiai, Mbah Hamid
waliyullah. Tapi iman dan ilmu tidak bisa diwariskan, kalau rumah dan tanah bisa Abah wariskan. Wong anak Nabi saja nggak ada jaminan bisa sholeh dan pasti masuk surga. Jadi iman dan ilmu harus kita upayakan sendiri, jadi tidak bisa diwariskan hanya karena anaknya Abah,” tutur Ning Wardah.
Maka sejak usia 5 tahun, Ning Wardah telah mengkhatamkan 30 Juz Al-Qur’an. Selain itu, ia juga secara intensif diajari membaca dan mempelajari kitab kuning sejak dini. Terutama kitab-kitab terkait
aqidah dan
akhlaq.
Kendati demikian, orang tuanya tidak memaksakan putra-putrinya untuk meneruskan jejak menjadi ulama.
“Alhamdulillah pemikiran Abah saya tidak konvensional dan kolot banget. Malah kalau dulu, abah saya bilang nggak usah semuaya jadi Kiai dan boleh jadi apa saja yang diinginkan. Kata beliau kalau semua jadi Kiai nanti kebanyakan, siapa yang akan mengambil peran di pemerintahan, bisnis dan sebagainya,” kata Ning Wardah.
Tak hanya itu, dalam persoalan dunia, Wardah menuturkan salah satu ajaran kakeknya Mbah Hamid adalah agar seorang Muslim tidak meninggalkan keturunan yang lemah sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surat An Nisa ayat: 9. Maka baik Almarhum Mbah Hamid dan putranya selalu mempersiapkan warisan rumah dan tanah untuk anak-anaknya sebelum wafat meninggalkan keluarganya.
(jqf)