LANGIT7.ID, Jakarta - Para cendekiawan Islam era pertengahan banyak yang mengembangkan ringkasan
medis berdasarkan Al-Qur'an dan hadits.
Sebut saja Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi, Abul Qasim Az-Zahrawi, Ibnu Al-Nafis, Abu Zaid Al Balkhi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd.
Fokus sarjana muslim awal pada pengobatan dipupuk oleh Al-Qur'an dan hadits. Hal ini sebagaimana yang dicirikan berikut:
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).Baca juga: UAH: Iman Tak Sekadar di Hati, tapi Juga Lisan dan Perbuatan Dikutip Islamic medicine and evolutionary medicine: a comparative analysis. The Journal of IMA, 44(1), 44-1-8780 oleh Saniotis A. (2012) menjelaskan dasar-dasar pengobatan Islam dimulai seiring berkembangnya dakwah Islam pada abad 7 Masehi. Al-Qur'an dan tradisi Kenabian (hadits) membahas pentingnya kebersihan pribadi dan kesehatan masyarakat.
Nabi Muhammad menetapkan kebiasaan diet yang benar, seperti komensalitas, doa dan olahraga untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan spiritual. Al-Qur'an juga menunjukkan bagaimana hal itu dapat bermanfaat bagi umat manusia.
Menurutnya, studi Islam tentang kesehatan dan penyakit harus dimulai dengan analisis konsep tauhid (Keesaan Ilahi).
Konsep tauhid inilah yang mendasari pengobatan Islam.
Tauhid mengungkapkan keesaan mutlak Allah sebagaimana terkandung dalam bagian pertama syahadat. Dalam konsep tauhid tersirat bahwa semua keberadaan saling terhubung, saling terkait dan bergantung pada Yang Ilahi.
Penciptaan adalah tindakan belas kasihan Ilahi (raḥmat) yang termanifestasi dalam tatanan alam (al-fiṭra). Dalam terminologi ilmiah, al-fiṭra diekspresikan oleh meta-pola kaleidoskopik alam yang memiliki simetri dan keindahan.
Merujuk Syari'ti,sebagai prinsip organisasi keberadaan, Tauhid meluas ke domain ilmiah dan sosial di mana alam, kemanusiaan, dan pengetahuan dipahami sebagai kesatuan. Sayyid Hosen Nasr dengan elegan menyatakan:
“Semangat Islam menekankan, sebaliknya, kesatuan Alam, bahwa kesatuan yang merupakan tujuan dari ilmu-ilmu kosmologis, dan yang disamaratakan dan diprasangkakan dalam jalinan arabes yang terus-menerus menyatukan kelimpahan kehidupan tumbuhan dengan kristal geometris dari ayat-ayat Al-Quran
Kosmologi Islam menganggap penciptaan sebagai pertanda (ayat kauniyah) yang menunggu untuk diungkapkan dengan pemahaman spiritual. Al-Qur'an menyatakan bahwa alam mencerminkan kodrat Ilahi.
Baca juga: Amalan Dzikir Luar Biasa, Dibaca saat Terbangun Tengah MalamPada saat yang sama, adalah kewajiban bagi semua Muslim untuk mencari dan memahami tanda-tanda alam. Alquran yang menyoroti aspek simbolik alam adalah alasan utama untuk mendorong penyelidikan ilmiah Islam.
Dalam pengobatan Islam klasik, manusia (al-insān) dianggap sebagai mikrokosmos ('ālam ṣaghīr). Tubuh manusia pada dasarnya adalah miniatur kosmos (al-'ālam), di mana morfologi dan organisasinya sesuai dengan unsur-unsur yang "membentuk keutuhan alam semesta."
Gagasan tentang keterkaitan antara mikrokosmos dan makrokosmos ini merupakan ungkapan dari tauhid. Dengan demikian, pengobatan Islam dapat disebut sebagai pendekatan medis ekologis karena memandang tubuh dalam hal "totalitas organik dan dalam integrasi fundamentalnya dengan orang tersebut.
(sof)