LANGIT7.ID, Jakarta - Rambulan bersinar terang menerangi sudut-sudut Kota Mekkah Al Mukaramah. Malam semakin hitam ketika seorang pemuda menyenandungkan syair dari atas Ka'bah. Suaranya yang begitu rintih menarik perhatian Al Ashmu'i yang sedang thawaf.
Dia melihat seorang pemuda bergelayut di kiswah Ka'bah. Wajahnya tampan dan mencirikan orang baik-baik. Di atas kepalanya ada dua jambul hijau, “Wahai Tuanku, mata telah terpejam dan bintang bintang telah terbenam,” kata pemuda itu.
Al Ashmu'i mendengarkan dengan seksama apa yang sedang ia ungkapkan. Suara pemuda itu semakin terang dan nyata. “Sementara Engkau, tetap hidup dan mengurusi diri sendiri.”
Pemuda itu terus melanjutkan munajatnya. Dia menangis, memecah keheningan seolah-olah ada masalah sebesar gunung di pundaknya.
“Para raja telah menutup pintunya, bahkan ketat terjaga. Sementara pintu-Mu senantiasa terbuka bagi para peminta. Aku, seorang pemohon yang datang ke hadapan-Mu.”
Semakin panjang kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya, semakin kuat pula rintihannya.
“Aku Menunggu rahmat-Mu wahai Zat yang Mahapengasih di antara yang pengasih. Kasihanilah aku, ampunilah dosaku. Janganlah Engkau haramkan aku dari melihat kakekku, qurrota aini kekasih-Mu, orang pilihan-Mu, Muhammad, di rumah-Mu yang mulia”
Al Ashmu’i mulai memelankan langkah thawafnya, ia lalu mendengar senandung syair yang cukup panjang:
Wahai harapanku, wahai penghapus dukakuAmpunilah dosaku dan penuhilah kebutuhankuBekalku sedikit dan aku pun menangisJarak yang harus ku tempuh masih begitu jauhAmalku masih buruk dan hinaSeolah di dunia ini tak ada yang berdosa melebihi dirikuAkankan Engkau membakarku di neraka, wahai puncak harapanLantas, di manakah harapanku pada-Mu?Mana cinta untukku?Al Ashmu’i mendengar pemuda itu mengulang bait-baitnya dan menyaksikan tubuhnya gemetar hingga jatuh ke tanah. Dia pun mendekati pemuda itu lalu dengan jelas melihat wajah Ali bin Husain-Zainal Abidin, cicit Rasulullah.
Al Ashmu’i mendudukkan kepala Sayyidina Ali Zainal Abidin ke pangkuannya. Air matanya tak terasa mengalir hingga jatuh ke pipi Sayyidina Ali Zainal Abidin, “Mengapa engkau sampai menangis sperti ini?” tanya Al Ashmu'i.
Sebelum pemuda gagah itu menjawab, Al Ashma’i meneruskan perkataannya, “Bukankan Allah berfirman: Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa mu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Ali Zainal Abidin menguatkan badannya untuk duduk dan menjelaskan bahwa Allah menciptakan neraka bagi siapa pun yang bermaksiat pada-Nya meskipun seorang raja. Allah juga menyediakan surga bagi hamba yang taat meskipun ia seorang budak Habsyi.
“Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman, ‘Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya’,” tutur Ali Zainal Abidin sebagimana dinukil dari As Samarqandi dalam bukunya versi bahasa Indonesia berjudul 200 Motivasi Nabi dan Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa.
(bal)