LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak
lansia menolak memeriksakan
kesehatannya di laboratorium karena takut penyakitnya ketahuan. Rasa takut periksa kesehatan memang lumrah terjadi. Namun, bila dibiarkan terus menerus, malah bisa mengakibatkan munculnya masalah baru.
Founder Klinik Spesialis Bedah Metro Kuningan Kuliner SDP Group (Tasty Donuts dan Liwet SiDemplon), dr Asep Hermana, SpB, FInaCS MM mengatakan rasa takut menjadi penghalang lansia untuk menelusuri dan mencari potensi penyebab masalah kesehatan.
Baca juga: 4 Adab ke Orangtua Lansia yang Bersikap Kekanak-kanakan"Jadi, yang ingin saya sampaikan ketika seseorang menghindari mencari penyakit dari awal potensi itu ada maka akan berhadapan dengan risiko buruk ketika penyakit tersebut ditemukan," ujar dr Asep pada Kajian MQ Pagi yang disiarkan secara daring, Sabtu (29/10/2022).
Dia lalu memaparkan dampak buruk ketika seseorang tidak mau memeriksa tubuhnya sejak awal.
"Ketika seseorang tidak mau memeriksa
gula darahnya sejak awal, suatu ketika akan diperiksa juga gula darahnya sebab kakinya sudah mulai rusak dan tidak sembuh-sembuh. Jika hal itu terjadi maka tingkat kesulitan untuk pengobatan lebih tinggi dan juga memerlukan ahli untuk penyembuhannya," katanya.
Artinya jika terlambat, tingkat kesulitan untuk sembuh akan lebih tinggi, misalnya kaki harus
diamputasi. Di samping itu, penanganannya juga membutuhkan keahlian lain, sehingga tidak hanya cukup dengan minum obat saja.
Kemudian,
fasilitas kesehatan yang dibutuhkan juga lebih lengkap, tidak hanya bisa selesai hanya dengan tingkat Puskesmas.
Berikutnya, modalitas yang dibutuhkan juga lebih banyak misal perlu adanya protista kaki palsu atau buatan dan itu akan lebih tinggi lagi mobilitas yang diperlukan.
Baca juga: Aipda Rohimah, Kumpulkan Receh Demi Receh untuk Tolong Lansia dan Dhuafa"Dan belum tentu fasilitas dan modalitas itu berhasil bisa mengendalikan penyakit tersebut. Artinya begitu dahsyatnya dampak kalau kita tidak berhasil menemukan potensi masalah sejak awal," ucapnya.
Lebih lanjut, dia berkata dampak buruk lainnya adalah waktu yang dipakai untuk terapi akan sangat banyak dan lama, bahkan kemungkinan untuk tidak bisa diterapi juga ada sehingga membuatnya harus mengkonsumsi obat seumur hidup.
"Lalu, presentasi pulihnya juga akan lebih lama, kemudian waktu produktivitas untuk keluarga akan berkurang. Nah, akankah kita di usia lansia mau seperti ini? Sengaja saya ungkapkan karena ini yang menghalangi diri anggapan bahwa kita tidak mau diperiksa karena takut ketahuan penyakit. Padahal jika diketahui dengan taraf yang lebih awal, akan sangat mudah dikendalikan," pungkas dr Asep.
(est)