LANGIT7.ID, Jakarta - Ada hikmah yang bisa dipelajari dari kisah sahabat Rasulullah SAW yang buta. Ialah Abdullah bin Abi Ummi-Maktum yang pantang salat sendirian di rumah.
Pendakwah Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengisahkan, Abdullah bin Ummi-Maktum adalah sahabat Rasulullah dengan keterbatasan fisik. Usianya sepuh dan matanya ditutup oleh Allah untuk tidak melihat maksiat (buta).
Dia datang kepada Nabi SAW, meminta keringanan salat Subuh agar bisa dikerjakan di rumah. Itu lantaran dia kesulitan mendapatkan penuntun ke masjid, khususnya saat waktu Subuh.
"Dari Zuhur sampai Isya dia masih bisa mendapatkan penolong yang menuntunnya ke masjid, kecuali waktu Subuh. Apalagi jarak rumahnya dengan masjid cukup jauh," jelas dia dikanal YouTubenya, Rabu (2/11/2022).
Mendengar pertanyaan dari Abdullah, Nabi tidak mengiyakan dan tidak juga melarangnya secara langsung. Nabi SAW bertanya kepadanya, "Apakah engkau masih mendengar azan?"
"Iya ya Rasulullah, saya dengar," jawab Abdullah. Maka Rasulullah menjawab, "Sepanjang kamu masih mendengar azan, tunaikanlah Subuh di masjid."
Pendiri Quantum Akhyar Institute ini mengungkapkan, ada yang istimewa dari jawaban yang diberikan Nabi kepada Abdullah. Pasalnya, dia adalah seorang yang uzur lagi buta, tapi tetap Rasulullah memintanya untuk berusaha menunaikan Subuh di masjid.
"Maka sejak saat itu, Abdullah bin Abi Ummi-Maktum berangkat ke masjid lebih awal. Bahkan dia yang mengumandangkan azan Subuh sebelum Bilal, hingga dipahami azan Subuh dilakukan sebanyak dua kali," jelasnya.
Bilal bin Rabah adalah orang yang ditugaskan untuk azan saat masa dakwah Rasulullah. Namun khusus waktu Subuh saat itu, azan dilakukan Abdullah bin Ummi-Maktum.
"Sejak saat itulah azannya dua kali, Bilal azan hanya sebagai pengingat saja, tapi azan Subuhnya dilakukan Abdullah bin Abi Ummi-Maktum. Dia sahabat mulia yang fisiknya sudah sepuh, rambut sudah memutih, dan matanya tidak bisa melihat," katanya.
UAH berpesan agar umat Islam di zaman sekarang ini tetap bisa memfungsikan masjid sebagaimana mestinya. Tidak hanya sebagai tempat salat, tapi juga untuk mengumpulkan semua nilai ibadah yang mampu dilakukan.
"Termasuk mengaji Al-Quran, taklim, duduk berkumpul mengenali satu sama lain lantas bersinergi antar sesama kaum muslimin," katanya.
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…" (QS. Al-A'raf: 96).
(bal)