LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren Mahasiswa Al-Hikam merupakan pelopor
pesantren mahasiswa di Indonesia. Pesantren yang didirikan oleh almarhum
KH Ahmad Hasyim Muzadi ini terletak di Depok dan Malang, Jawa Timur.
Di dalam area pesantren terdapat Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ), Pesantren Mahasiswa (Pesma), Pesantren Mahasiswi (Pesmi), Taman Pendidikan Quran (TPQ), dan Bimbingan Baca-Tulis Al-Qur’an (BBTQ).
Sebagai pelopor pesantren khusus mahasiswa, Al-Hikam Depok memiliki tujuan memadukan pendidikan tinggi dengan pendidikan pesantren. Al-Hikam menginginkan terwujudnya kesatupaduan antara ilmu pengetahuan dan agama secara utuh, tanpa dikotomi keilmuan. Maka, keyakinan agama memiliki pijakan ilmiah-rasional dan ilmu pengetahuan senantiasa dinaungi nilai-nilai agama.
KH Hasyim Muzadi pertama kali mendirikan Pesantren Mahasiswa Al-Hikam di Kel. Tulusrejo, Lowokwaru, Kota Malang pada 21 Maret 1992. Sebagai ulama, dia merasa bertanggung jawab berkhidmat kepada umat sebagaimana pesan pendiri Pondok Pesantren An Nur Bululawang, Malang, Kiai Anwar.
Baca Juga: Trensains, Pesantren Berbasis Sains Kolaborasi Muhammadiyah dan NU
“Al-Hikam didirikan sesuai dengan nasehat Guru dari Almarhum Abah Hasyim Muzadi yang bernama Kiai Anwar (Pendiri Pesantren An-Nur Bululawang, Kab. Malang). Abah Hasyim juga melihat bahwa pendidikan agama di kampus sangat minim, sehingga pesantren mahasiswa adalah ikhtiar yang baik bagi mahasiswa/i yang ingin kuliah sambil nyantri,” kata Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok, KH Yusron Shidqi, kepada Langit7.id, Kamis (3/11/2022).
Pria yang akrab disapa Gus Yusron tersebut mengatakan, mayoritas mahasantri yang menimba ilmu Al-Hikam Depok merupakan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Pada awal berdiri, Al-Hikam hanya menerima santri dari kalangan mahasiswa yang belum pernah nyantri. Namun, Al-Hikam tidak menolak jika ada mahasiswa berlatar belakang santri.
“Mayoritas memang dari UI. Ada sebagian yang sudah pernah nyantri, ada juga yang belum. Sebenarnya target kami adalah mahasiswa yang belum pernah mondok, namun jika ada alumni pondok mendaftar, kami akan mempertimbangkan komitmennya saat masuk pondok,” kata putra bungsu almarhum KH Hasyim Muzadi itu.
Kurikulum Al-Hikam DepokGus Yusron menjelaskan, Al-Hikam Depok menerapkan metode pembelajaran dua arah. Para mahasiswa diberi materi-materi sederhana tentang studi Islam. Lalu, mereka diminta mengajukan pertanyaan kritis untuk menghilangkan keraguan mereka tentang Islam.
Baca Juga: Gus Yusron: Pemuda Qur’ani Takut Hati dan Penglihatan Terguncang Maksiat
“Untuk kurikulum lebih mirip fakultas studi islam. Mereka diajari materi-materi sederhana namun dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan sekritis mungkin, karena setiap muslim memiliki pertanyaannya masing-masing,” ujar Gus Yusron.
Pertanyaan kritis bisa melahirkan diskusi. terlebih jika anak-anak muda seusia mahasiswa masih dalam proses pencarian jati diri. Biasanya, mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan kritis yang membutuhkan jawaban logis.
“Menjawab pertanyaan kritis ini sangat penting, karena bisa jadi pertanyaan itu berasal dari keraguannya kepada agama Islam. Kita ikhtiar untuk menjawab pertanyaan mereka, dengan harapan mampu mendorong mereka untuk berislam secara lebih sehat yang ditopang oleh kesadaran diri dan kerelaan hati,” kata Gus Yusron.
Baca Juga: Rumah Kepemimpinan, Pesantren Mahasiswa Bina Pemimpin Masa Depan(jqf)