LANGIT7.ID, Jakarta - Fenomena
gerhana bulan total ternyata memiliki dampak pada Bumi, baik secara geografis maupun astronomis. Lalu apa efeknya bagi kehidupan manusia?
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang Hasanuddin mengatakan, dampak geografis dari GBT di bumi berupa
kenaikan air muka laut.
Sebab, lautan akan mendapat dampak dari gaya tarik ekstra dari
gerhana bulan. Namun dampak ini dinilai wajar dan bukan hanya saat gerhana.
"Tidak hanya saat gerhana saja melainkan saat purnama biasa. Hal ini karena posisi Matahari-Bulan-Bumi berada dalam satu garis lurus," ujar Andi, kepada
Langit7.id melalui pesan singkat, Selasa (8/11/2022).
Baca Juga: 6 Fakta Salat Khusuf saat Terjadi Gerhana, Simak AturannyaAdapun dampak lainnya, kata dia, berupa cahaya bintang yang semula redup akan menjadi terang. Begitu juga bulan akan terlihat lebih terang.
Andi menegaskan, GBT tidak menyebabkan dampak bencana, seperti gempa dan tsunami. Menurutnya, tak ada kaitannya fenomena astronomis dengan geografis.
"Gerhana tidak menyebabkan gempa bumi, tsunami dan erupsi vulkanik karena secara ilmiah belum ada kaitan antara fenomena astronomis dengan aktivitas kegempaan atau seismik," ungkap Andi.
Sebagai informasi, GBT kali ini akan berdurasi 1 jam 24 menit 58 detik dengan umbra sebagian dan total selama 3 jam 39 menit 50 detik. Puncak GBT bisa disaksikan mulai pukul 18.00 WIB, 19.00 WITA, 20.00 WIT.
Meski demikian, jika cuaca mendung maka GBT akan tertutup awan dan sulit untuk disaksikan secara langsung. Sebab, Indonesia kini sedang dalam musim hujan.
"Potensi gagalnya pengamatan GBT kali ini memang cukup besar apalagi beberapa hari ini setiap malam sering berawan," katanya.
"Ada beberapa wilayah yang hujan juga sejak siang-sore hari. Sekiranya nanti malam cuaca kurang mendukung, dapat menyaksikan live streaming dari tempat lain yang mengadakan pengamatan seperti BRIN, Planetarium Jakarta, Falakiyah NU maupun yang lainnya," ujarnya.
Meski berpotensi tak terlihat secara langsung dari Bumi karena mendung, Andi menegaskan salat sunnah gerhana tetap digelar.
"Hanya tak terlihat akibat mendung, GBT sudah dipastikan terjadi. Salat sunnah gerhana tetap dapat digelar meskipun cuaca berawan, asalkan wilayah yang mengalami gerhana secara hitungan astronomis ketinggiannya sudah positif atau di atas ufuk dan masih dalam tentang waktu kontak gerhana," ujarnya.
(bal)