Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 03 Juni 2026
home lifestyle muslim detail berita

3 Pesan Al-Quran agar Rumah Tangga Sakinah Mawaddah Warahmah

Muhajirin Jum'at, 11 November 2022 - 13:25 WIB
3 Pesan Al-Quran agar Rumah Tangga Sakinah Mawaddah Warahmah
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap keluarga muslim pasti mengharapkan kehidupan rumah tangga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah (Samara). Keluarga Samara tidak hanya menjadi semboyan semata, tapi menjadi tujuan dari pernikahan itu sendiri.

Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, sakinah berarti ketenangan, mawaddah artinya kebahagiaan, dan rahmah memiliki makna kedalaman cinta yang melahirkan ketentraman dalam berumah tangga.

Ada tiga pesan yang terdapat dalam Al-Qur’an untuk orang umat manusia yang menginginkan rumah tangga yang Samara. Tiga pesan itu di antaranya:

1. Niat Menikah untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Pernikahan adalah ibadah. Bahkan, menikah disebut menyempurnakan separuh agama, yang menandakan tanggung jawab besar dibalik aktivitas mulia tersebut. Maka itu, pernikahan harus dilandasi dengan niat ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga: Tiga Syarat Utama agar Mendapat Kehidupan Sakinah

Pesan pertama ini terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 21. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum: 21).

UAH menjelaskan, setidaknya ada dua kata dalam bahasa Arab yang merujuk kepada tanda. Pertama, alamat. Kata alamat berasal dari bahasa Arab yang diserap ke bahasa Indonesia dengan pengucapan yang sama.

“(Kata) alamat ini memiliki arti sebuah tanda yang mendekatkan seseorang kepada tujuannya,” kata UAH di Adi Hidayat Official, dikutip Jumat (11/11/2022).

Kedua, ayat. Dalam bahasa Arab, makna pokok tanda, dengan kata ayat, kecuali merujuk pada tanda yang mendekatkan seorang hamba kepada Tuhan. Tanda itu mengharuskan seorang hamba membangun kedekatan lebih dengan Allah Ta’ala.

“Itulah sebabnya mengapa seluruh isi dalam Al-Qur’an kemudian disebut dengan ayat,” ujar UAH.

Baca Juga: Rumah Tangga Nabi Teladan Ideal bagi Umat

Isi Al-Qur’an disebut dengan ayat karena setiap kali membacanya, keadaan seseorang akan semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Hal itu seperti yang termaktub dalam Surah Al-Anfal ayat 2. Allah berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,” (QS. Al-Anfal: 2)

Hal ini pula yang menjadi dasar asma Allah disebutkan sebanyak lima kali pada setiap pergantian waktu dalam sehari. Itu dilakukan untuk memberikan pujian, sebagai parameter bagi jiwa setiap muslim, apakah iman dan getaran itu masih, berkurang, atau bahkan sudah hilang sama sekali.

Kata ayat dalam Al-Qur’an, baik bentuk tunggal maupun jamak, setidaknya disebutkan sebanyak 64 kali. Kaidah dalam tafsir menyebutkan, jika ada informasi dalam Al-Qur’an dibuka dengan kata ayat, maka apa yang disampaikan itu harus bisa menjadikan pembacanya lebih dekat kepada Allah.

Sama halnya dengan ayat tentang pernikahan yang dibuka dengan kata ayat dalam bentuk jamak. Ayat tentang nikah dibuka dengan kata ayat untuk memberikan penekanan niat menikah kepada umat Islam.

"Ini seolah-olah memberi kesan kepada umat muslim, siapapun ingin menjadikan rumah tangga Sakinah Mawaddah wa Rahmah, maka kunci pertama adalah dengan mengawali niat untuk membangun kedekatan kepada Allah. Ini juga berlaku bagi pasangan yang telah menikah belasan maupun puluhan tahun,” tutur UAH.

Baca Juga: Tips Kelola Keuangan Bagi Pasangan Baru Nikah

Hal itu dikarenakan Al-Qur’an memberikan kesan tujuan tertinggi pernikahan bukan hanya menyatukan cinta dan rindu atau sekadar mengumpulkan harta benda. Tujuan tertinggi menikah adalah membangun rumah tangga yang dekat dengan Allah.

“Maka bisa jadi ada yang kurang sempurna dalam kehidupan rumah tangga itu, yang artinya akan dipertanyakan di kemudian hari,” ucap UAH.

Sementara, cara mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui takwa. Takwa disebut sebanyak 240 kali dalam Al-Qur’an. Allah merinci kata takwa untuk mendapatkan Samara dalam kehidupan rumah tangga.

Allah telah mendesain bentuk takwa paling utama dengan ibadah rutin yang dapat meningkatkan kedekatan kepada-Nya. UAH mencontohkan shalat. Seperti yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 2.

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 2).

Baca Juga: Bukan Banyak Harta, Ini 5 Resep Jaga Keutuhan Rumah Tangga

Orang bertakwa dalam ayat itu dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 3, “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugegrahkan kepada mereka.”

“Banyak persoalan besar, mengecil lalu hilang, ketika diadukan di hamparan sajadah kepada Allah,” ujar UAH.

2. Dilarang Mewariskan Sikap Buruk

Seorang muslim dilarang mewariskan sikap buruk kepada keluarganya, terutama kepada anak-anak. Hal ini termaktub dalam Surah An-Nisa ayat 19:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

“Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa: 19)

Menurut UAH, seseorang yang menginginkan rumah tangga aman dan tenteram harus memperhatikan hal tersebut. Tidak boleh mewariskan sikap buruk kepada anggota keluarga. Bisa saja karakter buruk itu berasal sebelum berumah tangga.

“Setiap kita pasti punya kekurangan, itu sebabnya Allah menyebutnya dengan zauj, yaitu sesuatu yang tidak sempurna, yang dipasangkan. Kedua hal yang tidak sempurna ini akan menjadi sesuatu yang baik, jika keduanya dipasangkan bersama,” ujar UAH.

Baca Juga: Satu Dekade Lebih, 5 Keluarga Artis Ini Jauh dari Gosip Miring

Saat menemukan kekurangan pasangan dalam rumah tangga, maka Al-Qur’an telah memberikan nasihat untuk sabar dan tidak terbawa amarah. Bisa saja di balik sesuatu yang tidak disukai ada hikmah besar untuk melengkapi kekurangan yang terdapat pada diri setiap pasangan.

Sebisa mungkin pasangan suami-istri tidak membiarkan ada sengketa dalam rumah tangga. Sengketa yang tidak dihadapi dengan bijak akan menghapus kebaikan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

"Memaafkan adalah lebih baik, karena itu akan membuat pasangan suami istri menuju takwa, dan takwa itu lebih mendekatkan pada Samara,” ujar UAH.

3. Minta Ridha, Maaf, dan Doa dari Kedua Orang Tua

Meminta ridha, maaf, dan maaf kepada kedua orang tua merupakan hal yang sangat penting setiap muslim. Ini untuk mendapatkan keberkahan dalam rumah tangga. Itu termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 23:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS Al-Isra: 23)

Baca Juga: Tujuan Menikah dalam Islam dan Selipan Doa Jadi Keluarga Sakinah

UAH menegaskan, ada baiknya setiap akad nikah selesai, kedua mempelai mendatangi kedua orang tua secara pribadi, bukan sekadar formalitas saja. Datang untuk meminta ridha, maaf, dan doa dari kedua orang tua dan mertua.

“Karena di situlah kemudahan dan keberkahan datang dalam mahligai rumah tangga yang baru akan dibangun,” kata UAH.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 03 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)