LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Wakil Presiden RI,
Jusuf Kalla (JK) mengajak umat Islam di Indonesia menyempurnakan amalan rukun Islam. Rukun Islam tidak boleh hanya dihafal saja, tapi harus ada upaya agar lima poin tersebut sempurna diamalkan di Tanah Air.
“Apa kebutuhan yang sangat mendesak dari umat sekarang ini? sering saya katakan, mari kita semua mempunyai sebuah upaya bersama secara besar-besaran untuk menyempurnakan amalan rukun Islam,” kata JK dalam Konferensi Internasional Pesantren se-Asia Tenggara & Grand Launching Universitas Darunnajah di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ajakan menyempurnakan amalan rukun Islam memang terdengar sederhana. Namun, sebenarnya itu yang menjadi salah satu masalah utama di tubuh umat Islam di Indonesia. Mayoritas umat Islam baru mengamalkan tiga poin rukun Islam yakni syahadat, shalat, dan puasa. Sementara, zakat dan haji baru sedikit yang bisa.
Baca Juga: Kemenko PMK: Zakat Jadi Solusi Finansial Atasi Kemiskinan Ekstrem
“Karena zakat dan haji harus orang mampu secara ekonomi. Padahal, masyarakat kita, mungkin sebagian besar kurang mampu. Jadi, para pemimpin ini berkewajiban menyempurnakan amalan lima rukun Islam. Ialah bagaimana mampu? kita berpikir tentang ekonominya,” ujar JK.
Ajakan ini juga harus disuarakan oleh para dai di seluruh Tanah Air. Sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia, JK mengaku sudah menginstruksikan para khatib memasukkan materi muamalah dalam khutbah. 60% berbicara tentang akidah, fikih, dan dan ibadah. 40% lagi berbicara tentang muamalah.
“Kita harus berbicara muamalah lebih banyak. Perdagangan, industri, pertanian. Tanpa muamalah, maka kita dikuasai oleh sahabat-sahabat kita dari agama lain. Maka itu, kita tidak bisa membayar zakat dengan baik,” tegas JK.
Selain itu, JK mengaku sudah berbicara dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terkait zakat. Zakat tidak boleh hanya berbicara cara mengumpulkan zakat saja. Tapi, menarget lahirnya banyak muzakki perlu menjadi salah satu prioritas.
Baca Juga: Integritas dan Kolaborasi, Upaya Amil Zakat Entaskan Kemiskinan
“Sekarang yang banyak mustahik. Padahal, yang harus diperbanyak adalah muzakkinya. Kembali lagi ukurannya, harus orang mampu. Jadi, apa arah kita? Maka tentu dakwah kita, kita tidak hanya berputar-putar ke ushuluddin, tarbiyah, hadits. Penting, semua penting. Tapi muamalah, juga penting. Para ulama kita, berbicara tentang, marilah kita ikuti kehidupan Rasulullah,” kata JK.
Berbisnis Salah Satu Sunnah RasulullahJK menjelaskan, berdagang atau berbisnis merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW. Sejak umur 13 tahun, Muhammad remaja sudah berdagang sampai berusia 40 tahun. Lalu, usia 40 tahun sampai 63 diangkat menjadi Rasul.
“Artinya, lebih lama berdagang daripada menjadi rasul, 27 tahun, dan 23 tahun. Kalau memang kita konsekuen mengikuti kehidupan Rasulullah, tentu bagian itu juga sangat penting. At-Tijarah Sunnati juga. Baru kehidupan ini lengkap. Tanpa dengan itu, akan terbelakang terus,” ujar JK.
Baca Juga: Rasulullah Cinta Fakir Miskin, Selalu Sedekah Sebelum Penuhi Kebutuhan
Ada dua hal sangat penting yang harus diperhatikan untuk memajukan masa depan umat Islam di Indonesia yakni kewirausahaan (bisnis) dan teknologi. Keimanan dan keislaman dipadukan dengan wirausaha dan penguasaan teknologi akan menghasilkan umat Islam yang maju dan terpandang. Dengan begitu, muzakki akan lebih banyak dari mustahik.
“Jadi, pesantren bukan hanya menciptakan orang-orang beriman, berakhlak, berilmu, mari kita menciptakan orang-orang yang bersemangat mengikuti sunnah Rasulullah, mari kita bersemangat untuk menyempurnakan rukun Islam. jangan hafal saja, amalkan,” kata JK.
Penguatan muamalah ini sangat penting. Menurut JK, 90% orang tidak mampu di Indonesia berasal dari umat Islam. Orang hanya satu orang dari 10 orang kaya. Sebaliknya, dari 100 orang miskin, 90 di antaranya adalah muslim.
“Jangan ada kekayaan yang mau ‘digali’, panggil orang Amerika, panggil orang China. Memajukan ekonomi umat Islam. dan kita bisa, selama semangatnya tinggi,” kata JK.
Baca Juga: Zuhud ala Sadio Mane, Gemar Sedekah dan Tak Mau Hidup Mewah
JK lalu berbicara tentang sosok sang ayah, Hadji Kalla, yang merupakan seorang santri. Saat bersekolah sang ayah sambil berdagang. Hingga pada akhirnya mampu menjadi salah satu pengusaha sukses di Sulawesi.
“Ketika saya ingin berusaha, mengganti dia di perusahaan, cuma satu kata-katanya ‘Nak, pedagang itu kau berfikir sebagai ibadah, bukan untuk kaya. Kaya itu hanya akibat, tapi usahamu harus dengan dasar ibadah, karena berhasil kau pekerjakan orang, dia hidup dengan baik, kalau berhasil kau bayar zakat dengan baik’,” kata JK menirukan nasihat sang ayah.
(jqf)