LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid Pathok Negori Ad Darojat Babatan merupakan salah satu masjid patok negara yang dikenal mempunyai gaya arsitektur khas serta sejarah yang unik. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1774 sebagai pusat pemerintahan wilayah Kesultanan Yogyakarta.
Abdi Dalem Masjid Pathok Negoro Ad Darojat, Muhammad Suhari menjelaskan bagaimana sejarah awal mula pembangunan serta arsitektur dan kegiatan dari masjid yang didirikan oleh Sultan Hamengkubuwono I salah satunya di Babatan.
"Masjid Pathok Negoro Ad Darojat, Kauman Babatan kemudian Sultan Hamengkubuwono I mendirikan Masjid Pathok Negoro berjumlah empat, dalam rangka menjadi pelaksana pemerintahan sebelah timur Kesultanan Yogyakarta," kata Suhari dalam tayangan YouTube JITV Pemda DIY dikutip Selasa (15/11/2022).
Masjid Pathok Negoro Ad Darojat berada di Jalan Babatan, Kalurahan Jomblangan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Masjid ini kata Suhari, juga sebagai pusat pendidikan, pengajaran, dan pusat dakwah agama Islam.
"Kemudian di tahun 1942 masjid beserta penduduk kampungnya dipindah semuanya oleh Jepang, ke Sleman, sehingga masjid ini menjadi kosong hanya tinggal pondasi dan dinding," ujarnya.
Baca Juga: Kisah Mualaf Pasangan Ateis Temukan Kedamaian dalam IslamLebih lanjut, Suhari menuturkan bahwa kondisi tersebut membuat masyarakat menjadi mengusik, karena seluruh bangunan dan penduduknya dipindah ke Babatan Baru dan masjid akan dijadikan panggung ketoprak.
"Sultan Hamengkubuwono IX mohon izin membangun kembali Masjid Pathok Negoro Babatan ini dan dizinkan oleh Ngarso Dalem bahkan diberikan uang untuk memulai membangun kembali. Maka masjid ini diberi nama Ad Darojat, Kauman, Babatan untuk mengenang Ngaso Dalem diabadikan di masjid ini," jelasnya.
Suhari juga mengatakan, terkait fungsi dari keempat Masjid Pathok Negoro semuanya hampir sama di empat masjid dan yang lain masjid statusnya keagungan dalem. Bedanya Masjid Patok Negoro saat itu sebagai batas Ibu Kota.
"Jadi empat penjuru wilayah itu batas Ibu Kota Kesultanan Yogyakarta, sebagai pusat pelaksana pemerintahan wilayah saat itu. Jadi kalau ada sengketa atau permasalahan masyarakat setempat itu diselesaikan di masjid atau hukum surambi," ujar dia.
Hukum surambi sendiri ialah hukum yang dilaksanakan di serambi masjid, dan disaksikan oleh masyakarat yang dilaksanakan oleh pengadilan bernama Pathok Negoro yang melaksanakan hukum kesultanan
"Jadi hakim terendah yang dipasrahi di masjid itu namanya Pathok Negoro, yaitu melaksanakan hukum kesultanan untuk menyaksikan masyakat sekitar saat itu," tambah Suhari.
Baca Juga: Cerita Arie Untung Hampir Pindah Agama Sebelum HijrahSelain sejarah, Suhari juga menjelaskan terkait arsitektur yang ada di masjid. Dia menuturkan, arsitektur yang asli hanya tinggal mustoko yang satu-satunya yang bertahan di masjid ini.
"Dan kalau semua ini sudah baru cuma mengacu kepada arsitektur kesultanan, dari mustoko itu ada tiga trop itu artinya rukun Iman, Islam, dan Ihsan. Jadi puncak manusia itu kalau sudah menjadi Ihsan itu arsitektur masjid keagungan dalem biasanya begitu," kata Suhari.
Selanjutnya, masjid ini juga dibangun dengan menghadirkan kayu untuk jaga-jaganya. Kemudian arsitektur masjid ini juga di desain sebagai masjid ramah lingkungan.
"Masjid ini tidak menggunakan AC dan sebagainya tetapi itu zaman dahulu, di zaman sekarang sudah panas sehingga banyak Masjid Pathok Negoro yang dilengkapi dengan AC," paparnya.
Masjid ini juga memiliki lumbung pangan yang dimulai sebelum pandemi, tepatnya sejak sembilan tahun yang lalu. Lumbung pangan ini untuk menyantuni janda jompo, lansia, dan kaum dhuafa berupa sembako dan beras setiap dua pekan sekali.
"Ya kadang-kadang kami lengkapi minyak, gula, tempe dan sebagainya dari masyarakat yang kaya atau berkecukupan. Mereka selalu menyumbangkan ke masjid untuk kami taruhkan kepada yang berhak menerima," tuturnya.
Suhari juga berharap, masjid ini bisa menjadi pusat solusi masyarakat, untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyakarat.
"Insya Allah akan memperbaiki ekonomi, pendidikan serta memperbaiki akhlak masyarakat kita, karena masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat," tuturnya.
Baca Juga: Cara Halau Overthinking, Psikolog: Pakai Helicopter View(zhd)