LANGIT7.ID-Bagi sebagian besar umat Muslim di dunia, Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah dan ampunan, ditandai dengan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, bagi Lars, seorang pria mualaf yang tinggal di Troms, sebuah kota di wilayah utara Norwegia, Ramadhan memiliki makna yang jauh lebih menantang dan unik. Ia harus menghadapi fenomena alam yang dikenal sebagai Midnight Sun, di mana matahari hampir tidak pernah terbenam selama musim panas di wilayah Skandinavia. Pengalaman puasa perdana ini menjadi catatan sejarah penting dalam perjalanan spiritualnya setelah memutuskan untuk memeluk agama Islam.
Siapa sebenarnya Lars? Ia adalah seorang pria Norwegia asli yang tumbuh dalam budaya dan tradisi Skandinavia yang sekuler. Kehidupannya sebelum mengenal Islam berjalan seperti kebanyakan warga Norwegia lainnya: menghargai kebebasan individu, dekat dengan alam, dan tidak terlalu memikirkan agama. Lars bekerja sebagai seorang insinyur lingkungan, sebuah profesi yang mencerminkan kecintaannya pada alam dan keberlanjutan.
Perjalanannya menuju Islam dimulai dari rasa ingin tahu yang tumbuh secara bertahap. Dalam sebuah wawancara fitur yang dimuat oleh media online Norwegia, Vårt Land, Lars mengisahkan bahwa ketertarikannya pada Islam bermula dari perjalanan wisatanya ke Maroko beberapa tahun lalu. Ia terkesan dengan keramahan masyarakatnya, kedisiplinan mereka dalam beribadah, dan ketenangan yang terpancar dari wajah-wajah mereka saat mengumandangkan azan. Lars kemudian mulai membaca Al-Quran dalam bahasa Norwegia dan berdiskusi dengan komunitas Muslim lokal di Troms. Setelah melalui proses pencarian spiritual yang panjang dan mendalam selama dua tahun, Lars akhirnya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid setempat.
Saat Ramadhan pertamanya tiba, Lars mengaku merasa gugup sekaligus antusias. Tantangan terbesar bukanlah pada rasa lapar semata, melainkan pada durasi waktu puasa yang sangat ekstrem. Di Troms, matahari hampir tidak pernah terbenam selama musim panas. "Saya harus berpuasa selama hampir 22 jam sehari. Waktu berbuka puasa (ifthar) baru tiba sekitar pukul 22.30 malam, dan waktu imsak (mulai puasa) sudah kembali sekitar pukul 00.30 dini hari. Saya hanya memiliki waktu dua jam untuk makan dan minum," kisah Lars dalam sebuah video dokumenter yang dilansir oleh kanal YouTube Muslim Norwegia.
Tantangan
Midnight Sun ini juga diperparah dengan suhu udara yang masih cukup dingin di Troms saat musim panas. Rasa haus menjadi ujian tersendiri bagi Lars, terutama saat ia harus tetap menjalankan aktivitas kesehariannya sebagai seorang insinyur. "Hari-hari pertama sangat berat. Saya merasa sangat lelah dan sulit berkonsentrasi. Tubuh saya menolak perubahan ritme ini," akunya. Namun, ia bertahan dengan motivasi spiritual yang kuat.
Salah satu hal yang paling membantunya melalui Ramadhan pertama adalah dukungan dari komunitas Muslim lokal di Troms. Meskipun jumlahnya sedikit, mereka sangat solid dan saling menguatkan. Lars menceritakan pengalaman hangat saat diundang berbuka puasa di masjid setempat dan rumah rekan-rekan barunya. Rasa persaudaraan dan kebersamaan saat menyantap hidangan buka puasa membuatnya merasa tidak sendirian dalam menjalani ujian tersebut. Solidaritas inilah yang menurutnya menjadi energi tambahan untuk menyelesaikan puasa hingga akhir bulan.
Kisah Lars menjadi inspirasi bagi banyak mualaf muda di negara-negara Barat yang menghadapi kondisi lingkungan serupa. Melalui puasa perdana yang penuh tantangan ini, Lars membuktikan bahwa keyakinan yang kuat mampu melampaui batas-batas fisik yang berat. Ia menutup kisahnya dengan menyatakan bahwa ia merasa jauh lebih kuat dan lebih tenang setelah berhasil melewati bulan suci pertamanya sebagai seorang Muslim. Ramadhan di bawah Midnight Sun telah mengajarkannya tentang ketahanan, kesabaran, dan keindahan persaudaraan universal umat Islam.
(mif)